Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

Arsyindah Farhan oleh Arsyindah Farhan
30 Maret 2026
A A
Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok (wikipedia.org)

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah empat kali saya pindah hunian. Belum punya rumah membuat saya harus mengontrak dari satu tempat ke tempat lain. Bagi banyak orang, mereka bisa mendiami suatu rumah kontrakan selama bertahun-tahun. Namun, hal itu tidak terjadi pada saya dan keluarga ketika ngontrak di Jakarta Timur.

Ada beberapa alasan yang membuat saya dan keluarga kerap pindah kontrakan. Mulai dari biaya sewa naik seenak jidat pemilik hingga tidak kerasan dengan lingkungan rumah jadi beberapa alasan. Namun, alasan yang paling menyesakkan adalah diusir oleh pemilik padahal kami sudah jadi penyewa yang tertib membayar. 

Ngontrak di Jakarta Timur nggak kerasan, tapi terpaksa bertahan demi keadaan

Sampai pertengahan kelas I SMA, saya dan keluarga tinggal di rumah kakek yang berada di Bekasi. Bersama ibu, kami berdua lalu pindah ke Jakarta Timur dan mengontrak rumah. Itu menjadi pengalaman mengontrak pertama yang bisa saya ingat jelas.

Kami mengontrak di rumah tiga petak dengan harga sewa sekitar Rp700.000 pada kisaran 2014. Pengalaman tinggal di rumah komplek yang cukup luas kemudian tinggal di rumah petak bikin saya lumayan syok. Satu hal yang paling saya ingat adalah keberadaan tikus yang banyak dan mengganggu.

Rupanya, terdapat bolongan loteng yang memang sengaja dibiarkan terbuka. Entah ada sambungan kabel apa di sana. Namun sialnya, menjadi jalan tikus bebas keluar masuk unit kontrakan kami.

Tikus bukan satu-satunya alasan saya nggak kerasan. Lingkungan berisik dan tetangga semena-mena menjadi alasan tambahan. Meski terasa pahit, kondisi ekonomi yang sulit membuat saya dan ibu terpaksa bertahan.

Oleh pemilik kontrakan, kami sempat ditawarkan membuat kanopi agar jemuran bisa terlindungi saat hujan. Ibu saya menolak. Kami heran. Padahal kontrakan tersebut bukan milik kami, tapi anehnya, beban renovasi harus kami yang menanggung.

Diminta pindah, meski nggak menunggak sewa

Tahun 2016, saya dan ibu diminta pindah secara mendadak. Katanya, pemilik kontrakan ingin memberikan unit yang kami sewa ke saudaranya. Beliau juga mengatakan kalau ibu saya kerap menunggak bayar.

Baca Juga:

Jangan Mencari Peruntungan dengan Kerja di Jakarta, Saya Cari Magang di Sini Saja Susah, Sekalinya Dapat Tidak Digaji dan Dijadikan Tenaga Gratisan

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

Ternyata, semua hanya salah paham akibat sistem pencatatan si empunya kontrakan yang buruk. Untungnya, ibu saya menyimpan kuitansi pembayaran. Sehingga, tuduhan tersebut terbantah. Meski kerap telat beberapa hari membayar, kami nggak pernah menunggak sewa.

Kami tetap tidak bisa berkutik dan akhirnya pindah ke kontrakan baru di kampung yang sama di Jakarta Timur, letaknya nggak jauh dari tempat sebelumnya. Kami masih tinggal kontrakan petak, tapi lebih kecil dan murah. Saya dan ibu sih nggak masalah, toh pada saat itu tinggal berdua tidak memerlukan unit yang besar. 

Karena masih tinggal di perkampungan yang sama, kami melihat bukti nyata kecurangan pemilik kontrakan sebelumnya terhadap kami. Ternyata yang menggantikan kami bukan keluarga si pemilik kontrakan. Melainkan orang lain yang mengiming-imingi beliau dengan mengganti ubin dan memasang kanopi.

Terasa sesak, tapi kami anggap sudah jalan Tuhan. Toh, kami jadi dapat kontrakan dengan sewa lebih murah. Dan, tang terpenting, bebas tikus.

Kontrakan baru berarti tantangan baru walau masih sama-sama di Jakarta Timur 

Di kontrakan baru, suka dukanya pun baru. Kami nggak bisa menghindari bocor dan mesin air yang sering bermasalah. Tapi, enaknya, saya tidak harus menghadapi tikus-tikus menyeramkan. 

Masih sama seperti kontrakan lama, kami bayar sewa perbulan. Tetangga kanan saya membayar per tahun. Unit kiri saya akhirnya diisi oleh saudara si empunya kontrakan. Saya nggak tahu persis soal pembayaran sewa yang saudaranya, tapi pastinya berdasar asas kekeluargaan.

Saya dan ibu menjadi satu-satunya penyewa yang bayar per bulan. Kami tidak pernah macet bayar, tapi kerap diminta membayar sewa 2 bulan sekaligus. Berat, tapi nggak ada pilihan lain. Saat pemilik kontrakan lagi nggak ada duit, kami pasti diminta membayar dua bulan langsung. Hal itu nggak terjadi sekali dua kali.

Dan terjadi lagi…

Setelah berkali-kali diminta bayar sewa dua bulan sekaligus, pada pertengahan 2019, kami diminta pindah setelah 3 tahunan mengontrak di sana. Alasannya sama, mau dipakai keluarga yang akan pindah ke Jakarta Timur. Meski menyebalkan, tapi saya tahu kalau si pemilik kontrakan ke-2 saya ini nggak berbohong. Anaknya memang baru menikah. 

Sepertinya, opsi “mengusir” kami menjadi satu-satunya pilihan dan terpaksa dilakukan. Empunya kontrakan nggak mungkin mengusir saudaranya dan nggak bisa meminta pindah penyewa yang sudah bayar setahun ke depan. Sisanya, ya hanya ada saya dan ibu.

Memang kami ada niatan pindah ke tempat yang lebih layak karena ekonomi membaik. Tapi, diminta pindah meski nggak menunggak dan sering disuruh bayar sewa dua bulan sekaligus, rasanya perih. Apalagi, kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya.

Dalam rentang kisaran 3 tahun sekali, di sebuah perkampungan di Jakarta Timur, dengan alasan yang sama, kami diusir. Meski merasa terzalimi, kami berusaha tegar. Senggaknya, pemilik kontrakan yang ke-2 nggak berbohong. Jadi, kami berusaha ikhlas.

Diminta pindah atau bahasa kasarnya “diusir” dua kali berturut-turut, membuat saya dan keluarga lebih antisipatif. Dalam kepala ini, kami bisa diminta pindah kapan saja. Namanya juga bukan rumah sendiri, kemungkinan diusir akan selalu ada. Jelas ngontrak di lingkungan Jakarta Timur seperti ini perlu mental baja dan kesabaran seluas samudera. 

Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Maret 2026 oleh

Tags: dki jakartaJakartaJakarta Timurkontrakanngontrakpenyewapenyewa kontrakanrumah jakarta
Arsyindah Farhan

Arsyindah Farhan

Tukang kue yang suka menuangkan unek-uneknya lewat tulisan. Kuliah keguruan, tapi akhirnya lebih pilih bisnis home made biar bisa menemani ibu di rumah.

ArtikelTerkait

Jakarta Timur Aneh, Malah Rasanya Kayak Lagi Ada di Bekasi (Unsplash)

Jakarta Timur, Daerah yang Aneh dan Bikin Heran: Ketika Kantor Walikota Malah Terasa Seperti Milik Bekasi

9 Oktober 2023
4 Alasan Orang Jakarta Lebih Sering Liburan ke Bogor daripada ke Pulau Seribu

4 Alasan Orang Jakarta Lebih Sering Liburan ke Bogor daripada ke Pulau Seribu

25 Desember 2025
Jalanan Jakarta Saja Sudah Menyebalkan, Ditambah Musim Hujan Makin Mengesalkan Mojok.co

Jalanan Jakarta Saja Sudah Menyebalkan, Ditambah Musim Hujan Makin Mengesalkan

4 November 2025
ngontrak rumah

5 Hal yang Harus Diperhatikan Mahasiswa Sebelum Ngontrak Rumah

4 Mei 2020
Sinar Jaya & Juragan 99 Terbaik, Harga KA Eksekutif Makin Gila (Unsplash)

Tiket Kereta Semakin Mencekik, Sleeper Bus Sinar Jaya dan Juragan 99 Menyelamatkan Kewarasan Isi Dompet para Pekerja

11 Juni 2025
Fresh Graduate Solo Culture Shock Kerja di Jakarta, Cukup Jadi Pengalaman Sekali Seumur Hidup Aja Mojok.co

Dilema Jalanan Jakarta: Macet Melelahkan, tapi kalau Sepi, Isinya Orang Tolol Kebut-kebutan

4 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Mobil Bekas Harga Rp100 Juta-an yang Paling Masuk Akal Dimiliki sebagai Kendaraan Keluarga Mojok.co

7 Mobil Bekas Harga Rp100 Juta-an yang Paling Masuk Akal Dimiliki sebagai Kendaraan Keluarga

16 April 2026
Suzuki Jimny Jangkrik hingga Toyota Yaris Bakpao, 6 Julukan Mobil Paling Unik karena Desainnya yang Aneh Mojok.co

Suzuki Jimny Jangkrik hingga Toyota Yaris Bakpao, 6 Julukan Mobil Paling Aneh Terinspirasi dari Bodi yang Unik

20 April 2026
Bukannya Menghilangkan Penah, Berwisata ke Curug Cimahi Justru Bikin Tingkat Stres Meningkat

Bukannya Menghilangkan Penat, Berwisata ke Curug Cimahi Justru Bikin Tingkat Stres Meningkat

18 April 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Warga Depok Habiskan Hampir 2 Juta Rupiah per Bulan Cuma buat Kerja di Kawasan Senayan, Dedikasinya Tinggi!

16 April 2026
4 Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan ke Mahasiswa Universitas Terbuka mahasiswa UT kuliah di UT

Saya Sempat Meremehkan Universitas Terbuka, Sampai Akhirnya Saya Menjalaninya Sendiri sambil Kerja

20 April 2026
5 Kuliner Ambarawa yang Belum Masuk Radar Wisatawan padahal Enak dan Khas Mojok.co

5 Kuliner Ambarawa yang Belum Masuk Radar Wisatawan, padahal Enak dan Khas

16 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • UKM Pencak Silat Unair Selamatkan Mimpi Atlet PSHT, Gelanggang Pertandingan Lebih “Menyeramkan” daripada Ruang Kelas Kuliah
  • iPhone Jadul Bangkit Kembali Berkat Gen Z, Kualitas Foto “Tak Sempurna” Malah Dianggap Unggul daripada Keluaran Terbaru
  • Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang
  • Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta
  • Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja
  • Baru Deep Talk dengan Bapak di Usia 25, Bikin Sadar kalau Selama Ini Dia Sangat Kesepian dan Pikul Beban Sendirian

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.