Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kok Kita Justru Bisa Cerita Rahasia ke Orang Asing? Apa Nggak Bahaya?

Audian Laili oleh Audian Laili
27 April 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kita bisa cerita rahasia dengan lancar dan detail, justru ke orang asing yang baru ketemu beberapa jam lalu. Kenapa, ya?

Ketika sedang menunggu pesawat, atau dalam sebuah perjalanan panjang dengan transportasi umum seperti kereta atau bis. Tidak jarang kita mengobrol dengan orang yang duduk di dekat kita. Biasanya cerita tersebut bermula dengan basa-basi seperti, “Mau turun mana?”, “Masih kuliah atau kerja?” Lantas belanjut dalam sebuah pembicaraan seru, dan tanpa terasa merembet ke hal-hal yang bersifat lebih sensitif dan pribadi. Jika dalam masa basa-basi tersebut menemukan sebuah kenyamanan dalam bercerita, tidak sedikit dari mereka yang tiba-tiba mengisahkan cerita rahasia mereka.

Iklan

Mengisahkan cerita rahasia ke orang lain—apalagi orang asing yang baru saja ditemui, awalnya membuat saya tidak paham. Ya, bagaimana bisa, seseorang tiba-tiba cerita kalau diam-diam dia sudah tahu pasangannya selingkuh—tanpa pasangannya tahu, kapada saya, yang belum genap 2 jam ia temui?

Bahkan ada beberapa di antara mereka, yang dengan jelas bilang kalau hal yang “rahasia” tersebut belum pernah diceritakan kepada siapa pun. Dan saya, menjadi orang pertama yang mengetahuinya. Orang asing yang bisa saja membocorkan cerita rahasia tersebut sewaktu-waktu—tanpa ia tahu.

Agak aneh memang, terkadang kita memang merasa sungkan untuk membicarakan hal yang bersifat pribadi ke orang terdekat kita. Namun, kita justru bisa menceritakannya dengan lancar dan detail pada orang yang baru saja ditemui. Mungkin, hal ini karena kita merasa lebih nyaman dan tidak takut di-judge.

Saat kita bercerita tentang hal yang sangat pribadi ke orang yang telah kita kenal. Bagaimanapun juga, mereka pasti sudah punya penilaian terhadap rekam jejak perilaku kita. Hal ini tentu memunculkan sebuah gambaran, “Bagaiamana diri kita? Dan bagaimana kira-kira diri kita saat mengalami sesuatu?” Ya, orang yang kita kenal, pasti telah menyimpan prasangka pada diri kita.

Tentu saja, tidak ada seorang pun yang mau di-judge apalagi saat ingin mengeluarkan keluh kesahnya. Maka, orang asing yang tiba-tiba hadir dan ternyata lumayan enak diajak ngobrol ini, lantas dijadikan sandaran sejenak. Interaksi yang tidak terlalu intim tersebut, memunculkan perasaan untuk tidak perlu terlalu berhati-hati. Seperti, hati-hati kalau cerita kita dapat menyakiti si lawan bicara. Ataupun berhati-hati karena takut dengan prasangka mereka. Maka, dengan hubungan yang tidak terlalu kenal tersebut, menjadikan cerita pun mengalir dengan lebih lancar.

Segala detail yang dirasakan dan tidak pernah diungkapkan pun, keluar begitu saja. Rasa takut untuk dianggap “gimana-gimana”, cukup dapat dinetralisir. Kita merasa betul-betul bisa bercerita dengan lebih legawa tanpa membawa beban apa-apa. Toh, ceritanya ke orang asing, yang belum tahu bakal ketemu lagi kapan. Iya, kan?

Berbeda dengan bercerita dengan orang yang telah kita kenal. Terkadang, kita tidak bisa betul-betul membedakan. Manakah cerita yang benar-benar didengarkan? Ataukah sekadar didengarkan untuk dijadikan bahan ghibah di belakang?

Jadi, setelah bercerita, bukannya merasa lebih tenang dan segala beban menjadi lebih ringan. Justru ada kekhawatiran kecil yang menjadikan beban tersebut masih menyisa. Seperti, perasaan nggak enak telah menganggu waktu teman kita dengan curhatan kita yang bisa jadi nggak dia suka—karena kita merasa dia tidak betul-betul mendengarkan cerita kita yang masih soal itu-itu saja. Atau malah takut, kalau setelah cerita usai, dia menjadi ilfeel terhadap kita dan malas untuk berteman lagi. Bahkan yang jauh lebih menyakitkan, diam-diam dia justru menjadikan cerita kita sebagai bahan omongan dengan teman-teman lainnya.

Oleh karenanya, memiliki kesempatan dapat menceritakan hal-hal rahasia yang sudah cukup menyesakkan di dada pada orang asing, adalah suatu hal yang lumayan bisa bikin tenang. Pasalnya, kondisi ini udah mirip-mirip dengan terapi psikologi: bertemu dengan orang asing dan mengisahkan cerita rahasia yang tak satu pun orang terdekatmu tahu.

Maka dari itu, jika kita mengikuti terapi ke psikolog pun, biasanya akan diminta untuk datang ke psikolog yang belum kita kenal dan belum pernah kita temui. Apalagi, jangan sampai malah datang ke salah satu orang terdekat kita. Seperti konsep cerita rahasia dengan orang asing di atas, begitu pula dengan konsep bercerita dengan psikolog. Mohon maaf, nih, psikolog kan juga manusia biasa. Meski berusaha dihilangkan seperti apa pun juga, namanya prasangka pasti masih tersisa.

Tetapi, meski bercerita ke orang asing cukup membantu menetralisir segala kepenatan, kita tetap harus berhati-hati. Bagaimanapun, mereka tetaplah orang asing. Yang tidak punya jaminan apa pun untuk tidak menyalahgunakan cerita rahasia kita. Atau, malah ujug-ujug bikin hati kita klepek-klepek begitu saja.

Terakhir diperbarui pada 27 April 2019 oleh

Tags: cerita rahasiacurhatjudgeorang asingpsikolog
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO
Sehari-hari

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Lulus dari UAD, Jogja pindah ke Bangka untuk bangun karier sebagai psikolog. MOJOK.CO
Sosok

Jogja bikin Saya Sadar “Kebobrokan” di Kampung Halaman hingga Punya Motivasi untuk Membangun Karier sebagai Psikolog

30 Mei 2025
Ide Bodoh Ridwan Kamil untuk Atasi Kemacetan Jakarta MOJOK.CO
Esai

Ide Nggak Masuk Akal Ridwan Kamil: Datangkan Psikolog dan Ustaz Keliling untuk Atasi Kemacetan Jakarta

3 September 2024
 Pengalaman Saya Curhat ke Nomor Layanan Berhenti Merokok. MOJOK.CO
Liputan

Pengalaman Saya Curhat ke Nomor Layanan Berhenti Merokok

24 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita Lola Nadiya Putri, peserta Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 yang mengangkat persoalan crab mentality yang menghambat perempuan desa di Nganjuk untuk tumbuh dan maju MOJOK.CO

Ironi Perempuan di Desa: Dihambat Tumbuh dan Maju karena Crab Mentality

4 Juli 2026
Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
spmb 2025, zonasi.MOJOK.CO

Ketika SPMB Berubah Jadi Pasar Gelap Kursi Sekolah

6 Juli 2026
Lurah 1.000 Baliho Penguasa Condongcatur Itu Tersandung Korupsi: Sultan Minta Proses Hukum Tanpa Toleransi MOJOK.CO

Lurah 1.000 Baliho Penguasa Condongcatur Itu Tersandung Korupsi: Sultan Minta Proses Hukum Tanpa Toleransi

3 Juli 2026
Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.