Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pengalaman Merawat Kucing yang Dibuang Babunya karena Scabies Kronis

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
6 Februari 2021
A A
kucing hilang kucing scabies pet lovers memelihara kucing mojok

memelihara kucing mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Entah sejak kapan, rumah saya seakan menjadi rumah singgah bagi para kucing-kucing jalanan yang dibuang. Ada yang datang sekadar mencari partner berkembang biak, ada pula yang singgah karena dibuang oleh majikannya. Seakan para babu kucing (pemilik kucing) tahu, pemilik rumah ini—saya—begitu welcome kepada kucing jalanan.

Para babu ini bisa mikir tempat mana yang sekiranya bakal meruwat kucing jalanan yang dibuang, namun mereka nihil jika membicarakan tentang peri kekucingan. Iya, emang manusia saja yang punya peri-peri keadilan, kucing pun juga. Tinggal tunggu saja sidang PBB, Persatuan Babu-babu, yang bakal merumuskan landasan dasar peri kekucingan ini.

Jika dibuang dalam kondisi sehat saja nggak masalah. Yang jadi soal, saya pernah menerima kucing yang tiba-tiba datang dengan kondisi terkena scabies kronis. Singkat kata, kucing ini saya rawat karena saya mikirnya, mungkin besok sudah menemui ajal. Saya akan beri sebaik mungkin sebelum ia menjemput kematiannya dengan ringan.

Nasib Kucing scabies

Ia nggak mengeong, nggak juga ndusel-ndusel. Hidupnya bagai penuh dengan kelindan air mata. Tubuhnya kuyu. Ia meminta perlindungan saya dengan cara meminta makan dan minum. Saya beri air minum, ia meminum bagai kesetanan. Tubuhnya… demi Tuhan sangat mengenaskan. Malang betul nasibnya dibuang, pun mujur betul nasibnya lantaran bertemu saya.

Jika boleh jujur, saya blassss sama sekali nggak merasa jijik. Walau bentukan kucing yang terkena scabies ini sudah nggak bisa disebut dengan kucing. Kupingnya hampir tertutup oleh jamur, bulu-bulunya sudah dimakan oleh cacing-cacing kecil, dan yang bikin saya makin perih, matanya sudah sulit untuk melek. Dan tubuhnya… Ah, bahkan saya nggak tega untuk menuliskan dengan lebih detail.

Saya pegang kepalanya, saya suruh dia untuk mengeong, blas nggak muncul sama sekali suara itu. “Meong o to, semangat untuk hidup, ojo ambyar terus!” Kata saya seperti sedang ngobrol dengan kawan sehabis nonton konser Lord Didi Kempot.

Ibu saya keluar rumah, melihat kucing scabies yang nestapa itu. Blio langsung ngendikan untuk membawanya berobat. Jujur saja, bertahun-tahun memelihara kucing kampung, baru kali itu saya mempunyai tekad membawa seekor kucing ke dokter hewan.

Cerita Masa Lalu

Kucing saya—beberapa tahun kepungkur—pernah ditembak tetangga saya. Matanya sampai rusak, pun nggak dibawa ke dokter karena ketidaktahuan. Ada juga yang pernah ketabrak motor sampai bagian kakinya rusak, pun nggak dibawa ke dokter. Anehnya, semua selamat walau tanpa dibawa ke dokter.

Baca Juga:

Kucing Tak Hanya Hewan Peliharaan, bagi Petani, Kucing Adalah Pahlawan

Memilih Prabowo Subianto karena Memelihara Kucing adalah Alasan Paling Ngawur!

“Namanya Enjel,” kata Ibu saya lagi, bikin saya kemekelen setengah mati. “Soalnya dia datang bagai mukjizat di keluarga ini ketika Malam Ramadhan.” Hati saya mencelus. Untung Ibu saya nggak ngasih nama Romadhon atau Lailatul. Untung saja.

Lantas saya melihat kucing scabies ini lagi, lamat-lamat saya perhatikan dengan baik dan hormat, lama-lama kasihan juga melihat penderitaannya garuk-garuk tubuh lantaran gatel-gatel. Dompet saya berkata, sudah bawa saja. Uang bukan soal.

Pertama saya bawa ke dokter hewan dekat rumah. Diberi obat semprot yang maaf sekali saya lupa namanya. Katanya, kucing ini scabies. Saya kira, scabies itu penyakit yang keren karena namanya mbois sekali. Sungguh. Setelah Enjel disemprot beberapa hari, bulunya mbrudul semua. Enjel menjadi gundul.

Jamur menghilang, bulu menghilang, Enjel sudah boleh masuk rumah. Ia suka mendekati saya. ketika saya bangun tidur, Enjel sudah di samping saya. Habis mandi, Enjel nunggu di depan pintu kamar mandi. Saya pulang malam, Enjel masih terjaga. Seakan ada hubungan sentimentil di antara kami yang sulit untuk saya tuliskan dan jabarkan dalam paragraf ini.

Beberapa hari setelah saya tidur bersama Enjel, lha kok kaki saya abing-abing nggak karuan. Rasanya guatel setengah mati. Esoknya nanah menghiasi kaki saya. Sungguh menjijikan luka-luka itu. Saya pakai celana jeans pun bekas lukanya nembus. Saya lihat kasur, tungau ganas berkeliaran sana-sini.

“Bawa Enjel ke dokter lagi aja,” kata Ibu saya. Welah, pitikih, yang sakit saya kok malah yang dibawa ke dokter si Enjel. Awalnya saya merasa teralienisasi di rumah sendiri. Jebul Ibu saya punya perkiraan, kutu-kutu ganas bersemayam di bulu-bulu Enjel. Saya endus tubuh Enjel, astaga apek sekali.

Perjalanan Menuju Poliklinik Hewan

Kami membawa Enjel ke Poliklinik Hewan di Giwangan. Sepanjang perjalanan, saya merasakan gatel yang sungguh nggak bisa dijelaskan. Kaki saya kruwal-kruwel, sedangkan Enjel diam, nggak banyak mengeong seperti biasanya. Diem, diem, tau-tau ngising. Itulah Enjel.

Enjel membaik pasca dibawa ke poliklinik. Obatnya pakai obat minum. Hanya habis 75 ribu rupiah. Kaki saya sebaliknya, tambah parah! Udah pakai salep, bedak, sampai obat minum, tetap saja gatel. “Kamu sedang dalam cobaan, seperti Nabi Ayub,” kata Muhammad Arif yang menelpon saya setelah bertanya kenapa dua bulan ini saya jarang keluar.

Sebulan selanjutnya, Enjel membuat saya kaget terheran-heran. Princess Disney butuh bertemu pangeran untuk menjadi cantik, sedang Enjel harus ketemu saya dulu sebelum jadi kucing yang indah bukan main. Saya gendong Enjel, tubuhnya yang dulu buluk, sekarang saya peluk-peluk.

Setelah searching di mesin pencarian, saya malah tertawa ngakak. Scabies yang namanya keren itu, jebul arti lainnya adalah kudis. Demi Jagad Pramudita penguasa alam dan seisinya, kucingku lho kudisan, tak kira dapat penyakit keren apaan kok ya nyebutnya scabies-scabies barang. Kemudian saya ke apotek, melaksanakan self–love ala saya. Lantas bilang, “MBAK, BELI OBAT BUAT ORANG YANG KUDISAN!”

Tapi, itulah Enjel dengan segala problematikanya. Sebab, gara-gara merawat dirinya, saya kehilangan mantan saya. Bukan soal, karena hadirnya Enjel benar-benar bagai malaikat. Setidaknya bagi keluarga saya dan warga sekitar rumah saya. Tetangga-tetangga saya berkumpul di depan rumah, ngelus-ngelus kucing yang sungguh cantik, padahal dulunya ditakuti karena bentukannya sungguh menyeramkan.

Kedekatan Enjel dan Tentangga

Tiap tetangga datang, yang dicari bukan saya, melainkan Enjel. Jujur saja, itu sungguh menyenangkan. Menyenangkan karena saya bisa mengurus kucing liar menjadi kucing yang anggun dan cantik, pun menyenangkan karena memberikan hiburan gratis bagi orang-orang di dekat saya.

Kalau saya sedih, Enjel selalu ndusel di perut saya. Ia nggak bisa ngomong, tapi sorot matanya seakan mbisiki bahwa semua masalah bisa diselesaikan. Kemudian saya elus tubuhnya, matanya merem, semua bakal baik-baik saja. Enjel memberikan keyakinan itu.

Bulunya Enjel sangat halus, nggak seperti dulu yang pating gronjal. Saya sangat sayang Enjel melebihi apapun. Merawat Enjel, mungkin bisa dibilang harga diri saya. Harga diri yang nggak mungkin tergadaikan dan dikecewakan.

Ternyata, kucing jalanan juga butuh tempat yang nyaman. Jika dirawat dengan baik dan benar, mereka tetap memiliki harkat dan martabat sebagai kocheeeng. Sungguh beruntung saya bertemu Enjel. Bagaimana dengan Enjel? Semoga merasakan perasaan yang sama kepada saya.

BACA JUGA Bukan Benci, Ada Alasan Kenapa Perlu Mengusir Kucing dari Rumah dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 November 2025 oleh

Tags: Kucingscabies
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

5 Rekomendasi Film Tentang Kucing yang Bikin Kita Makin Sayang Anabul Terminal Mojok

5 Rekomendasi Film Tentang Kucing yang Bikin Kita Makin Sayang Anabul

8 Maret 2022
Kucing Liar Adalah Hama Terminal Mojok

Kucing Liar Adalah Hama

12 Desember 2022
10 Ciri Kucing Pembawa Rezeki

10 Ciri Kucing Pembawa Rezeki

21 Februari 2023
jangan buang anak kucing tanpa induknya itu jahat mojok.co

Hey, Jangan Suka Buang Anak Kucing Tanpa Induknya dong!

1 September 2020
Alasan Kenapa Kucing Sangat Suka Duduk dan Tiduran di Atas Laptop Beragam Cara Klaim Wilayah: Dari Kasus Natuna Utara Sampai Kucing Rumahan

Alasan Kucing Sangat Suka Tiduran di Atas Laptop

29 Mei 2020
membuang kucing di pasar

Membuang Kucing di Pasar, Cara Pecundang Lari dari Tanggung Jawab

11 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mobil Matic Dibilang Gampang Rusak, padahal Itu Gara-gara Cara Pakai yang Salah!

Mobil Matic Dibilang Gampang Rusak, padahal Itu Gara-gara Cara Pakai yang Salah!

22 Februari 2026
Dosa Penjual Oseng Mercon, Makanan Khas Jogja Paling Seksi (Wikimedia Commons)

Dosa Penjual Oseng Mercon Menghilangkan Statusnya Sebagai Kuliner Unik, padahal Ia Adalah Makanan Khas Jogja Paling Seksi

23 Februari 2026
Stasiun Indro Bikin Gresik Jadi Daerah Industri yang Terlihat Menyedihkan Mojok.co

Stasiun Indro yang Menyedihkan Membuat Kota Industri Gresik Jadi Terlihat Payah

27 Februari 2026
Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

25 Februari 2026
Yamaha NMAX, Motor yang Tidak Ditakdirkan untuk Dimodifikasi Mojok.co

Yamaha NMAX, Motor Gagah tapi Perawatannya Tak Sama seperti Matic Biasa Lainnya

25 Februari 2026
Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang Mojok.co

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

23 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO
  • Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah
  • Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya
  • Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali
  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya
  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.