Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

M. Daviq Nuruzzuhal oleh M. Daviq Nuruzzuhal
8 April 2026
A A
Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Share on FacebookShare on Twitter

Saya orang Demak yang hampir setiap hari ke Kudus. Belanja ke pasar, antar-jemput ponakan sekolah, dan urusan-urusan kecil lainnya yang bikin saya hafal betul jalanan di kota kretek ini. Hafal tikungannya, hafal macetnya, dan tentu saja—hafal di mana saja badut dan manusia silver berdiri menunggu mangsa.

Sebelum kalian pikir ini tulisan membenci Kudus, izinkan saya meluruskan: saya justru kagum sama kota ini. Serius. Buat ukuran kota kecil di Jawa Tengah, Kudus itu overachiever. Bayangkan, ada Menara Kudus yang jadi ikon wisata religi, taman-taman kota yang bersih dan tertata, fasilitas kesehatan yang memadai, stadion olahraga, pusat pendidikan yang oke. Mau wisata religi? Ada. Mau jajan jenang? Tinggal tunjuk. Olahraga? Fasilitasnya siap. Pendidikan? Banyak pilihan.

ADVERTISEMENT

Kudus itu paket lengkap, kayak gebetan yang ganteng, mapan, rajin ibadah, gak merokok dan baik sama kucing—terlalu sempurna sampai bikin curiga. Dan kecurigaan saya terbukti benar.

Karena di balik segala kesempurnaan Kudus, ada satu hal yang konsisten merusak mood saya setiap kali berkendara di sana: badut dan manusia silver di lampu merah. Bukan satu-dua persimpangan. Bukan sesekali. Tapi di hampir semua lampu merah. Dari rumah saya sampai ke alun-alun Kudus saja, saya harus melewati sekitar lima lampu merah. Dan di kelimanya—saya ulangi, di kelimanya—selalu ada badut atau manusia silver yang siap menyambut saya dengan ember Tango dan tatapan penuh harap.

Lima lampu merah, lima badut. Konsistensi macam apa ini? Bahkan saya yang berangkat belanja ke pasar saja nggak sekonsisten itu—kadang mampir warung kopi dulu, kadang ketiduran. Tapi badut-badut ini? Mereka sudah stand by seolah-olah ada absensinya.

Mari berhitung

Coba kita hitung pakai matematika warung kopi. Katakanlah saya nggak tega dan kasih seribu rupiah per badut—angka paling kecil supaya nggak dikira ngece. Lima lampu merah, berarti lima ribu sekali jalan. Pulangnya lewat jalan yang sama, ketemu badut yang sama, tambah lima ribu lagi. Sepuluh puluh ribu per hari. Kalikan dua puluh enam hari kerja, sudah dua ratus enam puluh ribu sebulan. Dua ratus enam puluh ribu! Itu lebih mahal dari langganan WiFi rumah saya.

Saya bahkan belum menghitung ongkos bensin Demak-Kudus, dan ternyata biaya badut sudah bisa menandingi satu pos pengeluaran bulanan. Kalau ada aplikasi catatan keuangan yang menyediakan kategori “Badut & Manusia Silver”, saya mungkin pengguna pertamanya.

Dan yang paling bikin saya gerah bukan keberadaan mereka. Bukan. Saya paham, semua orang butuh makan. Yang bikin saya nggak nyaman itu caranya. Anda pernah berhenti di lampu merah di Kudus, terus tiba-tiba ada sosok berwajah putih pucat atau pakai topeng seram sembari berdandan warna-warni menyodorkan ember Tango tepat di depan badan Anda? Bukan sekadar menyodorkan, tapi mempertahankan posisi itu selama lampu merah belum hijau.

Baca Juga:

Alasan Kenapa Saya Tidak Betah Tinggal di Demak

Betapa Beruntungnya Punya Rumah Dekat Jalan Lingkar Utara Kudus, Selalu Ada Hiburan Balap Liar Datang Tanpa Undangan

Ember itu nggak bergerak. Badutnya nggak pergi-pergi. Anda sudah geleng-geleng kepala, sudah pura-pura sibuk cek HP, sudah alihkan pandangan ke arah lain—ember itu tetap di situ. Statis. Sabar. Menunggu. Lebih sabar dari saya menunggu ponakan yang bilang “sebentar lagi keluar” tapi baru muncul dua puluh menit kemudian.

Rasanya awkward luar biasa. Mau kasih uang tapi males buka-buka dompet dalam tas. Tapi mau nggak kasih ya gimana, wong ada manusia bercat silver atau berkostum badut berdiri sejengkal dari Anda, menatap dengan mata memelas sementara pengendara lain juga ikut melirik. Kalau di film horor, adegan ini pasti sudah masuk kategori jumpscare.

Bagaimana perasaan turis di Kudus?

Saya kadang membayangkan, bagaimana kalau ada turis yang pertama kali ke Kudus. Mereka sudah kagum lihat Menara Kudus, sudah terpesona sama jenang dan soto khasnya, sudah memuji taman kotanya yang tertata. Lalu mereka berhenti di lampu merah dan disambut segerombolan badut nyodorin ember. Apa yang akan mereka pikirkan? Mungkin mereka mengira ini semacam welcome ceremony yang unik. Atau mungkin mereka langsung putar balik.

Yang bikin saya tambah gemas, Kudus itu jelas-jelas punya potensi dan upaya besar untuk menjadi kota yang nyaman. Bahkan Ferry Irwandi and the geng aja sampek bikin konten tentang Kudus buat diupload di kanal YouTube Malaka. Pemerintahnya sudah berusaha membangun taman, merapikan jalan, meningkatkan fasilitas publik. Tapi semua usaha itu terasa kurang greget ketika di setiap persimpangan ada badut dadakan yang nggak ada di brosur wisata mana pun.

BACA JUGA: Kabupaten Kudus Memang Layak Dinobatkan sebagai Kabupaten Terkaya di Jawa Tengah, Inilah Alasannya

Tidak menyalahkan, tapi…

Saya nggak menyalahkan individunya. Sekali lagi, semua orang butuh hidup. Tapi kalau fenomena ini ada di setiap lampu merah di kota yang fasilitasnya selengkap Kudus, bukankah itu jadi pertanyaan besar? Kota yang punya segalanya tapi belum bisa menertibkan satu hal ini. Kalau boleh diibaratkan rasanya kayak makan mie-bakso komplit tapi sendoknya patah.

Jadi, jangan dulu bilang Kudus kota sempurna. Tunggu sampai Anda melewati lima lampu merah berturut-turut dan selamat dari lima ember Tango yang disodorkan tepat di depan dada Anda. Kalau setelah itu Anda masih bilang sempurna, berarti mental Anda yang sempurna—bukan kotanya.

Tapi ya, besok saya tetap ke Kudus lagi sih. Namanya juga ponakan harus dijemput. Dan badut-badut itu, ya, mereka juga tetap akan ada di sana. Rasanya kami sudah seperti rekan kerja yang nggak pernah saling sapa tapi selalu bertemu setiap hari. Hubungan paling konsisten dalam hidup saya, begitu kalau dipikir-pikir.

Penulis: M. Daviq Nuruzzuhal
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kalau Mau Menua dengan Tenang, Jangan Nekat ke Jakarta, Menetaplah di Kudus!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 April 2026 oleh

Tags: kuduslampu merah di kudusmanusia silvermenara kudus
M. Daviq Nuruzzuhal

M. Daviq Nuruzzuhal

Mahasiswa UIN yang lagi skripsian di rumah, suka menulis isu-isu random yang bikin resah orang banyak.

ArtikelTerkait

Seserahan Bikin Pemuda Plat K Trauma Nikah, karena Gengsi dan Jumlah Seserahan Jauh Lebih Penting ketimbang Cinta dan Kesiapan

Seserahan Bikin Pemuda Plat K Trauma Nikah, karena Gengsi dan Jumlah Seserahan Jauh Lebih Penting ketimbang Cinta dan Kesiapan

23 September 2025
Kalau Mau Menua dengan Tenang, Jangan Nekat ke Jakarta, Menetaplah di Kudus!

Kalau Mau Menua dengan Tenang, Jangan Nekat ke Jakarta, Menetaplah di Kudus!

14 Agustus 2025
4 Pertanyaan Bodoh ketika Diterima Kuliah di Kudus (Pixabay)

4 Pertanyaan Bodoh ketika Diterima Kuliah di Kudus, Kabupaten Terkecil di Pulau Jawa

8 November 2022
Bukit Puteran, Sebaik-baiknya Tempat Menyaksikan Romantisnya Kudus kabupaten kudus DEMAK

Bukit Puteran, Sebaik-baiknya Tempat Menyaksikan Romantisnya Kudus

13 November 2023
4 Alasan Mixue Menjajah Kudus, padahal Kotanya Nggak Seberapa Besar

4 Alasan Mixue Menjajah Kudus, padahal Kotanya Nggak Seberapa Besar

1 November 2023
Warga Ibu Kota, Nggak Perlu Nyinyir kalau Orang Daerah Antre Mie Gacoan Terminal Mojok.co kudus

Pengalaman War Opening Outlet Mie Gacoan di Kudus: Hanya Orang yang Sabarnya Sundul Langit yang Sanggup Antre Berjam-jam demi Mi Pedas

17 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nanas madu Pemalang sering diremehkan karena ukurannya, padahal inilah oleh-oleh yang paling layak dibawa pulang

Nanas madu Pemalang sering diremehkan karena ukurannya, padahal inilah oleh-oleh yang paling layak dibawa pulang

18 Juli 2026
Konflik batin dosen nggak enakan hadapi mahasiswa pemalas: diberi nilai jelek kasihan, diluluskan kok malah ngelunjak Mojok.co

Konflik batin dosen nggak enakan hadapi mahasiswa pemalas: diberi nilai jelek kasihan, diluluskan kok malah ngelunjak

15 Juli 2026
Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng Mojok.co

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

16 Juli 2026
Review Mie Gacoan Bangkalan Madura, Cabang yang Anomali karena Tidak Perlu Antre Mojok.co

Mie Gacoan Bangkalan Madura bisa tutup kalau 3 hal ini tidak diperbaiki

18 Juli 2026
Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer Mojok.co

Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer

19 Juli 2026
Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri Mojok.co

Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri

18 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.