Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Panduan Membedakan Hampers dan Parsel, Jangan Sampai Salah Kirim Pas Lebaran

Ayu Octavi Anjani oleh Ayu Octavi Anjani
12 Mei 2021
A A
Hampers dan Parsel Itu Beda, Mylov, Jangan Sampai Salah Kirim Pas Lebaran terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Tidak terasa Lebaran tinggal besok, Mylov.  Sudah menyiapkan apa saja untuk Lebaran nanti? Baju Lebaran? Ketupat dan opor? Kue nastar? Atau puteri salju? Ah, pasti sudah ready ya semuanya. Kalau dipikir-pikir, Lebaran kali ini terasa sangat berbeda dari tahun-tahun belakangan. Tentu saja apalagi kalau bukan karena pandemi.

Kalau sebelumnya saya pernah menulis tentang inspirasi makeup buat para cewek biar semakin glow up di hari raya nanti, sekarang saya akan menulis tentang satu kebiasaan orang Indonesia saat Lebaran tiba. Tradisi turun temurun ini mah. Yup, budaya berkirim parsel.

Saya paling senang kalau sudah Lebaran dapat kiriman parsel dari sanak saudara dan kantor tempat orang tua saya bekerja. Hahaha. Jujur saja kirim-kiriman parsel itu seru dan biasanya keluarga saya juga berkirim parsel ke sanak saudara jauh. Memang sih sebagai keluarga non-muslim, saya masih memiliki anggota keluarga yang muslim. Seru ya beragam sekali.

Kalau sudah ngomongin parsel, nggak lepas dari yang namanya isian dan dekorasinya. Sering saya lihat parsel-parsel Lebaran itu isinya banyak sekali dan dihias sedemikian rupa jadi sangat menarik perhatian. Yang saya tahu sih selama ini parsel sering diisi dengan berbagai biskuit kaleng, sirup, dan makanan ringan lainnya.

Tetapi, ada juga lho parsel lebaran yang isinya sembako. Nah, kalau isiannya sembako biasanya kesukaan ibu-ibu. Hahaha.

Parsel Lebaran itu punya banyak jenis dan ukurannya. Kalau lihat di pinggir jalan, mereka yang punya toko kelontong atau minimarket mulai memajang parsel-parsel andalan mereka dengan berbagai isian yang banyak dan menarik. Banyak orang yang hobi membeli parsel langsung jadi atau membeli banyak isian dan membuat parsel sendiri di rumah.

Kalau sudah begini, supermarket pasti penuh sesak menjelang lebaran seperti sekarang ini. Poin menyenangkannya memang di situ. Menghias sendiri parsel-parsel yang akan dikirim ke sanak saudara atau orang-orang terdekat lainnya.

Namun, akhir-akhir ini ramai sekali perbincangan terkait bentuk baru dari parsel, yaitu hampers. Mungkin masih banyak masyarakat Indonesia yang belum akrab dengan yang namanya hampers. Tetapi, nggak sedikit juga yang menyamakan parsel dengan hampers. Padahal keduanya jelas-jelas berbeda.

Baca Juga:

Stop Kirim Makanan, Ini 4 Ide Hampers Natal yang Nggak Mainstream dan Berguna

Bukan karena Rasanya Enak, Biskuit Khong Guan Dibeli karena Bisa Memberi Status Sosial

Dari kata parsel dan hampers saja sudah beda, Mylov. Parsel itu berasal dari serapan bahasa Inggris “parcel” yang artinya sesuatu yang sudah dibungkus. Kalau hampers atau “hamper”, mengacu pada bahasa Inggris yang artinya keranjang. Nah, kan beda. Tapi, banyak orang yang masih mengira parsel dan hampers itu sama.

Kadang parsel dan hampers terlihat sama, ya, lantaran sama-sama dikirim dengan menggunakan keranjang. Meskipun parsel tidak menggunakan keranjang secara harfiah, namun kadang saya melihat seperti bentuk anyaman bambu.

Dalam arti sebenarnya, parsel itu semuanya dibungkus rapi menggunakan kertas. Kalau dalam konteks parsel Lebaran, makanan dibungkus rapi dengan plastik. Sedangkan hampers seharusnya memang dikirim dalam bentuk keranjang anyaman bambu. Isian dari hampers diletakan didalam wadah serupa keranjang. Mirip-mirip keranjang buah lah.

Akan tetapi, sekarang istilah hampers banyak dipakai oleh mereka yang berjualan barang-barang satu paket lalu dimasukan ke dalam wadah apa pun yang tidak selalu keranjang. Misalnya, saya sering melihat di media sosial orang-orang berjualan hampers berwadahkan box yang terbuat dari kardus.

Sejauh ini, hampers punya perlakuan khusus dalam cara pengirimannya. Hampers nggak boleh dikirim sembarangan karena harus dipisahkan dari barang lainnya supaya tidak terbentur dan berakhir rusak. Loh, kalau menurut saya pengiriman parsel juga sama, dong, dengan hampers. Nggak boleh terbentur dan rusak. Apalagi kalau isinya makanan dan barang pecah belah.

Akhir-akhir ini banyak orang lebih senang dengan penyebutan dan bentuk hampers ketimbang parsel. Katanya sih dengan hampers merasa lebih fancy dan mewah saja gitu. Ah, padahal mah sama saja mewahnya. Kan semuanya tergantung isinya. Coba saja isi parsel dengan uang pecahan Rp100 ribu berlembar-lembar. Kan jadi mewah~

Tak salah sih kalau banyak orang lebih suka hampers ketimbang parsel karena penataannya dianggap lebih eksklusif, unik, dan klasik. Duh, bawaannya pasti ingin sekali mengirimnya ke orang-orang terdekat, ya. Apalagi di momen spesial seperti Lebaran.

Sumber Gambar: YouTube Mita Flo

BACA JUGA Jangan Sedih Jika Tidak Ada yang Mengirimkan Hampers Lebaran untuk Kamu dan tulisan Ayu Octavi Anjani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 November 2021 oleh

Tags: hampersLebaranMomen Lebaranparsel
Ayu Octavi Anjani

Ayu Octavi Anjani

Mahasiswa akhir yang hobi makan dan nulis.

ArtikelTerkait

Di Daerah Saya, Ketupat Tidak Disajikan di Momen Idulfitri, Melainkan Disajikan di Tradisi Kupatan terminal mojok

Di Daerah Saya, Ketupat Tidak Disajikan di Momen Idulfitri, Melainkan Saat Tradisi Kupatan

13 Mei 2021
gendurenan

Gendurenan: Tradisi Thanksgiving Ala Desa Temulawak

11 September 2019
Derita Penjahit Kebanjiran Order Menjelang Lebaran hingga Nggak Punya Waktu Libur Mojok.co

Derita Penjahit Kebanjiran Pesanan Menjelang Lebaran hingga Nggak Punya Waktu Libur

31 Maret 2024
Memaklumi Uang THR yang Dipegang Ibu dan Tak Kunjung Dikembalikan terminal mojok.co

Memaklumi Uang THR yang Dipegang Ibu dan Tak Kunjung Dikembalikan

16 Mei 2021
Mencuci Piring Saat Lebaran, Kegiatan yang Perlu Dihindari

Mencuci Piring Saat Lebaran, Kegiatan yang Perlu Dihindari

23 April 2023
3 Alasan Kenapa Mahasiswa Jauh Lebih Pantas dan Harus Dikasih THR daripada Anak-anak

3 Alasan Kenapa Mahasiswa Jauh Lebih Pantas dan Harus Dikasih THR daripada Anak-anak

30 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.