Sarkasme terhadap Generasi Trending

Kita gemar “menyampah” di media sosial untuk mendapatkan pengakuan yang absolut dan ketenaran kontemporer yang sebetulnya fana, lantas menjadi trending,

Artikel

Novri Karyadi Sahputra

Sopan dan santun adalah indentitas bangsa ini, yang perlahan berubah haluan menjadi spam dan santuy. Kita gemar “menyampah” di media sosial untuk mendapatkan pengakuan yang absolut dan ketenaran kontemporer yang sebetulnya fana, lantas menjadi trending. Sampai akhirnya kita menjadi selebtweet atau influencer. Sulit memang menemukan kesopanan dan kesantunan dalam kolom komentar di platform media sosial mana pun.

Andai saja Nadiem Makarim yang “mengerti masa depan” itu sudah menjadi menteri pendidikan sebelum internet sebesar ini, beliau pasti sudah merancang program sopan santun dalam bermedia sosial di pendidikan dasar kita. Niscaya, sila keempat sedang kita nikmati di era digital sekarang.

Sudahlah, tidak berguna juga jika berandai-andai, setidaknya kita adalah generasi santuy bukan? Biarkan saja akal jari kita berdansa di atas ponsel pintar kita. Tidak perlu memikirkan perasaan orang lain, pun tidak perlu sok paling benar menasehati generasi sekarang. Toh tidak juga mempengaruhi yang bersangkutan, lagi pula ini kan negara demokrasi.

Ya begitulah, banyak hal yang dapat kita jadikan sebagai tameng yang jauh dari substansi. Namun terlihat masuk akal karena dibumbui dengan bahasa yang sok akademik nan arogan sehingga terjadilah penggiringan opini yang membuat kita menjadi generasi latah.

Wajar tidak saya sebut kita generasi latah? Wajar saja saya pikir mengingat kita bukan lagi generasi pecandu kokain, tapi pecandu konten. Di samping itu, kita semua memiliki passion yang sama: komen.

Jika Anda tidak setuju, coba saya tanya, tidakkah Anda ikut nimbrung saat Netijen Kesatuan Republik Indonesia ini memiliki public enemy? Inilah akar penyakit dari penghujatan duniawi. Kita selalu memandang suatu drama secara subjektif.

Namun kalau dipikir-pikir, apa jadinya Netijen Kesatuan Republik Indonesia ini tanpa drama? Bisa-bisa kita tidak mempunyai bahan untuk berjulid-ria dan akan sangat memprihatinkan sekali orang-orang kreatif di Twitter saat ini. Mereka tidak akan memiliki bahan untuk membuat meme atau tweet receh, yang kemudian di-repost oleh akun tweettagram untuk menambah pundi-pundi kekayaan.

Admin-admin tweettagram itu gemar menampung “sampah” di Twitter untuk mendapatkan pengakuan media sosial yang absolut dan ketenaran kontemporer, sampai akhirnya trending, mereka memiliki engagement rate yang tinggi dan sukses menjadi media partner. Panjang umur pembajakan!

Tidak hanya menjadi generasi latah, perilaku sosial maya ini juga membentuk sifat yang plin-plan, tidak berani mengambil sikap. Beropini demi eksistensi dilakukan sekali, tapi pembelaan diri dilakukan berkali-kali. Sebab kita semua mungkin sudah menyadari bahwa sudah tidak ada lagi titik tengah bagi kebijaksanaan. Sebab, kita terlalu sibuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Oleh karena itu, di zaman sekarang kata “kritis” bukan lagi primadona.

Maka kita sudah sepakat dari awal, berselancar di media sosial bukanlah untuk mencari suatu kebenaran, melainkan panggung perhelatan silat jari antar dua kubu yang beradu atas suatu fenomena. Pemenang di antara kedua-belah kubu ini biasanya diukur dari kubu mana yang paling mayoritas.

Kita masih percaya bahwa kebenaran mutlak adalah kebenaran yang berasal dari kubu mayoritas. Kita sudah mulai tidak percaya pada media pemberitaan yang kredibel dengan alasan hoaks. Padahal, nyatanya hoaks banyak berkembang dari kelompok mayoritas itu sendiri, yang dengan infonya telihat masuk akal karena dibumbui dengan bahasa yang sok akademik nan arogan sehingga terjadilah penggiringan opini.

Kita juga lupa atau mungkin tidak tahu bahwa hakikat dari kebebasan masih memiliki batasan dan tanggung jawab. Masalahnya adalah kita bukanlah sekelompok homo sapiens modern yang paham akan hal itu. Kita tidak mau dinasehati karena kita merasa nasehat sama dengan mengatur. Akui saja bahwa kita memang manja dan selalu ingin menang sendiri. Perlahan membentuk kita menjadi orang-orang yang tidak peka dan berperilaku cuek.

Perilaku cuek di dunia maya ini yang akhirnya menular ke kehidupan nyata kita. Kita cuek terhadap lingkungan, cuek terhadap tradisi budaya, cuek terhadap moral, cuek dengan tata krama, dan cuek dengan apa yang dikatakan orang lain. Ya, untuk yang terakhir itu tentu kita harus cuek. Itu kunci kesuksesan.

Lalu apa yang benar? Saya tidak tahu. Kita hidup di mana kita disuguhkan banyak pilihan. Benar dan salah sudah tidak ditimbangan yang sama lagi. Semua sama benarnya dan semua sama salahnya. Pertanyaan sebenarnya adalah Anda, saya, dan mereka berada di kubu yang mana? Tidak perlu muluk-muluklah berbicara soal ideologi, sekarang ideologi sudah dapat sefleksibel klarifikasi. Saya yakin masalah dan perilaku sosial seperti sekarang ini sudah ada sejak dulu. Bedanya adalah, di zaman ini kita lebih narsistik.

Tenang saja, sikap sinis saya ini bukan untuk menyudutkan generasi sekarang. Ini bukan salah kita. Ini salah pemerintah. Panjang umur antek-antek kambing hitam! Bukan. Ini bukan soal politik. Saya tahu itu menarik, tapi perilaku sosial lebih menggelitik.

BACA JUGA Twitter adalah Rumah dari Media Sosial atau tulisan Novri Karyadi Sahputra lainnya.

Baca Juga:  Memangnya Alay Ya Kalau Sering Merekam Ini dan Itu?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
451 kali dilihat

19

Komentar

Comments are closed.