Saya Adalah Salah Satu Korban Iklan Mi Instan Lemonilo yang Ternyata Rasanya Bikin Kecewa – Terminal Mojok

Saya Adalah Salah Satu Korban Iklan Mi Instan Lemonilo yang Ternyata Rasanya Bikin Kecewa

ArtikelFeatured

Mi instan Lemonilo saat ini cukup terkenal dengan klaimnya sebagai mi instan yang sehat tanpa bahan pengawet. Iklannya muncul di mana-mana, baik di televisi maupun internet. Kalau Anda belum tahu sama sekali tentang mi instan Lemonilo, mungkin Anda memang belum pernah nonton TV atau berselancar di dunia maya.

Bagi Anda yang masih belum tahu, mi Lemonilo adalah mi instan produksi PT Lemonilo Indonesia Sehat atau Lemonilo. Warna bungkusnya hijau putih dan warna minya hijau, berbeda dari mi instan pada umumnya. Pihak Lemonilo mengklaim bahwa warna hijau pada mi berasal dari saripati bayam. Sedangkan bumbu yang tersedia nggak jauh beda dengan mi instan lainnya, yaitu kecap, saos, minyak, dan bumbu asin.

Melihat para bintang iklan menikmati mi instan Lemonilo dengan telur mata sapi di tengahnya, jujur bikin saya dan mama penasaran. Gimana rasanya, ya? Kira-kira lebih enak mana jika dibandingkan dengan Indomie atau Mie Sedaap?

Akhirnya, kami pun memutuskan membeli di supermarket terdekat. Ternyata benar saja sesuai iklan “harganya nambah dikit”, ada perbedaan harga sekitar Rp4 ribu dari mi instan yang biasa saya konsumsi. Jujur, saya nggak tahu apa yang membuatnya lebih mahal karena secara ukuran nggak terlalu jauh berbeda.

Mungkin karena mi instan Lemonilo diklaim lebih sehat, jadi harganya lebih mahal. Ya itu mungkin saja, sih.

Baca Juga:  Jika Plankton 'SpongeBob Squarepants' Jadi Member WhatsApp Grup, Tentu Akan Merepotkan Adminnya

Saat memasak mi, saya mengecek air rebusannya, dan memang betul seperti yang ditampilkan di iklan. Air rebusannya jernih dan nggak keruh. Berarti iklan yang ditampilkan bukanlah dusta, melainkan benar-benar nyata. Termasuk juga tampilan mi yang memang berwarna hijau.

Lantas, apa yang dusta dari iklan Lemonilo?

Yang dusta adalah rasanya. Maaf, rasa mi instan Lemonilo kurang cocok dengan lidah saya. Kasarnya, mi ini sama sekali nggak enak. Jujur saja saya kecewa harus keluar uang lebih hanya untuk membeli makanan yang kurang enak. Rasa minya eneg dengan bumbu yang terlalu kuat.

Ekspetasi saya, rasa mi goreng Lemonilo sangat enak seperti Indomie goreng. Namun ternyata hasilnya nggak sesuai ekspektasi.

Mohon maaf kepada pihak Lemonilo kalau review ini terlalu menyakitkan bagi Anda, tapi saya adalah orang yang nggak bisa bohong soal rasa. Kalau memang enak, saya bilang enak. Kalau nggak enak, ya saya bilang nggak enak. Semoga sedikit review ini bisa jadi kritik membangun dan bahan evaluasi bagi Lemonilo agar memperbaiki cita rasa dari produk mi yang dijual.

Di sisi lain, saya mencoba berpikir positif. Mungkin saja rasa yang kurang nendang ini memang menandakan mi instan Lemonilo adalah mi yang benar-benar sehat sesuai apa yang diiklankan. Karena harus diakui, sebenarnya makanan sehat adalah makanan yang nggak enak.

Baca Juga:  Sulit Dibantah kalau Sisca Kohl Adalah Seorang Konten Kreator yang Jenius!

Bagi yang pernah sakit dan pernah dirawat di rumah sakit pasti setuju dengan pernyataan tersebut. Makanan rumah sakit memang nggak enak karena dibuat tanpa bahan pengawet. Berbeda dengan makanan cepat saji yang rasanya enak, tapi dibuat dengan bahan pengawet yang sangat membahayakan kesehatan tubuh.

Itulah sedikit cerita saya ketika membeli dan memasak mi instan Lemonilo sampai mencicipi langsung rasanya. Hahaha, sudah kayak food blogger saja, ya. Pada akhirnya, saya pun menjadi korban iklan dari mie instan Lemonilo. Sebenarnya saya juga ingin mencoba produk kopi Gilux Mix untuk kebutuhan ngopi di rumah. Tapi, karena sudah jadi korban iklan, saya pun mengurungkan niat. Cukup satu kali dikecewakan, jangan berkali-kali seperti dia menyakitiku. Eaaa.

Sumber Gambar: YouTube Lemonilo

BACA JUGA Menanggapi Jagat Maya dan Mahalnya Tiket Pesawat Tidak Perlu Baper dan tulisan Firdaus Deni Febriansyah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
47


Komentar

Comments are closed.