Surat Terbuka Untuk Dosen Pembimbing

Untuk Bapak/Ibu dosen pembimbing yang kami hormati. Kami mohon jangan membuat kami kehabisan energi dan kesabaran hanya agar bisa bimbingan dengan lancar.

Artikel

Avatar

Kepada yang terhormat, seluruh Dosen Pembimbing di Muka Bumi ini. Semoga Anda dalam keadaan baik di tengah segala kesibukan Anda yang terjadwal—supaya Anda tidak perlu marah-marah dan merasa kesal ketika melihat mahasiswa datang bimbingan.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat. Izinkan lah saya mewakili kawan-kawan sesama mahasiswa di seluruh Indonesia untuk menyampaikan unek-unek kami yaitu…. Tolong kasih kami kepastian kapan kami bisa bimbingan Pak/Bu.

Bapak/Ibu tau nggak? Sakit loh digantungin kayak gini tuh Pak/Bu. Lagian, kalau kelamaan digantung kayak gini, kapan coba kami-kami ini bisa lamaran???

Sebagai tambahan, kami juga ingin menuntut penghapusan diskriminasi bimbingan dalam bentuk apa pun. Ketahuilah Pak/Bu, sudah bukan rahasia lagi jika selama ini sukses tidaknya proses bimbingan skripsi selalu berbanding lurus dengan kedekatan personal mahasiswa kepada dosen. Hal ini mungkin tidak salah, ya namanya juga manusia, pasti susah untuk menghilangkan penyakit subjektifitasnya. Tapi ya ojok  jadi judes gitu toh Pak/Bu ketika menghadapi mahasiswa-mahasiswa asing yang seumur-umur kalian tidak pernah kalian temui sebelumnya.

Kami juga ingin supaya Bapak/Ibu jangan terlalu suka moody dan ujug-ujug tidak bersedia membimbing kami sampai waktu yang tidak dapat kami prediksi. Bayangkan Pak/Buk betapa menderitanya nasib kami mahasiswa tingkat akhir ini. Ibarat kata nih ya, Pak/Bu, kami ini bagaikan manusia yang terombang-ambing di tengah lautan dengan hanya bermodal ban karet. Itu pun ban karet butut!

Asal Bapak dan Ibu tahu, menunggu kalian supaya kami bisa bimbingan itu kadang-kadang kayak nungguin si dia putus dengan pacarnya. Lamaaaaa~ Belum lagi ketika kita sudah susah payah menunggu Bapak/Ibu di ruang dosen, eh tiba-tiba kami mendengar kabar bahwa kalian pergi dinas di luar, rasanya tuh ya Pak/Bu sama kayak udah nungguin si dia dari lama eh ujung-ujungnya liat dia bahagia bersama sahabat kita. Sakit Pak/Bu, sakiiiit. Bawaannya pokoknya pengin dzikir aja.

Baca Juga:  Kita Tidak Akan Pernah Selesai dari Masalah-Masalah

Oh iya Pak/Bu, kalau semisal di rumah kalian ada masalah, sini cerita-cerita. Jangan sampai gara-gara banyak masalah, kalian akhirnya melampiaskannya pada kami dengan mempersulit skripsi kami. Ya cukup kehidupan aja Pak/Bu yang mempersulit kami, kalian ya jangan ikut-ikutan.

Atau karena kalian punya masalah, lalu kalian merasa boleh mengabaikan waktu bimbingan yang sudah jadi tanggung jawab kalian. Atau malah bersedia membimbing tapi dengan hati dan pikiran yang entah ada di mana. Main coret sana coret sini dan ngasih kritik dan saran yang nggak relevan atau bahkan serampangan.

Kami mohon jangan membuat kami kehabisan energi dan kesabaran hanya agar bisa bimbingan dengan lancar. Bapak/Ibu harus ingat juga kalau selain menyandang beban moral sebagai mahasiswa yang belum lulus-lulus, kami juga masih harus menyandang status jomblo dan pengangguran bahkan nanti ketika kami sudah wisuda, Pak/Bu! Bayangkan betapa beratnya beban kami ini~

Jadi janganlah lagi bapak/ibu berkata ketus dengan bilang, “Memangnya yang saya urusi cuma kamu saja, saya ini sibuk.”

BACA JUGA Ketahui Tipe Dosen Penguji Skripsi dan Kerja Praktik, Supaya Tidak Dibantai Saat Ujian atau tulisan Ririn Erviana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
1.962 kali dilihat

44

Komentar

Comments are closed.