Baso Aci: Masterpiece Asal Garut – Terminal Mojok

Baso Aci: Masterpiece Asal Garut

Artikel

Naili Rahmah

Gambaran Umum Baso Aci Garut

Kalau kata pembimbing skripsi saya, semua hal dimulai dari gambaran umum.

Bakso dalam bahasa Indonesia adalah makanan yang terbuat dari gilingan daging, dicampur dengan tepung kanji dan putih telur, yang biasanya dibentuk bulat-bulat. Lalu apa sebenarnya baso aci ini? Tidak terbuat dari daging tapi berbentuk bulat-bulat. Berbentuk bulat-bulat tapi tidak ada campuran daging, pakai tepung kanji, tapi bukan campuran, melainkan hampir keseluruhan basonya terbuat dari tepung kanji. Jadi kuliner ini sebenarnya tidak sepenuhnya bakso, tapi tetap baso aci. Gimana? Masih bingung? Hehehe.

Ehm, jadi begini. Bakso aci atau yang biasa kita sebut dengan baso aci adalah salah satu kuliner khas Garut yang sampai saat ini masih digandrungi oleh banyak kalangan. Kuliner ini terbuat dari tepung kanji atau yang biasa orang sunda sebut aci. Secara tampilan, makanan ini ini sangat mirip dengan cilok kuah. Namun, kedua kuliner khas Jawa Barat tersebut mempunyai penyajian dan rasa yang berbeda. Ia mempunyai ciri khas kuah yang gurih, asam dengan aroma kencur yang menggugah selera.

Jika mengunjungi Garut, baso aci adalah salah satu jajanan yang wajib dinikmati. Kita dapat menyambangi warung-warung baso aci di Kota Garut yang jumlahnya mencapai ratusan. Sebut saja salah satu yang paling populer di kalangan pecintanya yaitu Warung Baso Aci Ceu Imas yang berlokasi di Jalan Karacak No.49, Kota Kulon, Kabupaten Garut. Baso Aci Ceu Imas memiliki kuah yang khas dengan perasan jeruk limau dan taburan ayam suwir. Untuk menikmati semangkuk baso aci khas Ceu Imas, pelanggan harus rela berlama-lama menunggu dalam antrian pelanggannya harus adu cepat untuk berada dalam antrian dengan pelanggan lain yang berasal dari dalam dan luar Kota Garut.

Sama halnya dengan cinta, makanan enak harus diperjuangkan.

Tidak hanya di Garut saja, kuliner berbentuk bulat-bulat dan bertekstur kenyal ini sudah mulai merambah ke pasar nasional. Pasalnya, penggemar makanan ini kini tidak hanya terbatas penduduk Kota Garut saja. Bahkan, beberapa pengusaha kuliner di kota-kota lain, seperti Semarang, Tasikmalaya, Bandung, dan kota-kota di luar pulau Jawa pun sudah mulai memproduksi dan menjajakan baso aci dengan inovasi penyajian, kemasan, dan cita rasa yang beragam. Di Indonesia sendiri, kuliner ini mulai populer sejak tahun 2016.

Dari Garut, oleh Garut, untuk Indonesia.

Beberapa tahun ke belakang, lidah kita sudah dibuat kebarat-kebaratan dengan populernya bumbu-bumbu dan bahan tambahan dari negara luar. Sebut saja ayam penyet mozarela, bakso mercon mozarela, nasi goreng mozarela, sate ayam mozarela, ikan asin mozarela, tahu aci mozarela, dan mozarela-mozarela lainnya. Maka, tidak heran apabila lidah kita rindu dengan masakan bercitarasa lokal. Rasanya seperti pulang kepangkuan ibu sambil disuapi baso aci setelah tur keliling Benua Eropa.

Baca Juga:  Memanusiakan Manusia

Makanan paling enak adalah makanan ibu kita sendiri, makanan ibu kita sendiri adalah makanan paling enak.

Kuah Gurih Bercitarasa Asam

Salah satu hal yang membekas dalam ingatan setiap penikmat baso aci adalah kuahnya yang bercita rasa khas.  Kuah panas yang bercita rasa asam dan gurih memberikan kesegaran bagi lidah siapapun yang menikmatinya. Kuah ini kalau dirasakan di lidah saya, lidah kamu, lidah orang ketiga di antara saya dan kamu, saya yakin sama segarnya.

Kuah kuliner ini diracik dengan bumbu-bumbu yang sudah biasa kita temui di pasar tradisional, dengan komposisi antara air, garam, bumbu-bumbu dan rempah, kaldu, ebi, dan daun jeruk menghasilkan kuah hangat yang pas di lidah dan tenggorokan. Kuahnya rasanya hampir mirip dengan kuah seblak. Rasa gurih kaldu baso aci dengan tambahan kencur menghasilkan cita rasa rempah yang Indonesia sekali. Bayangkan kalau semangkuk kuah gurih ini dinikmati bersamaan dengan baso aci yang kenyal dalam keadaan hangat-hangat di waktu hujan.

Selain itu, yang membuat yang spesial adalah penyajiannya yang disandingkan dengan jeruk limau. Jangankan kuah baso aci, kuah mi instan jika ditambah perasan jeruk limau juga pasti sedap. Semua makanan berkuah jika diberi perasan jeruk limau rasanya jadi makanan enak. Bayangkan kalau semangkuk kuah gurih dinikmati bersamaan dengan baso aci yang kenyal dan perasan jeruk limau yang segar dalam keadaan hangat-hangat di waktu hujan.

Sebentar, kurang apalagi ya?

Sambal?

Tepat sekali!

Bagi warga negara tercinta Indonesia ini, belum makan rasanya kalau belum makan dengan tambahan sambal. Apalagi kuliner-kuliner berkuah. Sambal adalah jodoh bagi kuliner kuah, jodoh selamanya, seumur hidup! Baso aci adalah kuliner berkuah. Bayangkan kalau semangkuk kuah gurih nan pedas dinikmati bersamaan dengan baso aci yang kenyal dan perasan jeruk limau yang segar dalam keadaan hangat-hangat di waktu hujan. Bayangkan!

Baso aci, tahu aci, ceker, tetelan, cuanki lidah, sukro cikur, ayam suwir, toppingnya pilih saja, semua ada di meja~

Saya pernah ditanya oleh seseorang perihal keberagaman dalam suatu kelompok, apakah keberagaraman adalah hal yang baik untuk keberlanjutan kelompok tersebut? apakah keberagaman tidak akan menghambat pencapaian tujuan-tujuan dari kelompok tersebut? Saya menjawab dengan mantap bahwa keberagaman adalah hal yang menyenangkan. Bayangkan jika kelompok itu adalah semangkuk baso aci dan segala isinya.

Baca Juga:  Garut Bukan Cuma Dodol dan Makam Hitler, Ada 10 Makanan Khas Garut yang Enaknya Nauzubillah

Semakin beragam, semakin kaya akan rasa. Baso aci tanpa topping sudah enak. Sementara itu kalau ia ditambah tahu, ceker, tetelan, cuanki lidah, sukro cikur, dan ayam suwir, pasti lebih nikmat. Kenikmatan ini berasal dari keberagaman rasa dan tekstur dari setiap jenis topping. Penambahan sukro cikur misalnya, selain sebagai tambahan rasa kencur, bahan tambahan ini juga menghasilkan tekstur yang berbeda dari bahan-bahan lainnya. Sukro cikur dalam semangkuk makanan ini, sama halnya dengan pangsit dalam semangkuk mi ayam, kerupuk udang dalam dalam sepiring nasi di pesta perkawinan, juga kerupuk dalam piring nasi uduk. Lagi-lagi ini soal jodoh. Sukro cikur, sejak awal memang sudah ditakdirkan untuknya.

Tapi kak, saya nggak suka sukro cikur!

Bagi yang tidak suka sukro cikur, bisa memilih topping lainnya, seperti ceker. Bagi yang tidak suka ceker, bisa pilih topping yang lain selain ceker. Teman, yakinlah hidup ini sangat-sangat simpel, janganlah sekali-kali dibuat susah. Dari banyaknya jenis topping untuk bakso aci, jangan terpaku pada ceker ataupun sukro cikur saja. Dari banyaknya pria di luar sana, jangan mempertahankan dia yang tidak setia. Ya.

Sebagai manusia yang lemah akan makanan lezat dan keindahan alam, tentu saya tidak kuasa untuk menolak kombinasi antara hangatnya kuah baso aci, ditambah dengan suasana asri dan dinginnya kaki Gunung Cikuray. Jangankan ditawari situasi seperti itu, tidak ditawari pun saya mau.

Gunung Cikuray adalah gunung kawah aktif yang berlokasi di Dayeuhmanggung, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Iklim di daerah gunung Cikuray termasuk kedalam iklim tropis basah dengan temperatur udara yang berkisar antara 10 hingga 24. Temperatur yang dingin, seperti daerah dataran tinggi pada umumnya, membuat daerah ini menjadi lokasi yang tepat untuk menikmati kuah hangat dan pedas dari semangkuk baso aci yang ditemani dengan teh hangat.

Satu hal terakhir yang ingin saya sampaikan pada penduduk Kota Garut yaitu ucapan terimakasih karena telah menciptakan masterpiece bernama baso aci.

BACA JUGA Indomie, “Dalemannya” dan Bukti Kuliner Laris Orang Kota atau tulisan Naili Rahmah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
3


Komentar

Comments are closed.