Ramai-Ramai Lem Aibon 82 Miliar, Apa Nggak Sebaiknya Kita Beli Lem Glukol Aja?

Saya heran, ngapain harus ada lem Aibon di kolom belanja Alat Tulis Kantor? Harganya Rp184.000 pula! Maksud saya, kenapa nggak beli lem Glukol aja?

Featured

Aprilia Kumala

Dari cuitan William Aditya Sarana, anggota DPRD DKI Jakarta, masyarakat Indonesia jadi heboh. Ya gimana nggak heboh, lah wong cuitannya berupa informasi yang bikin melongo: dalam anggaran DKI Jakarta, khususnya di Dinas Pendidikan, ada alokasi sebesar 82 miliar rupiah dengan keperluan berupa…

lem Aibon.

Dalam kolom “Belanja Alat Tulis Kantor”, lem Aibon disebutkan memiliki harga sebesar Rp184.000. Angka ini kemudian dikalikan sebanyak 12 kali (jumlah bulan dalam satu tahun) dan jumlah orang yang ditujukan (37.500 orang). Sederhananya, Dinas Pendidikan mensuplai 2 kaleng lem aibon per murid setiap bulannya.

Dikutip dari Tirto, Sekretaris Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Susi Nurhati, menyebutkan bahwa hal ini bisa saja merupakan salah ketik. Mana mungkin ada pengadaan lem Aibon untuk siswa sekolah? Begitu pikirnya.

Ah, jangankan Bu Susi. Saya sendiri juga heran, ngapain harus ada lem Aibon di kolom belanja Alat Tulis Kantor??? Harganya Rp184.000 pula! Maksud saya….

…kenapa nggak beli lem Glukol aja??? Ukuran yang kecil harganya paling-paling cuma seribu lima ratus rupiah—itu pun sering bertahan lama. Biasanya nih ya, lem Glukol yang dibeli waktu kita kelas 3 SD, masih tersisa 85% saat kita kelas 6 SD.

Yah gimana lagi, soalnya kan cuma dipakai pas pelajaran Kesenian doang.

Lem Aibon, asal tahu saja, merupakan lem multi-talented yang cakupannya jauh lebih luas daripada sekadar ATK. Ia dipakai untuk merekatkan kayu, melamin, logam, beton, kulit, tambal ban, plastik, papan fiber, hati yang patah, dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, ngapain bawa-bawa lem kayu ke sekolah kalau cuma mau dipakai buat nempelin potongan kertas berbentuk buah nanas ke buku gambar??? Hmm???

Dibanding Aibon, lem Glukol lebih sering mewarnai hidup saya semasa sekolah. Saya nggak tahu dulu kamu pakai Aibon, Alteco, atau bahkan UHU, tapi untuk lem sekelas “lem-yang-dibawa-ke-sekolah”, Glukol selalu jadi andalan saya.

Baca Juga:  Alasan Teman Saya yang Orang Muhammadiyah Tidak Direstui Menikah dengan Orang NU

Ukuran Glukol ada yang kecil, ada juga yang besar. Biasanya, kita dapat “sendok” lemnya, alias plastik kecil untuk mengoleskan lem ke permukaan kertas agar jari kita nggak berbau dan berujung pada kegabutan kita ngeletekin lem yang mengering di tangan.

Kalau dalam anggaran DKI tadi tertulis lem Glukol, saya rasa harganya bakal jadi jauh lebih murah. Dengan asumsi Glukol ukuran kecil seharga RP1.500, total biayanya bakal terpangkas hebat, dari 82 miliar menjadi 675 juta rupiah. Selisihnya besar—bisa dipakai untuk membeli hal-hal lain, misalnya beli plastik kecil untuk ngolesin lem. Apa pasal? Yah, soalnya biasanya Glukol ukuran kecil nggak menyediakannya sekaligus.

Lagi pula, Glukol dan Aibon punya jenis packaging yang berbeda. Kalau lem Aibon identik dengan bungkusnya yang berupa kaleng, Glukol lebih merakyat dengan botol berbahan plastik. Saya rasa, semua orang bisa dengan mudah membuka bungkus Glukol dan dengan segera mengakses cairan-cairan lengket dan sedikit kental; berwarna putih di dalamnya. Tolong jangan berpikiran aneh-aneh—kita kan sedang berbicara soal lem.

Dari tampilannya saja, lem Glukol terlihat lebih nasionalis. Lihat saja sendiri: botol putih, tutup merah. Dari jauh, warnanya jelas: merah-putih, kayak bendera yang dinaikkan setiap upacara hari Senin. Sudah jelas, lem Glukol adalah lem kertas terbaik yang dapat membangkitkan rasa cinta tanah air. Lah, Aibon mana ada yang merah-putih?!

Bahan dasar pembuatan lem Glukol, sementara itu, adalah kanji. Bahan ini konon lebih mudah terjangkau dan murah. Ini kan jelas beda sama Aibon. Mana bisa Aibon dibuat dari kanji? Yang ada, Aibon dibuat dari daging sapi!

Eh, itu kan abon. Hahaha.

Tapi, yah, sudahlah. Dinas terkait toh sudah mengakui bahwa anggaran lem Aibon tadi hanyalah hasil dari “salah input”. Ini sedikit banyak mengingatkan saya pada aksi “salah ketik” terkait masalah UU KPK beberapa saat lalu. Lantas, saya jadi bertanya-tanya…

Baca Juga:  Menghargai Keberadaan Waria yang Ada di Sekitar Kita

…apakah quarter life crisis yang selama ini menerpa kita semua memang nggak ada apa-apanya dibandingkan tekanan hidup para pekerja di lembaga pemerintahan, sampai-sampai mereka harus mengalami salah ketik dan salah input melulu, ya?

BACA JUGA Akal Sehat dan Lowongan Kerja Abal-Abal atau tulisan Aprilia Kumala lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
26


Komentar

Comments are closed.