Sekali-kali cobalah mampir ke Perpustakaan Kota Batu.
Mungkin setengah dari sekian banyak tulisan saya di Terminal Mojok tentang Kota Batu berisi kritikan. Entah kritik soal isu pariwisata, tentang air dan tanah, hingga isu pembangunan dan fasilitas publik. Seakan-akan, di balik keindahan kota kecil ini, ada kebobrokan, kekacauan, dan rentetan masalah yang nggak kunjung ada solusinya.
Akan tetapi, kalau boleh jujur, nggak semua hal tentang Kota Batu itu saya lihat dengan pandangan negatif. Di balik bobroknya kota yang makin lama makin kelihatan, ada beberapa hal yang layak diapresiasi. Kota ini masih punya sisi positif. Salah satunya, keberhasilan daerah ini dalam membangun perpustakaan kota. Namanya Perpustakaan Kota Batu.
Fasilitas ini sekarang terletak di Jalan Kartini No. 14, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu. Gedung ini lokasinya tepat berada di pusat kota, hanya berjarak 120 meter atau 2 menit jalan kaki dari Alun-Alun Kota Batu. Dekat banget. Aksesnya pun mudah, kelihatan dari alun-alun.
Berawal dari seksi kearsipan hingga berpindah-pindah tempat
Perpustakaan Kota Batu saat ini memang sudah berdiri megah dan bagus. Namun, di balik itu semua, fasilitas publik ini punya sejarah panjang.
Secara nama instansi, sejak 2003 hingga 2008, perpustakaan ini masih berada di bawah seksi kearsipan, yang juga berada di bawah Dinas Informasi, Komunikasi, dan Perpustakaan Kota Batu. Baru pada 2009 hingga sekarang, perpustakaan berada di bawah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.
Dahulu, perpustakaan ini berada di Jalan Dewi Sartika No. 72, tepatnya di pintu bawah Terminal Batu. Perpustakaan Kota Batu cukup lama berada di lokasi ini.
Sayangnya, saya hanya pernah sekali mengunjungi Perpustakaan Kota Batu di gedung lama. Ingatan saya sangat samar soal bagaimana bentuknya. Satu-satunya yang saya ingat, sepi pengunjung.
Nah, pada 2021, Perpustakaan Kota Batu sempat pindah ke Balai Kota Among Tani. Di sana hanya bertahan satu tahun, dan pada 2022 pindah ke gedung baru di Jalan Kartini sampai sekarang. Di tempat inilah perpustakaan kota menjadi bentuk terbaiknya.
Koleksi Perpustakaan Kota Batu cukup lengkap
Sejak Perpustakaan Kota Batu menempati gedung baru dari 2022 hingga sekarang, saya terbilang jarang berkunjung. Apalagi dalam 2 tahun terakhir, belum tentu sebulan sekali saya ke sana. Bahkan, sebelum hari Jumat pagi kemarin saya berkunjung lagi, kunjungan saya terakhir itu sekitar setahun lalu.
Kunjungan saya mungkin bisa terhitung jari, tapi saya akui, dari kunjungan yang sedikit itu, saya bisa melihat perubahan yang signifikan. Perpustakaan yang sekarang sudah jauh lebih bagus dari sebelumnya.
Gedung perpustakaan bagus, letaknya strategis, dan fasilitas penunjang lainnya jelas lebih lengkap. Koleksi bukunya juga lengkap. Koleksi bukunya membentang dari buku anak-anak, buku teori sains dan teknologi, buku sosial, hingga buku fiksi. Bisa dibilang lengkap, apalagi untuk ukuran Kota Batu.
Jujur saja, saya terkesan akan koleksi buku di Perpustakaan Kota Batu. Saya beneran nggak nyangka bahwa koleksi buku di perpustakaan yang berada di kota kecil ini bisa selengkap itu. Hanya saja, penataannya masih belum cukup rapi. Beberapa buku masih tercecer, nggak berada di rak yang seharusnya. Tapi itu cukup minor, lah. Masih sangat bisa dibenahi.
Fasilitas penunjang Perpustakaan Kota Batu memadai
Selain koleksi bukunya yang tergolong lengkap, fasilitas penunjang yang ada di Perpustakaan Kota Batu ini juga nggak main-main. Di lantai bawah misalnya, ada ruang inklusif, ruangan yang diperuntukkan untuk teman-teman disabilitas, lengkap dengan koleksi buku-bukunya.
Masih di lantai yang sama, ada juga ruang baca ramah anak. Selain itu, ada juga yang namanya Pojok Jagongan Literasi, sebuah tempat yang bisa digunakan untuk baca-baca sambil santai, atau diskusi dengan kawan-kawan.
Di lantai dua, ada ruangan koleksi buku yang lengkap. Ruangannya bagus, luas, dan tentunya nyaman banget. Ada toilet dan mushola. Lalu di ruangan outdoor lantai dua, juga ada ruang baca yang bergabung dengan Cafe Literasi. Nah, di sini pengunjung bisa baca buku, bersantai, atau bahkan nugas, sambil minum kopi atau teh yang disediakan secara gratis. Tapi bikin sendiri, ya, hehe.
Belum banyak warlok yang tahu dan berkunjung
Di balik gedung yang megah, koleksi buku yang lengkap, dan fasilitas penunjang yang sangat bagus, Perpustakaan Kota Batu masih punya masalah. Masalah ini berkutat di perkara awareness. Entah mengapa saya merasa, tempat ini masih belum dikenalkan ke publik dengan baik dan merata.
Ini kelihatan banget dari pengunjungnya. Dari beberapa kali kunjungan saya, dan dari pengalaman teman-teman saya yang lebih sering berkunjung, kami sama-sama menyayangkan karena pengunjung dari kalangan umum masih belum banyak. Mayoritas pengunjungnya masih dari instansi (pemerintah/swasta), atau dari anak-anak sekolah yang mengadakan kegiatan di sana.
Sayang banget kan? Dengan kondisi perpustakaan yang sudah sangat bagus dan berkelas, mengapa pengunjung dari kalangan umum masih sedikit?
Apakah karena sosialisasi dan pengenalannya kurang? Atau karena minat dan daya baca warlok masih rendah? Entah. Bisa salah satu, atau bisa keduanya.
Lalu saya berpikir, andai saja sosialisasi dan pengenalannya bagus dan tepat sasaran, andai minat dan daya baca masyarakat Kota Batu sudah meningkat, Perpustakaan Kota Batu akan jadi fasilitas publik yang sangat ciamik sekali. Pengunjungnya akan ramai, koleksi dan fasilitas penunjangnya mungkin akan lebih lengkap, dan iklim literasi di Kota Batu akan jauh lebih hidup.
Dan, semoga dengan tulisan ini, orang-orang akan lebih tahu dan berkenan berkunjung, semoga, ya.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













