Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia

Yudhistira Adityawardhana oleh Yudhistira Adityawardhana
25 Maret 2026
A A
Pengalaman Kuliah S3 di Taiwan Bikin Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia Mojok.co

Pengalaman Kuliah S3 di Taiwan Bikin Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya telah menyelesaikan pendidikan S3 di Taiwan pada tahun 2025 melalui beasiswa penuh dari kampus, National Taiwan University of Science and Technology (NTUST). Beasiswa ini memberikan kebebasan karena tidak mengikat penerimanya dengan kontrak kerja setelah lulus. Misalnya saja saya, tidak ada yang mempermasalahkan dengan pilihan saya kembali ke Indonesia untuk beristirahat sekaligus cari kerja. 

Saat mendaftar pada tahun 2022, beasiswa ini memang tidak sepopuler program seperti LPDP, Fulbright, atau Chevening. Proses seleksinya pun nggak ribet, relatif sederhana hanya melalui seleksi berkas tanpa wawancara. Saya pun coba-coba dan berhasil lolos. 

Tantangannya justru muncul setelah diterima kuliah di Taiwan. Terutama dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Indonesia di negeri orang yang beda bahasa dan budaya. Pengalaman yang bikin nangis, tapi sekaligus membuat saya makin “kaya” sebagai manusia. 

Kuliah di Taiwan dengan dana terbatas bikin pandai mengatur keuangan

Beasiswa yang saya terima mencakup biaya kuliah dan uang saku sekitar Rp9 juta per bulan. Jumlah tersebut memang tidak besar dibanding beasiswa lain. Apalagi duit itu belum termasuk tempat tinggal dan asuransi kesehatan. Tentu sebagai mahasiswa asing mendang-mending, duit itu harus dikelola dengan cermat supaya cukup. 

Beasiswa ini hanya berlaku 3 tahun, sesuai dengan masa studi S3 yang memang dirancang 3 tahun saja. Walau begitu, kenyataannya, lulus tepat waktu begitu sulit, banyak mahasiswa yang melebihi masa studi. Kalau hal seperti ini terjadi, penerima beasiswa kampus hanya dibebaskan biaya kuliah saja selama satu tahun tanpa uang saku. 

Berat bukan? Tekanan untuk lulus tepat waktu cukup besar. Namin, dari situ saya belajar untuk mengatur keuangan dan ekspektasi. 

Tantangan bahasa dan budaya

Bukan hanya soal mengatur uang dan akademik, tantangan terbesar sebagai mahasiswa Indonesia di luar negeri soal adaptasi bahasa dan budaya. Di Taiwan, tidak semua orang fasih berbahasa Inggris, sehingga saya perlu mempelajari dasar-dasar bahasa Mandarin untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini cukup sulit karena harus dibarengi dengan tuntutan riset yang padat. 

Perbedaan gaya komunikasi juga terasa di lingkungan laboratorium. Beberapa mahasiswa dari negara lain lebih berani menyampaikan pendapat atau bahkan berdebat dengan pembimbing. Sementara itu, sebagai orang Indonesia, saya terbiasa menunjukkan sikap hormat dan cenderung lebih berhati-hati dalam berbicara. Hal ini kadang menjadi tantangan karena sistem akademik internasional justru menghargai keterbukaan dan argumentasi.

Baca Juga:

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

Bekerja Menjadi Akademisi di Surabaya Adalah Keputusan Bodoh, Kota Ini Cuma Enak untuk Kuliah

Berjumpa orang dari berbagai negara

Lingkungan kampus di NTUST sangat internasional. Saya bertemu mahasiswa dari berbagai negara seperti India, Pakistan, Ethiopia, Paraguay, Filipina, dan Thailand. Interaksi ini menjadi pengalaman berharga, tetapi juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam hal komunikasi, budaya, dan cara berpikir.

Kalau boleh berbagi salah satu pengalaman menarik, saya senang berinteraksi dengan mahasiswa Thailand. Secara budaya, mereka relatif lebih dekat dengan Indonesia dibandingkan negara lain. Namun, tetap ada perbedaan dalam cara belajar dan berkomunikasi. 

Mahasiswa Thailand cenderung lebih santai dalam diskusi akademik, sementara sistem di kampus mendorong mahasiswa untuk aktif dan kritis. Sebagai WNI, saya berada di tengah-tengah, harus menyesuaikan diri dengan budaya akademik internasional tanpa kehilangan karakter sendiri

Musim di Taiwan yang bikin syok

Selain budaya, faktor lingkungan juga menjadi tantangan besar. Taiwan memiliki empat musim, berbeda dengan Indonesia. Musim panas terasa sangat panas dan lembap, bahkan lebih ekstrim dibandingkan di Indonesia. Sebaliknya, musim dingin menghadirkan suhu yang cukup rendah dengan angin yang menusuk. Kondisi ini memengaruhi produktivitas dan kesehatan, sehingga perlu adaptasi fisik maupun mental.

Tidak hanya itu, Taiwan juga sering mengalami badai taifun. Bagi saya yang berasal dari Indonesia, kondisi ini cukup mengejutkan dan menuntut kewaspadaan ekstra. Pengalaman menghadapi bencana alam di negara lain memberikan perspektif baru tentang pentingnya kesiapan dan adaptasi.

Hidup di luar negeri memberikan banyak pengalaman yang bikin syok. Anehnya, walau awalnya sulit, pengalaman ini membuat saya merasa “naik kelas” dalam hidup. Dan, pada akhirnya, saya pun sadar tidak ada tempat tinggal yang benar-benar sempurna. Bahkan, negara maju sekelas Taiwan pun punya kekurangan. 

Penulis: Yudhistira Adityawardhana
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Maret 2026 oleh

Tags: Kuliahkuliah taiwanMahasiswamahasiswa luar negeriS3studitaiwan
Yudhistira Adityawardhana

Yudhistira Adityawardhana

ArtikelTerkait

staf tu fakultas yudisium wisuda lulus mojok

Di Kampus Saya, Orang Paling Menyebalkan Bukanlah Dosen Pembimbing, tapi Staf TU Fakultas

16 November 2020
3 Jenis Dosen Red Flag yang Sebaiknya Dihindari Mahasiswa kalau Mau Kuliah Lancar Mojok.co

3 Jenis Dosen Red Flag yang Sebaiknya Dihindari Mahasiswa kalau Mau Kuliah Lancar

10 Januari 2024
jurnal ilmiah kemendikbud mojok

Kok Bisa Kemendikbud Nggak Masukin Situs Jurnal Ilmiah dalam Daftar?

1 November 2020
orang desa, anak kuliahan

Masyarakat Desa dan Anggapan Anak Kuliahan Pasti Bisa Melakukan Apa Saja

12 Mei 2020
Mengenal Jurusan Metrologi yang Sering Disalahpahami sebagai Jurusan Meteorologi, padahal Kami Nggak Mempelajari Cuaca Sama Sekali!  Mojok.co

Mengenal Jurusan Metrologi yang Sering Disalahpahami sebagai Jurusan Meteorologi, padahal Kami Nggak Mempelajari Cuaca Sama Sekali! 

20 Mei 2024
hidup mahasiswa indonesia stan

Apakah Mahasiswa STAN Kenal Jargon “Hidup Mahasiswa Indonesia”?

1 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Dipatiukur, Titik Kumpul Permasalahan Kota Bandung, Semuanya Ada!

Jalan Dipatiukur, Titik Kumpul Permasalahan Kota Bandung, Semuanya Ada!

22 Maret 2026
5 Hal yang Bisa Dibanggakan Kota Bandung meski Tata Kelolanya Buruk dan Transportasi Umumnya Tidak Layak

Seolah Tidak Mau Saya Pergi, Selalu Ada Alasan untuk Tetap Tinggal di Bandung

23 Maret 2026
Bupati Blora, Kontenmu Nggak Akan Mampu Menutupi Bobroknya Kinerja Pemkab!

Bupati Blora, Kontenmu Nggak Akan Mampu Menutupi Bobroknya Kinerja Pemkab!

25 Maret 2026
BEM Unesa Gerombolan Mahasiswa Malas Kerja, Cuma Cari Muka (Ardhan Febriansyah via Wikimedia Commons)

Kuliah di Unesa Surabaya Itu Sangat Menyenangkan, asal Dosennya Betul-betul Ngajar, Bukan Ngebet Jurnal

20 Maret 2026
Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi (Unsplash)

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

19 Maret 2026
Lotek Khas Solo Bikin Pencinta Lotek Asal Jogja Culture Shock

Lotek Adalah Kuliner Favorit Warga Jogja yang Lebih Janggal dan Lebih Ganjil daripada Gudeg

20 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Soft Saving, Jalan Pintas Gen Z Ingin Menabung Ala Kadarnya tapi Masih Prioritaskan Penuhi Gaya Hidup Usia Muda
  • Penyakit Kronis Pemuda di Desa: Gampang Utang Bank untuk Hal Tak Penting, Cicilan Pikir Keri buat Ortu Terbebani
  • Alumnus UT Buka Bisnis Foto ala Newspaper di Jalan Tunjungan, Satu Cetak Hanya Rp5 Ribu tapi Untungnya Bisa Sejuta dalam Sehari
  • Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah
  • Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega
  • Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.