Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sebagai Anak Madura, Saya Cemburu dengan Anak Sumatera yang Tak Perlu Susah Payah Menyembunyikan Identitas

Abd. Muhaimin oleh Abd. Muhaimin
20 Juni 2026
A A
Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep MOjok.co sumatera

Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai orang Madura, saya agak iri dengan orang Sumatera yang lebih solid dan bebas dalam menjadi dirinya sendiri

Membaca artikel Cak Abdur Rohman yang membagikan tips & trick bagi mahasiswa Madura yang kuliah di Surabaya agar tak jadi bahan ejekan dan tertawaan, saya sangat setuju. Ingat betul bagaimana saya berusaha untuk menghilangkan jejak kemaduraan saya di Jogja, entah dalam penampilan atau dalam percakapan.

Tapi, itu tiga tahun yang lalu, saat lidah saya masih kaku ketika ditanya orang asal mana. Jawa Timur menjadi dua kata yang selalu keluar dari mulut saya untuk tidak menyebut kata Madura, tanpa berbohong. Beberapa orang tidak bertanya lebih lanjut, namun beberapa yang lain bertanya lebih spesifik dan berakhir dengan jawaban sembarang, mulai dari Surabaya, Gresik, Jember, Bondowoso, dsb.

Satu sirkel dengan anak-anak Sumatera

Saya benar-benar tidak mau orang lain tahu bahwa saya adalah orang Madura. bukan karena benci, bukan pula tidak bangga. Saya begitu bangga dengan Madura sebagai tanah kelahiran. Bangga betul. Tapi, karena stigma jelek dan sering direndahkan, entah kenapa saya malu.

Di Jogja, saya meminimalisir untuk bergaul dengan sesama anak Madura. Hanya pada orang-orang yang dekat dan akrab saja, saya nongkrong dan berbincang ria. Karena bagi saya, selain menyembunyikan identitas, berteman dengan orang-orang luar Madura atau luar Jawa, dapat memperluas teman, jaringan, dan koneksi.

Ketemulah saya dengan anak-anak dari pulau Sumatera, Kalimantan, dan Lombok. Nah, yang dari Sumatera inilah yang paling dominan dan setiap hari nongkrong ke sana ke mari. Karena setiap hari banyak ngobrol dengan mereka, akhirnya logat saya sedikit nyangkut, bahkan beberapa diksi pun terpakai.

Saya tidak berbohong. Saya punya bukti. Dalam beberapa kesempatan, orang-orang mengira saya orang Sumatera karena cara ngomong saya. Bahkan yang secara pas menebak orang Madura, ya karena yang nebak orang Madura sendiri. Katanya, logatnya masih kerasa. Haha.

Alih-alih menyembunyikan, mereka malah bangga dengan identitasnya, tak seperti orang Madura

Hampir tiga tahun lamanya saya bersembunyi di balik teman-teman Sumatera, dan selama itu pula saya mulai berenung dan lambat laun akhirnya mulai sadar diri. Nyaris saya lupa pada asal dan identitas saya sendiri.

Baca Juga:

Mati Listrik di Jogja Membuka Kenyataan Bahwa Orang Miskin Membayar Lebih Mahal dari Masalah yang Tidak Mereka Ciptakan

Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau

Kesadaran itu bermula dari maraknya kasus-kasus yang menyeret suku Madura, khususnya yang terjadi di Surabaya. Selain itu, saya juga mulai sering membaca postingan-postingan cendikiawan, aktivis, dan pemuda-pemuda Madura yang aktif membicarakan isu-isu tentang Madura.

Dalam benak saya merenung, mengapa saya malah “kabur”, bahkan sungkan mengakui asal saya. “Jika peduli, maka jadilah seperti mereka,” begitu kira-kira yang selalu tebersit di pikiran.

Ditambah lagi, teman-teman Sumatera saya sesekali sering “bercanda” yang menurut saya itu tetap rasis. Tentu, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh mereka, saya harus menjelaskannya dengan baik dan benar. Agar Madura di mata mereka jadi baik dan benar.

Di situ, saya pun sadar, betapa mereka tetap bangga dengan identitas mereka. Meskipun kasus-kasus serupa di Madura juga tak luput terjadi di daerah mereka, tapi mereka tetap berbicara dengan logat mereka. Mereka tetap lantang menyebut asal mereka.

Jika mereka bisa, mengapa saya tidak. Walaupun saya dengan mereka cukup beda bebannya, sih. Stereotipe pada Madura lebih besar dibanding kepada mereka. Jadi, wajar saja jika tantangan saya lebih besar. Bagi anak Madura yang tak tahan, tentu akan memilih bersembunyi seperti saya.

BACA JUGA: Stereotipe Mahasiswa Sumatera yang Kuliah di Jogja: Dikira Anak Sawit dan Selalu Punya Duit Bejibun, padahal Kami Juga Sering Bokek!

Orang Sumatera di Jogja lebih solid dan saling pengertian, ketimbang orang Madura

Satu hal yang mungkin jadi tantangan juga bagi orang-orang Madura, yaitu solidaritas. Solidaritas bukan cuma berwujud kompak dalam satu komunitas tertentu, membuat ragam acara, menjadwal banyak daftar kegiatan. Tidak. Solidaritas bagi saya adalah rasa persaudaraan yang tinggi, saling pengertian, dan sama rasa.

Dalam hal ini, saya cuma ingin menyinggung sedikit berdasarkan apa yang saya alami saja. Saya menyebut persaudaraan orang-orang Sumatera sepertinya lebih tinggi dari orang-orang Madura, bukan berarti rasa persaudaraan orang Madura tidak ada sama sekali.

Begini, selama hampir tiga tahun saya hidup dengan teman-teman Sumatera, saya beberapa kali dihadapkan dengan fakta bahwa saat mereka tahu bahwa mereka sesama orang Sumatera, semua hal jadi mudah dan murah.

Misal, saya pernah mengajak teman Sumatera saya beli celana ke tempat thrifting. Karena kebetulan yang jual orang Sumatera, dia mendapat diskon. Dan akhirnya saya kecipratan juga. Pernah juga beberapa kali saya ikut makan dengan mereka ke rumah makan Padang, saya juga kecipratan murahnya. Meski di satu kesempatan saya dikecualikan. Tapi, di situlah saya merasakan kedalaman rasa persaudaraan itu.

Sebaliknya, saya tak pernah satu kalipun mendapat perlakuan seperti itu, meskipun saya tak berharap begitu, saat beli di warung Madura atau di pedagang-pedagang lainnya. Bahkan berharap untuk tak usah bayar biaya admin QRIS, dengan cara menunjukkan identitas kemaduraan saya, sama sekali tak bekerja. Aihhh.

Jujurrr, saya sedikit cemburu

Saya sempat berpikir, andai solidaritas persaudaraan kita seperti mereka, paling tidak itu akan membantu menghapus dosa-dosa kelakuan buruk oknum orang-orang kita. Maksudnya, misal saya dan teman Sumatera saya sedang beli rokok di warung Madura, karena saya menunjukkan kemaduraan otomatis, kasih diskon gitu. Seperti mereka ke saya. Hahaha.

Bagi orang-orang Madura yang membaca ini, plis jangan baper, ya. Ini pengalaman saya saja. Saya akan tetap bangga dengan tanah Madura dan kelak saya akan mati lalu dikubur di tanah itu. Jujurrr, saya cuma sedikit semburu.

Penulis: Abd. Muhaimin
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Ironi Mahasiswa Madura di UNESA: Kena Roastingan Rasis Dosen Soal Suku, Malah Ditertawakan Mahasiswa Penjilat yang Cari Muka

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Juni 2026 oleh

Tags: ciri orang maduraJogjaorang maduraorang sumaterasolidaritas orang madurawarung madura
Abd. Muhaimin

Abd. Muhaimin

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Bekerja di Penerbit Erlangga. Asli Sumenep, pemerhati isu sosial dan mahasiswa.

ArtikelTerkait

Kalau Jogja Bikin Muak, Purwokerto ternyata Bikin Saya Menyesal (Unsplash)

Jogja Bikin Muak, Purwokerto Bikin Menyesal: Kisah 2 Kota yang Menjadi Korban Jahatnya Romantisme karena Mengaburkan Realita yang Ada

11 November 2025
Jalan Gedongkuning Lebih Pantas Jadi Pusat Kuliner Soto Jogja daripada Kadipiro Mojok.co

Jalan Gedongkuning Lebih Pantas Jadi Pusat Kuliner Soto Jogja daripada Kadipiro

18 Maret 2024
Jogja Nggak se-Istimewa Itu Setelah Saya Merantau (Unsplash)

Pandangan Saya Terhadap Jogja Berubah Setelah Merantau, Ternyata Kota Ini Nggak Istimewa Amat

22 Mei 2024
Buang Ekspektasi Jogja Kota Sejuk dan Asri. Cuacanya Lebih Panas daripada Surabaya dan Jakarta!

Buang Ekspektasi Jogja Kota Sejuk dan Asri. Cuacanya Lebih Panas daripada Surabaya dan Jakarta!

27 Februari 2024
Ketidakadilan Bagi Warga Bantul Perihal Jarak Tempuh di Jogja (Unsplash)

Ketidakadilan Bagi Warga Bantul Perihal Jarak Tempuh di Jogja

21 Mei 2023
kos jogja

Lika-Liku Anak Kos Jogja (1)

13 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Universitas Merdeka Malang Sering Dipelesetkan Universitas Merana, padahal Layak Diperhitungkan Mojok.co

Universitas Merdeka Malang Sering Dipelesetkan Universitas Merana, padahal Layak Diperhitungkan

19 Juni 2026
Pengalaman Pertama Merantau Kerja di Jakarta: Empat Hari Bolak-balik Tangsel-Jaktim Sudah Trauma Mojok.co

Pengalaman Pertama Merantau Kerja di Jakarta: Empat Hari Bolak-balik Tangsel-Jaktim Sudah Trauma

14 Juni 2026
All New Honda Vario 125 eSP 2018: Motor Matik Kencang, Nyaman, dan Paling Enak Dipakai Harian motor honda blade 110 honda vario 160 supra x 125 vario street suzuki burgman

Vario Street Harus Diakui Lebih Jelek ketimbang Suzuki Burgman, Jika Bisa Beli Salah Satunya, Mending Beli Suzuki Burgman Saja  

14 Juni 2026
3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok Mojok.co

3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok

17 Juni 2026
Mati Listrik di Jogja Adalah Cara Cepat Membunuh Orang Miskin (Unsplash)

Mati Listrik di Jogja Membuka Kenyataan Bahwa Orang Miskin Membayar Lebih Mahal dari Masalah yang Tidak Mereka Ciptakan

20 Juni 2026
Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! pertamina pertamax oplosan

Bisnis Pertashop Jelas Karam: Hidup Segan, Mati Tinggal Menunggu Hari

14 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.