Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Nasib Anak Seni di Sekolah Favorit Bagai Acar di Nasi Goreng: Ada, tapi Dilupakan dan Akan Selalu Diabaikan

Bilqista Ratu Jini oleh Bilqista Ratu Jini
13 Juni 2025
A A
Nasib Anak Seni di Sekolah Favorit Bagai Acar di Nasi Goreng: Ada, tapi Dilupakan dan Akan Selalu Diabaikan

Nasib Anak Seni di Sekolah Favorit Bagai Acar di Nasi Goreng: Ada, tapi Dilupakan dan Akan Selalu Diabaikan

Share on FacebookShare on Twitter

Katanya, Yogyakarta itu kota pendidikan. Isinya sekolah-sekolah negeri favorit. SMP ada SMPN 8 dan SMPN 5. SMA? Jangan ditanya, SMAN 3, SMAN 1, dan SMAN 8 anteng saja di deretan teratas. Konon, kalau bisa masuk ke sekolah favorit ini, otomatis kamu dapat cap “calon orang sukses”. Soal angka, akademik, disiplin, dan prestasi? Sudah tak perlu diragukan. Tapi coba kalau kamu kebetulan anak seni. Mungkin rasanya seperti acar di nasi goreng. Ada atau tidak ada juga tak terasa, alias kamu tidak dianggap.

Saya pernah merasakan bangku salah satu SMA negeri favorit di Yogyakarta. Katanya, tempat ini menampung anak-anak terpilih dari berbagai sudut kota dan kabupaten. Dulu, waktu diterima, senangnya bukan main. Sudah terbayang lingkungan yang mendukung integritas. Sudah terbayang juga nama saya dipajang sebagai siswa berprestasi, dan tentu saja, imajinasi liar jadi murid kebanggaan guru karena berhasil mengharumkan nama sekolah. Tapi, saya salah. Semua imajinasi itu terpatahkan, bahkan setelah saya berhasil mengharumkan nama sekolah di tahun pertama.

Apresiasi yang tidak mengena di hati

Di sekolah saya, tiap Senin itu semacam parade prestasi. Bukan cuma karena upacaranya yang panjang, tapi hampir tiap minggu ada saja siswa yang dipanggil ke depan untuk diberi selamat atas kemenangan mereka. Tapi sebagai seseorang yang berprestasi di bidang seni, saya menyadari satu hal: tak semua kemenangan diperlakukan setara.

Di tahun kedua, saya ikut kompetisi Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional cabang Nasyid. Sebuah cabang seni yang erat kaitannya dengan nilai-nilai keagamaan. Lawannya se-Indonesia Raya. Saya mewakili daerah, terbang jauh ke Makassar, dan bawa pulang gelar juara satu. Sebuah pencapaian yang menurut saya, tidak kalah penting dibanding lomba akademik.

Tapi apa bentuk apresiasi yang saya dapat? Dipanggil ke depan saat upacara. Lalu, selesai.

Sementara siswa yang meraih medali emas dalam lomba sains prestisius, disambut dengan pengalungan bunga dan sorakan. Disebut dalam pengumuman sekolah, dipuji guru-guru, bahkan namanya ditulis besar-besar di papan informasi.

Saya tidak iri pada pencapaiannya. Saya justru salut. Tapi saya jadi bertanya-tanya: kenapa bentuk perjuangan yang berbeda harus dibedakan juga perlakuannya? Mungkin kalian tidak percaya, tapi semakin banyak prestasi yang saya torehkan, semakin banyak pula ujaran kebencian yang saya terima. Bukan soal iri dan dengki, melainkan “melawan ajaran agama”. Lucunya, lomba saya adalah nasyid, yang jelas-jelas di ranah religi, tapi justru dijadikan bahan tuduhan bahwa saya menistakan agama.

Alasannya? Karena saya perempuan. Katanya, perempuan enggak boleh bernyanyi. Katanya, suara perempuan itu aurat.

Baca Juga:

SMA Komplek Surabaya Tidak Sehebat Itu kok, Tak Perlu Diglorifikasi, Tak Perlu Dipuji Sebegitu Tinggi

SMA Komplek Surabaya, Kumpulan SMA Prestisius di Surabaya yang Isinya Siswa dengan Otak Setara Jimmy Neutron

Diabaikan, dilupakan

Padahal yang saya lakukan bukanlah kejahatan atau tindakan kriminal. Saya hanya menjuarai lomba nasyid resmi tingkat nasional. Diselenggarakan oleh lembaga yang sah. Dengan juri yang kompeten. Dengan pesan-pesan dakwah. Tapi tetap saja, ada yang merasa berhak menghakimi.

Lebih menyakitkan lagi, saat sebagian besar guru pun memilih diam. Tak ada yang mencoba memberi dukungan moral secara terbuka, atau sekadar menunjukkan bahwa saya tidak salah mengambil jalan ini. Beberapa guru hanya bertanya sekenanya, “Kamu ikut lomba itu?”, tanpa ada kelanjutan diskusi atau bentuk empati.

Bahkan ketika saya lolos lomba menyanyi tingkat nasional dan berhak maju ke Jakarta, saya sempat konsultasi ke BK karena tak punya dana untuk berangkat. Tapi sekolah tidak mau memberikan sponsor, dan akhirnya saya harus merelakan kesempatan itu hilang begitu saja. Padahal untuk bisa sampai ke tahap nasional, saya sudah mengalahkan puluhan peserta dari seluruh Indonesia. Rasanya seperti mimpi yang direnggut diam-diam, hanya karena bidang yang saya perjuangkan bukanlah “prioritas” di mata sekolah.

Seni sering kali dianggap sebagai pelengkap, bukan prestasi utama. Padahal, proses saya menuju kemenangan lomba itu penuh perjuangan, latihan hingga larut malam, pengorbanan waktu, tekanan mental, serta biaya pribadi. Sama beratnya dengan mereka yang berjibaku dengan teori dan eksperimen. Bahkan saya juga harus menyeimbangkan “angka” akademik. Tapi tetap saja, penghargaan yang saya terima seolah-olah hanya formalitas.

Prestasi anak seni tidak dianggap oleh sekolah

Di sekolah saya dulu, ada semacam hierarki tak kasat mata soal prestasi. Akademik, terutama sains dan penelitian, berada di puncak. Di bawahnya, mungkin ada olahraga atau debat. Di bawahnya lagi, seni, yang sering dianggap sebagai “hobi” dan bukan kompetensi.

Saya tidak menyesal memilih jalan seni. Tapi saya sedih, karena di tempat yang katanya menjunjung tinggi pendidikan, penghargaan hanya diberikan untuk hal-hal yang masuk kategori “serius” versi mereka sendiri. Padahal, tanpa seni, takkan ada panggung megah untuk wisuda. Takkan ada mars sekolah yang dinyanyikan penuh bangga. Tak ada mading menarik yang membuat lorong terasa hidup. Tak ada video dokumentasi yang bisa dikenang, tak ada musik penyemangat saat OSIS bekerja. Semua akan terasa sunyi.

Pahit getir di masa sekolah

Saya yakin banyak anak seni di sekolah-sekolah favorit yang merasakan hal serupa. Bahwa mereka diperlakukan seperti figuran dalam cerita besar bernama “prestasi akademik”.

Di akhir masa sekolah, saya membawa kenangan manis dan getir. Saya bangga dengan apa yang saya capai, tapi juga kecewa dengan sistem yang belum sepenuhnya adil. Saya hanya ingin suatu hari nanti, ketika ada anak seni lain berdiri di podium nasional, mereka tidak hanya diberi upacara, tapi juga tepuk tangan yang sama meriahnya.

Tenang, saya tidak berharap semua orang mendadak paham seni. Tapi saya berharap sekolah-sekolah yang katanya favorit bisa mulai membuka mata. Bahwa ada banyak bentuk kecerdasan, banyak wujud kehebatan, dan banyak cara untuk mengharumkan nama sekolah. Selama ini, anak-anak seni sudah terlalu sering dikesampingkan, padahal merekalah yang diam-diam menjaga semangat, warna, dan rasa di tengah kerasnya tekanan akademik. Sudah saatnya apresiasi tak lagi eksklusif untuk angka dan medali, tapi juga untuk makna dan keberanian.

Penulis: Bilqista Ratu Jini
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Calon Orang Sukses di Jogja Biasanya Pernah Belajar di Sekolah Favorit

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Juni 2025 oleh

Tags: anak senisekolah favorit
Bilqista Ratu Jini

Bilqista Ratu Jini

Sempat ditinggal mimpi. Sekarang ngejar lagi sampai Korea.

ArtikelTerkait

Menyelisik Sikap Orang Tua Pencandu Sekolah Favorit Terminal mojok

Sekolah Favorit dan Sikap Para Orang Tua Pencandunya

5 Februari 2021
SMA Komplek Surabaya, Kumpulan SMA Prestisius di Surabaya yang Isinya Siswa dengan Otak Setara Jimmy Neutron

SMA Komplek Surabaya Tidak Sehebat Itu kok, Tak Perlu Diglorifikasi, Tak Perlu Dipuji Sebegitu Tinggi

29 Februari 2024
Apa Betul Sekolah Favorit Memang Begitu Menjanjikan?

Apa Betul Sekolah Favorit Memang Begitu Menjanjikan?

14 Februari 2020
Biaya Pergaulan di Sekolah Favorit, Tekanan Tak Terlihat yang Begitu Nyata

Biaya Pergaulan di Sekolah Favorit, Tekanan Tak Terlihat yang Begitu Nyata

16 Oktober 2023
SMA Komplek Surabaya, Kumpulan SMA Prestisius di Surabaya yang Isinya Siswa dengan Otak Setara Jimmy Neutron

SMA Komplek Surabaya, Kumpulan SMA Prestisius di Surabaya yang Isinya Siswa dengan Otak Setara Jimmy Neutron

24 Februari 2024
Apa Betul Sekolah Favorit Memang Begitu Menjanjikan?

Jangan Mudah Termakan Embel-embel Sekolah Favorit, Nanti Nyesel

22 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Masalah Utama Tulungagung Bukan Wisata, tapi Tradisi Korupsi di Kursi Bupati

19 Mei 2026
Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan Terminal

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan

15 Mei 2026
6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan Mojok.co

3 Alasan Kuliah di Jatinangor Adalah Training Ground sebelum Masuk Dunia Kerja

18 Mei 2026
Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

18 Mei 2026
Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

14 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.