Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mahasiswa Sebaiknya Menahan Diri untuk Tidak Demonstrasi di Masa Pandemi

A. Fikri Amiruddin Ihsani oleh A. Fikri Amiruddin Ihsani
10 Juli 2020
A A
mahasiswa unjuk rasa mojok

mahasiswa unjuk rasa mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Saat tulisan ini ditulis, sedang terjadi demonstrasi mahasiswa di depan salah satu kampus negeri di Surabaya. Sebetulnya sangat disayangkan, mengingat perkembangan kasus Covid-19 khususnya di Surabaya masih terus meningkat.

Terhitung sampai tulisan ini ditulis, sebaran kasus positif Covid-19 di Surabaya mencapai angka 6.573 kasus. Dari 6.573 kasus itu terbagi menjadi 2962 orang dalam perawatan, 3071 sembuh, dan 540 pasien meninggal dunia.

Selain itu, beberapa waktu yang lalu Kepala BNPB Doni Monardo mengungkapkan bahwa aksi unjuk rasa di tengah pandemi virus Corona itu melanggar undang-undang.

Bahkan sebelum demonstrasi berlangsung, beberapa mahasiswa sempat berkumpul di depan kampus. Ditambah lagi tersiar kabar bahwa demonstrasi yang dilakukan oleh segelintir Mahasiswa itu sampai menutup akses jalan raya di depan kampus.

Hal itu tentu saja justru malah meresahkan masyarakat, ditambah lagi juga rentan terpapar Covid-19. Selain itu, apa yang mereka lakukan bisa dikatakan tidak peka terhadap penderitaan bangsa yang saat ini fokus menangani pandemi.

Aksi yang dilakukan mahasiswa di depan kampus itu mengajukan beberapa tuntutan di antaranya kampus wajib menerima pengajuan mahasiswa yang meminta pemotongan UKT, transparansi dana kampus, dan menetapkan SOP perkuliahan semester gasal yang efektif dan efisien.

Bisa jadi benar kampus telah gagal menyejahterakan seluruh mahasiswa. Namun, menurut saya turun ke jalan adalah jalur terakhir yang ditempuh, setelah jalur-jalur lain seperti negosiasi gagal menemui titik terang.

Saya mengapresiasi kepedulian mereka atas teman-temannya yang kesulitan bayar uang kuliah di masa pandemi ini. Namun, di sisi lain saya menyayangkan adanya demonstrasi yang semestinya belum perlu dilakukan di masa pandemi.

Baca Juga:

Nasib apes mahasiswa tanggung, susah dapat beasiswa karena kebanyakan untuk mahasiswa kurang mampu

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

Di masa pandemi ini alangkah baiknya para mahasiswa itu melakukan aksi bantuan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan, mengedukasi masyarakat yang hanya menggantungkan masker di lehernya, dan memberikan pemahaman kepada masyarakat yang nekat berkumpul tanpa mengindahkan protokol kesehatan.

Padahal, di masa pandemi saat ini banyak sekali alternatif lain untuk membantu teman-teman mahasiswa yang kesulitan bayar uang kuliah. Misalnya membangun usaha kolektif atau membuat produk lokal yang nanti hasilnya disumbangkan kepada mahasiswa yang membutuhkan.

Menjadi agen perubahan dan kontrol sosial masyarakat, tidak harus selalu turun ke jalan. Pasti ada banyak alternatif lain yang bisa dilakukan. Apalagi yang dihadapi adalah birokrasi perguruan tinggi.

Mahasiswa dan pihak birokrat kampus dengan kemampuan akademis yang baik, sudah semestinya menampilkan cara-cara bijaksana dalam menyelesaikan persoalan. Bukan malah menimbulkan kemacetan dan menghambat aktivitas masyarakat.

Memang benar, aksi massa seperti demonstrasi turun ke jalan yang dilakukan oleh mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi sudah diatur dalam Pasal 9 UU Nomor 9 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

Namun, demonstrasi dengan turun ke jalan saat ini tentu tidak tepat. Selain rentan terpapar virus Corona, aksi turun ke jalan juga rentan terjadi gesekan fisik, ancaman keamanan, dan bahkan kekerasan yang berakibat fatal.

Sehingga alangkah baiknya para mahasiswa itu menahan diri untuk tidak demonstrasi yang melibatkan banyak orang. Di era digital seperti sekarang ini mereka tentu saja bisa memanfaatkan media sosial.

Seperti aksi yang dilakukan oleh mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan tagar #GunungDjatiMenggugat dan oleh mahasiswa UIN Walisongo Semarang dengan tagar #uinwalisongomelawan.

Menurut saya, aksi massa yang dilakukan secara virtual oleh mahasiswa di kedua kampus tersebut akan lebih mudah sampai di telinga para pemangku kebijakan kampus. Dan bahkan bukan tidak mungkin kementrian dan lembaga terkait juga ikut mengawal tuntutan para mahasiswa.

Dengan seruan melalui virtual tentu para mahasiswa akan sedikit aman dari tindakan represif aparat dan juga meminimalisir dampak yang merugikan aktivitas masyarakat. Selain itu, waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan pun tidak banyak.

Demonstrasi dengan turun ke jalan itu sebenarnya sah-sah saja, dan bahkan dilindungi oleh undang-undang. Namun, pada saat kondisi pandemi seperti sekarang ini rasanya kurang etis untuk mengumpulkan massa dan berkerumun.

Karena itu, sebagai insan berpendidikan sudah selayaknya kalian menjadi kritis. Namun, kalian juga perlu mempertimbangkan situasi, kondisi, dan dampak yang disebabkan oleh tindakan sosial itu. Meluapkan kekecewaan itu boleh, tapi jangan sampai anarkis dan meresahkan masyarakat.

BACA JUGA Surat Terbuka Untuk Dosen Pembimbing dan tulisan A. Fikri Amiruddin Ihsani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Juli 2020 oleh

Tags: Mahasiswapandemiunjuk rasa
A. Fikri Amiruddin Ihsani

A. Fikri Amiruddin Ihsani

Pendidik dan Peneliti Kajian Sosial Agama Independen. Fokus pada isu-isu sosial agama populer. Tinggal di Istanbul, namun menyempatkan menengok tanah air setiap libur musim panas.

ArtikelTerkait

persimpangan jalan

Mahasiswa Mahasiswi di Persimpangan Jalan Pasca KKN

14 Juni 2019
Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya Mojok.co

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

29 Januari 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi

Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi

13 Oktober 2025
Di Sleman, Mahasiswa Bisa Hidup dengan Uang 30 Ribu (Unsplash)

Cara Mahasiswa Bertahan Hidup di Sleman dengan Uang 30 Ribu

23 Juni 2024
karya fiksi UT kuliah ekonomi kuliah sastra kuliah online mahasiswa s-1 dan s-2 Sebagai Penulis, Saya Sering Disangka Romantis dan Bisa Menjadi Sekretaris kuliah online

Kuliah Online Bikin Mahasiswa Jadi Banyak Pengeluaran (Sekaligus Keenakan)

6 Mei 2020
Ngekos di Pogung Sleman Memang Nyaman, asal Bisa Berdamai dengan Jalannya yang Menyesatkan Mojok.co

Ngekos di Pogung Sleman Memang Nyaman, asal Bisa Berdamai dengan Jalannya yang Menyesatkan

18 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kartu kredit, contoh terbaik bahwa dunia hanya ramah sama orang kaya

Kartu kredit, contoh terbaik bahwa dunia hanya ramah sama orang kaya

3 Agustus 2026
Berhasil kurangi medsos dan hapus pesan, seporsi kemenangan yang meringankan hidup saya Mojok.co

Berhasil kurangi medsos dan hapus pesan, seporsi kemenangan yang meringankan hidup saya

1 Agustus 2026
Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

2 Agustus 2026
Alasan modal Rp100 miliar lebih baik "disulap" jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren Mojok.co

Alasan modal Rp100 miliar lebih baik “disulap” jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren

2 Agustus 2026
Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026
Ide bisnis buat pebisnis Semarang kalau punya punya 100 miliar (Unsplash)

Ide bisnis yang muncul di kepala saya kalau punya uang 100 miliar adalah bikin rumah kesejahteraan khusus anjing di Semarang

2 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.