Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Perlukah Mendatangkan Rektor dari Luar Negeri?

Rohmatul Izad oleh Rohmatul Izad
29 Juli 2019
A A
rektor dari luar negeri

rektor dari luar negeri

Share on FacebookShare on Twitter

Wacana pemerintah yang sejauh ini bergulir tentang akan mendatangkan rektor dari luar negeri untuk ditempatkan di beberapa PTN Indonesia memang bukan hal baru. Isu ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2016 silam, tapi beritanya sempat hilang dari peredaran dan mulai muncul lagi beberapa pekan terakhir melalui pernyataan Jokowi yang juga ditegaskan oleh Kemenristekdikti, Muhammad Nasir, bahwa di tahun 2020 mendatang pemerintah akan mencanangkan program rektor dari luar negeri.

Pro kotra pun tak dapat dihindari, banyak pihak menyayangkan bila wacana ini benar-benar akan direalisasikan. Salah satu keberatannya, orang asing belum tentu memahami betul dinamika akademik dan perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Di lain hal, juga muncul semacam kecemburuan sosial di mana banyak dosen dan guru besar yang mungkin ingin menjadi rektor di PTN pilihan akan pupus sudah harapannya. Belum lagi soal syarat-syarat birokrasi di mana untuk menjadi rektor, syarat mutlaknya dalah warga negara Indonesia.

Keberatan yang dilayangkan oleh berbagai pihak sebenarnya wajar-wajar saja. Mengingat, opsi mendatangkan rektor dari warga asing memang terkesan berlebihan dan dibuat-buat. Kita ini pada dasarnya tidak kekurangan orang pintar sehingga harus repot-repot mengimpor orang asing untuk menduduki jabatan elit di perguruan tinggi bergengsi.

Bila menengok alasan dari pemerintah sendiri, mendatangkan rektor dari luar negeri bukan hanya kebutuhan, tetapi juga keharusan bila kita ingin menjadi negara penghasil SDM terbaik dan memiliki daya saing dunia. Sejauh ini, prestasi perguruan tinggi kita memang tampak melempem di tingkat internasional. Lemahnya dosen dan peneliti yang bermutu, kurangnya karya-karya ilmiah berbobot, dan minimnya daya kreativitas guru besar hingga soal asal-asalan dalam mengelola perguruan tinggi, khususnya PT swasta yang banyak sekali bermunculan.

Mengingat, salah satu hal terpenting bila kampus ingin berkualitas adalah dengan memperbanyak karya ilmiah. Selain diperbanyak, juga hasil penelitiannya harus bermutu dan tidak sekedar menulis karya ilmiah semata untuk memenuhi kewajiban seorang dosen yang ingin naik jabatan. Bila sekedar menulis saja, orang tidak akan mau baca, karena sudah sedari awal diketahui bahwa hasilnya akan itu-itu saja.

Memang, di sebagian besar kampus yang memiliki program Magister, ada aturan baru yang mengharuskan mahasiswa nulis jurnal ilmiah sebelum mereka lulus, ini menjadi prasyarat untuk dapat melaksanakan wisuda. Tetapi aturan ini tidak lantas akan mudah membalikan keadaan dan memperbaiki kualitas perguruan tinggi kita. Sebab, banyak di antara mahasiswa juga asal-asalan dalam menulis, yang penting dapat terbit di jurnal dan memenuhi syarat kelulusan.

Belum lagi soal banyaknya dosen yang tidak mampu menulis karya ilmiah sekelas jurnal, khsusunya di kampus-kampus kecil di daerah, di mana iklim keilmuan memang sangat rendah dan kurang memiliki kesadaran intektual yang tinggi. Ini wajar karena seringkali lingkungan lebih banyak mempengaruhi aktivitas seseorang, tak terkecuali di lingkungan kampus-kampus kecil daerah yang memang sangat kurang disiplin di bidang kepenulisan dan karya-karya akademik lainnya.

Saya masih ingat beberapa waktu yang lalu, ada salah seorang teman yang merupakan dosen kampus swasta di salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur, dia menghubungi saya dan meminta bantuan untuk dibuatkan karya jurnal ilmiah yang kemudian karya itu nanti akan dia beli dengan harga sesuai kesepakatan. Saya sendiri tahu betul iklim akademik di kampus itu yang baru-baru ini alih status dari Sekolah Tinggi menjadi Institut. Artinya, dosen-dosen didorong untuk lebih giat lagi menulis karya ilmiah sebagai bentuk tanggungjawab akademis.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

Dalam kasus ini, saya menolak keras untuk membantu dia meski kita teman akrab. Bukan karena tidak mau menolong teman, karena semata-mata karya ilmiah haruslah ditulis oleh orangnya sendiri dan merupakan karya orisinal. Fenomena ini paling tidak menjadi contoh kecil bahwa di luar sana, masih banyak sekali dosen-dosen yang bahkan tak mampu menulis karya akademik.

Bila menengok tujuan ideal dari pemerintah untuk mendatangkan rektor dari luar negeri, maka hal ini boleh jadi perlu dicoba. Mengingat banyak negara-negara luar seperti Singapura, Cina, Taiwan, dan Arab Saudi, juga telah melakukan dan hasilnya pun cukup bagus. Arab Saudi misalnya, yang dulu hampir semua perguruan tingginya kurang dihargai, sekarang sudah mulai menunjukkan nilai positif karena 40% perguruan tinggi di sana telah mendatangkan dosen-dosen dan rektor dari Amerika dan Eropa. Mereka sadar betul dengan ketertinggalan dan mencoba memperbaikinya dengan menghadirkan tenaga ahli dari luar.

Di lain hal, masalah yang juga sering terjadi di perguruan tinggi Indonesia adalah soal birokrasi kampus. Ini berkaitan dengan manajemen kampus yang seringkali berbelit-belit tentang berbagai urusan. Memperbaiki birokrasi kampus juga menjadi salah satu upaya penting yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kualitas akademik kampus tersebut, dan salah satu jalan keluarnya dengan menghadirkan orang-orang terbaik dari luar yang lebih berpengalaman dalam mengurus aset-aset ilmu pengetahuan di perguruan tinggi.

Bila ratusan ribu warga Indonesia bisa dengan mudah kerja di luar negeri, mulai dari pekerja kasar sampai mengisi jabatan-jabatan elit di perusahaan dan kampus, mengapa kita begitu tertutup dengan orang asing yang betul-betul dibutuhkan untuk memperbaiki Indonesia? Lagian, jumlah rektor yang akan didatangkan sangat sedikit, bila yang butuh hanya 2 sampai 5 PTN, maka cukup sejumlah itu saja yang akan didatangkan.

Dalam soal mengupayakan pendidikan terbaik, kita memang seharusnya perlu terbuka dan membuka diri bagi siapa saja yang kita butuhkan dan dapat membantu kita. Jangan hanya terkenal jago kandang, tetapi melempem di kancah internasional, jangan pula mengandalkan kemenangan olimpiade-olimpiade karena itu dampaknya terbatas. Apalagi hanya sebatas memeriahkan seremoni-seremoni semacam seminar dan konferensi-konferensi, yang sejauh ini pengaruhnya kurang signifikan. Bila yang kita upayakan adalah memperbaiki perguruan tinggi dalam negeri, maka proyeksi itu dibutuhkan untuk jangka yang relatif panjang.

Terakhir, dan ini soal yang agak lain, masalah yang menurut saya juga perlu diupayakan adalah soal pemerataan SDM. Perlu kiranya mengutus dosen-dosen dan peneliti terbaik di kampus-kampus PTN atau swasta, untuk dikirim dan diberi tugas mengajar sementara di kampus-kampus daerah. Ini salah satu cara terbaik agar semangat intektualisme tidak hanya terpusat di kota-kota besar di mana kampus elit itu berada, tetapi orang-orangnya juga perlu diberdayakan di daerah-daerah agar kualitas pendidikan kita merata, khsususnya dalam membangkitkan semangat menulis, meneliti, dan bekerja untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Terakhir diperbarui pada 18 Januari 2022 oleh

Tags: DosenMahasiswarektor dari luar negeriuniversitas
Rohmatul Izad

Rohmatul Izad

Dosen Filsafat di IAIN Ponorogo.

ArtikelTerkait

Sisi Suram Sekolah Kedinasan, Senioritas Masih Kental hingga Tidak Bisa Bersuara Kritis ke Negara Mojok.co

Sisi Suram Sekolah Kedinasan, Senioritas Masih Kental hingga Nggak Boleh Kristis sama Negara

15 Juni 2025
dosen pembimbing, dosbing resek

Surat Terbuka Untuk Dosen Pembimbing

6 September 2019
Cara Menjadi Mahasiswa S2 yang Baik dan Benar

Cara Menjadi Mahasiswa S2 yang Baik dan Benar

4 Oktober 2022
Fresh Graduate Solo Culture Shock Kerja di Jakarta, Cukup Jadi Pengalaman Sekali Seumur Hidup Aja Mojok.co

Fresh Graduate Solo Culture Shock Kerja di Jakarta, Cukup Jadi Pengalaman Sekali Seumur Hidup Aja

30 Maret 2024
Curahan Hati Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam yang Digadang-gadang jadi Da'i Mojok.co

Curahan Hati Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam yang Digadang-gadang jadi Da’i

7 November 2023
kkn

KKN (Kuliah Kerja Nyumbang): Emang Masih Relevan?

10 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

5 Februari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.