Setiap mendekati Lebaran, ada satu fenomena yang selalu berulang. Orang-orang yang sepanjang tahun hidup biasa saja tiba-tiba berubah menjadi aktor panggung sosial. Pulang kampung bukan lagi sekadar perjalanan untuk bertemu keluarga. Ia berubah menjadi semacam pertunjukan status. Sebuah momen di mana setiap orang ingin terlihat berhasil, terlihat mapan, terlihat lebih tinggi dari kenyataan hidupnya.Di tengah tekanan sosial itu, lahirlah keputusan yang sering terasa ganjil namun dianggap wajar: rental mobil hanya demi pulang kampung.
Bukan karena benar-benar butuh kendaraan. Bukan karena alasan logistik. Tapi karena gengsi. Sekali lagi, gengsi.
Kampung halaman sering digambarkan sebagai tempat paling hangat. Tapi realitas sosial sering lebih rumit dari itu. Kampung yang terlihat sederhana, ternyata jadi panggung yang menciptakan tekanan sosial bagi pelakunya. Dan semua tentu saja dimulai karena satu hal: gengsi.
Gengsi membuat orang tidak berpikir jernih. Datang dengan motor, tak meyakinkan. Kereta, ah, nggak. Bus? Apalagi, kayak orang susah. Di sinilah mobil jadi opsi paling meyakinkan sekaligus paling sulit, sebab ya, kan nggak punya, gimana nggak sulit?
Rental mobil jadi solusi paling cepat, paling mudah, dan paling murah. Awalnya terlihat seperti itu, dan waktu mudik Lebaran pun, tiba-tiba, rasa percaya diri meningkat. Kelihatan kalau sudah jadi orang lah. Padahal di balik itu, ada bom waktu yang siap menghantam tepat di muka sewaktu Lebaran usai.
Rental mobil, logika keuangan yang mendadak menghilang
Rental mobil saat Lebaran sebenarnya justru bukan perkara murah. Harga sewa pasti melonjak drastis, karena ya permintaan tiba-tiba tinggi. Belum lagi biaya bahan bakar, tol, parkir, dan berbagai kebutuhan perjalanan lainnya. Semua itu bisa menguras uang dalam jumlah besar hanya untuk perjalanan beberapa hari. Makanya, rental mobil sebenarnya bukanlah keputusan yang bagus.
Ironisnya, banyak orang yang mengambil keputusan ini justru berada dalam kondisi finansial yang tidak terlalu stabil. Tabungan tipis. Penghasilan pas-pasan. Bahkan, kadang harus berutang demi menutup kebutuhan Lebaran.
Dalam situasi seperti itu,rental mobil demi gengsi sama sekali tak rasional, dan malah jadi simbol kepanikan sosial. Sebuah keputusan yang diambil bukan karena kebutuhan nyata, tapi karena rasa takut terlihat biasa saja.
Mobil sebagai simbol ilusi kesuksesan
Mobil di Indonesia memiliki makna sosial yang jauh lebih besar dari sekadar alat transportasi. Ia sering diperlakukan sebagai indikator status. Oleh karena itu, muncul dorongan untuk menampilkan simbol tersebut di momen yang dianggap penting, salah satunya, Lebaran.
Masalahnya, simbol sering menipu. Mobil rental bisa membuat seseorang terlihat mapan selama beberapa hari. Tapi setelah kembali ke kota, realitas hidup tetap sama. Cicilan tetap ada. Tagihan tetap menunggu. Kehidupan sehari-hari tetap berjalan dengan segala keterbatasannya. Simbol itu hanya bekerja di permukaan. Ia tidak mengubah kenyataan hidup, dan justru mempersulit hidup di kemudian hari.
Yang perlu kita ketahui, sebenarnya, gengsi kadang tidak lahir dari kesombongan. Kadang ia lahir dari tekanan sosial yang sangat halus tetapi sangat kuat. Ada rasa takut dianggap gagal. Takut dibandingkan dengan saudara lain yang terlihat lebih sukses. Takut menjadi bahan pembicaraan tetangga.
Lingkungan sosial di banyak kampung masih sangat peka terhadap simbol-simbol ekonomi. Siapa datang dengan mobil, siapa datang dengan motor, siapa datang naik bus, ini jadi hal yang penting. Hal-hal semacam itu bisa menjadi bahan obrolan berhari-hari. Di situlah banyak orang akhirnya menyerah. Mereka memilih menciptakan ilusi sementara daripada menghadapi kemungkinan penilaian sosial yang menyakitkan.
Konsumsi yang didikte oleh pandangan orang lain
Fenomena rental mobil demi gengsi sebenarnya memperlihatkan satu masalah yang lebih dalam: banyak keputusan finansial tidak lagi didorong oleh kebutuhan pribadi. Ia didorong oleh persepsi orang lain. Orang membeli sesuatu bukan karena membutuhkannya, tetapi karena takut terlihat tidak memilikinya.
Dalam kasus mudik Lebaran, mobil menjadi simbol yang paling mudah terlihat. Ketika satu orang datang dengan mobil, tekanan sosial mulai menular. Orang lain merasa harus melakukan hal yang sama agar tidak terlihat tertinggal. Akhirnya terbentuk lingkaran konsumsi yang tidak rasional.
Yang paling ironis dari semua ini adalah betapa singkatnya efek gengsi tersebut. Mobil yang dipakai mudik mungkin hanya bertahan beberapa hari di kampung. Setelah itu semua kembali normal. Tetangga kembali pada kehidupan mereka. Obrolan kampung berganti topik. Perhatian sosial berpindah ke hal lain.
Namun, uang yang sudah dikeluarkan tidak kembali. Keputusan finansial yang buruk tetap meninggalkan jejak. Di titik itu, banyak orang baru sadar bahwa gengsi ternyata sangat mahal untuk sesuatu yang efeknya sangat sebentar.
Pada akhirnya, fenomena rental mobil demi gengsi menunjukkan satu hal yang cukup menyedihkan: banyak orang kehilangan makna sederhana dari pulang kampung. Lebaran seharusnya tentang pertemuan, keluarga, dan kebersamaan setelah setahun penuh bekerja dan berjuang.
Tapi kita tahu betul kan realitasnya: siapa yang lebih sukses, dan siapa yang baiknya dijadikan makian selama beberapa hari ke depan.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Bisnis Mobil Rental: Keuntungannya Selangit, Risikonya Juga Selangit
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















