Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Pengalaman Pertama Merantau Kerja di Jakarta: Empat Hari Bolak-balik Tangsel-Jaktim Sudah Trauma

Abd. Muhaimin oleh Abd. Muhaimin
14 Juni 2026
A A
Pengalaman Pertama Merantau Kerja di Jakarta: Empat Hari Bolak-balik Tangsel-Jaktim Sudah Trauma Mojok.co

Pengalaman Pertama Merantau Kerja di Jakarta: Empat Hari Bolak-balik Tangsel-Jaktim Sudah Trauma (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Mendapat tawaran kerja dengan gaji Jakarta adalah kesempatan yang tak boleh saya lewatkan dan abaikan. Sebab, di tengah sulitnya lapangan pekerjaan, kesempatan itu bagai sepercik cahaya di kegelapan.

Hampir satu tahun saya luntang-lantung bertahan hidup di kota Yogyakarta yang istimewa itu. Sudah berapa institusi saya sodorkan CV lengkap dengan fotokopi ijazah magister. 

Entah berapa kali saya ikut interview ke beberapa lembaga dan tak ada satu pun yang lolos. Cerita lengkapnya bisa kalian baca di tulisan Terminal berjudul Lulusan S2 Nelangsa dan Ijazahnya Tak Lagi Jadi Harapan, Bikin Saya Juga Ingin Bilang kalau Kuliah Itu Scam.

Bagi sebagian orang, satu tahun mungkin waktu yang sebentar, tapi bagi saya itu cukup bikin mental gemetar. Ramadan kemarin saya putuskan untuk pulang dan mencari penghidupan di kampung halaman, sebelum akhirnya saya mendapat panggilan sebuah perusahaan. Saya pun mengiyakan dan berangkat ke Jakarta sehabis Lebaran.

Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta

Tiga tahun hidup di Jogja, Jakarta bagi saya adalah dunia baru yang siap menyambut saya dengan mobilitas yang serba cepat dan tak kenal ampun. Bayangan kemacetan di jalan-jalan Ibu Kota ini selalu menghantui beberapa minggu sebelum berangkat.

Benar saja, saat pertama tiba di Jakarta, bayang-bayang ketakutan itu mulai tampak di mata. Apalagi, saat itu tepat jam lima pagi. Jalanan sudah ramai dengan lalu lalang kendaraan dan orang-orang mulai berebut masuk Transjakarta.

Suasana itu sangat berbeda dengan Jogja yang saya tahu. Di Jogja, pagi hari terasa begitu santai, orang-orang berkendara di jalan seakan waktu masih panjang, bahkan beberapa dari mereka masih asyik menyeruput teh hangat di angkringan.

Sedangkan di Jakarta, orang-orang saling mendahului. Berkejaran dengan jam masuk kantor dan menit lampu hijau yang singkat. Dalam benak saya, mungkin beberapa dari mereka mengutuk ide lampu lalu lintas.

Baca Juga:

Sekali Naik Angkot Bekasi, Saya Paham Kenapa Orang Jakarta Lebih Pilih Motor

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

Saya rasakan betul betapa tergesanya mereka, ketika supir taksi online yang saya pesan, marah-marah karena saya lelet masuk mobilnya sedang di belakang orang-orang sudah ribut dengan klakson masing-masing.

Berangkat subuh pulang Isya

Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya sampai juga di kontrakan teman. Teman kecil saya di kampung. Sudah lima tahun dia di Jakarta dan sudah bekerja. Pertanyaan pertamanya, “Bagaimana Jakarta?” Saya langsung menjawab, “Kerasss, Bos!” Kami pun tertawa bersama.

Teman saya ini ngontrak di daerah sekitar UIN, sedang tempat kerja saya di daerah Ciracas. Katanya jarak antara keduanya cukup jauh. Saya coba cek di map sekitar 1 jam. “Yâ, péndhanan. Enga’ dhâri roma ka kotta (Ya, lumayan. Seperti dari rumah ke kabupaten kota),” ujar saya dalam bahasa Madura.

Tiga hari setelahnya, saya pun mulai masuk kerja. Saya pun naik transum dari Ciputat ke Jakarta Timur dengan rute yang sudah diajari teman. Bodohnya saya, membandingkan jarak di Madura dengan Jakarta itu sangat tidak imbang. Satu jam di Madura, dengan jalan yang cenderung sepi, dan satu jam di Jakarta, dengan jalan yang cenderung ramai, nggak sama blas.

Satu jam di Jakarta itu ternyata bisa dua jam, bahkan lebih. Akhirnya, hari pertama kerja, saya terlambat satu jam. Sejak hari itu, saya mulai stres dan kena mental. Terbiasa dengan ritme santai dan jalan bebas macet, membuat saya lupa bahwa ini bukan Madura, apalagi Jogja.

Jiwa kemalasan dan keleletan saya harus dipaksa berpacu dengan waktu di hari kedua. Habis salat subuh saya harus mulai siap-siap. Sebelum jam enam harus sudah berangkat. Begitupun saat pulang, saya harus tabah sampai di kontrakan habis salat isya’, dan harus segera istirahat untuk berangkat lagi besok pagi.

Di hari ketiga, saya sudah merasa capek. Rasanya, mental saya tidak cukup kuat untuk bertahan dalam ritme begitu. Dan, di hari keempat, saya harus memaksa teman saya untuk mencarikan kost dekat tempat kerja.

Konten-konten Jakarta keras itu nyata

Pengalaman bolak-balik Ciputat-Jaktim itu membuat saya sadar dan merasakan sendiri bagaimana kerasnya hidup di Jakarta. Ya, meskipun saya harus menyerah lebih awal. Tapi, setidaknya, rasa empati ke orang-orang yang sudah bertahun-tahun pergi pulang dari tempat kerjanya yang jauh semakin meresap ke ulu hati.

Dulu saya cuma bisa melihat kerasnya Jakarta dari konten-konten di medsos. Melihat orang-orang yang berebut saling sikut naik transum atau orang-orang pencari kerja yang antre berdesakan, sedih rasanya. Ya, cuma sedih dan haru.

Akan tetapi, setelah merasakan dan mengalaminya sendiri, bukan cuma sedih dan haru, air mata saya ikut jatuh. Betapa capeknya jadi mereka, atau kita. Apalagi ditambah dengan kerja-kerja pemerintah yang tak becus. Sakit rasanya.

Penulis: Abd. Muhaimin
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Juni 2026 oleh

Tags: JakartaJogjakerjakerja di jakartakerja jakartamerantau
Abd. Muhaimin

Abd. Muhaimin

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Bekerja di Penerbit Erlangga. Asli Sumenep, pemerhati isu sosial dan mahasiswa.

ArtikelTerkait

Harapan untuk 'Gubernur Baru' Jogja yang Akan Dilantik pemilihan gubernur jogja

Surat Terbuka untuk Gubernur Baru Jogja: Semoga Lebih Baik ya, Pak!

13 Agustus 2022
5 Kerajaan Jin di Jogja Paling Ikonik yang Menyimpan Kisah Unik (Unsplash)

5 Kerajaan Jin Mengepung Jogja, Bukti Provinsi Ini Memang Ikonik dan Menyimpan Banyak Kisah Unik

4 Juni 2024
Kasta Tempat Melamun Terbaik di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta Pusat Mojok.co

Kasta Tempat Melamun Terbaik di Tengah Hiruk-Pikuk Jakarta Pusat

17 Maret 2025
Balada Hidup di Jogja: Hidup Susah, Mati Lebih Susah

Balada Hidup di Jogja: Hidup Susah, Mati Lebih Susah

29 Juli 2022
Sebagai Orang Surabaya, Saya Lebih Memilih Study Tour ke Malang ketimbang Jogja Mojok.co

Sebagai Orang Surabaya, Saya Lebih Memilih Study Tour ke Malang ketimbang Jogja

19 November 2025
Mie Yamin Bandung vs Jogja, kuliner mana yang lebih enak_ (Unsplash)

Mie Yamin Bandung Superior Dibanding Jogja: Ribut Kuliner yang Efektif Memecah Bangsa

16 November 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Drama Tumbler di XXI: Ketika Membawa Tumbler Dianggap Tindakan Kriminal yang Mengancam Ekonomi Bisnis Bioskop  

Drama Tumbler di Bioskop XXI: Ketika Membawa Tumbler Dianggap Tindakan Kriminal yang Mengancam Ekonomi Bisnis Bioskop  

12 Juni 2026
5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya Mojok.co

5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya

8 Juni 2026
Strategi Nongkrong di Usia 40, Perlu Pertimbangkan Pilihan Tempat sampai Ritual Minum Obat Mojok.co

Strategi Nongkrong di Usia 40, Perlu Pertimbangkan Pilihan Tempat sampai Ritual Minum Obat

12 Juni 2026
Tips bagi Mahasiswa Madura yang Kuliah di Surabaya agar Tetap Bahagia dan Tak Jadi Bahan Tertawaan

Tips bagi Mahasiswa Madura yang Kuliah di Surabaya agar Tetap Bahagia dan Tak Jadi Bahan Tertawaan

13 Juni 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co

Malang Bukan Lagi Kota yang Dingin dan Asri, Kini Ia Menjelma Jadi Kota Panas dan Tak Menyenangkan

10 Juni 2026
Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Mungil Andalan Warlok Pelaju Solo-Jogja Mojok.co

Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Kecil yang Besar Jasanya bagi Warlok Pelaju Solo-Jogja

13 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.