Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Morotai: Mutiara di Bibir Pasifik yang Diabaikan

Tiara Uci oleh Tiara Uci
6 November 2022
A A
Morotai: Mutiara di Bibir Pasifik yang Diabaikan

Morotai: Mutiara di Bibir Pasifik yang Diabaikan (Rizky Arief via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Infrastruktur yang amat tak memadai

Jika kabupaten ini dikategorikan daerah 3T (Terdepan, Terpencil dan Terluar) oleh negara, saya kira bukan karena warganya malas bekerja, melainkan karena negara tak memberikan akses dan fasilitas yang sama dengan penduduk di daerah yang lebih maju. Meskipun sejak 2015 sudah ada tol laut, tapi harga barang atau kebutuhan sandang, papan, pangan dan peralatan rumah tangga ataupun elektronik masih lebih mahal bila dibandingkan dengan Jawa.

Memang, infrastruktur Morotai bisa dibilang tak memadai. Bagi kalian penduduk Jawa, bayangkan kehidupan kalian 15-20 tahun yang lalu, seperti itulah Morotai. Saya tahu, saya lebay, tapi saya kira itu gambaran yang lumayan tepat agar kalian paham betapa tertinggalnya salah satu daerah terindah di Indonesia ini.

ADVERTISEMENT

Lantaran infrastrukturnya kurang mendukung, sejujurnya membangun BTS di Morotai juga ribet. Kita harus membawa material tower menggunakan jalur udara, darat, dan laut dengan usaha ekstra.

Bagi kalian yang masih ngotot sampe sekarang bilang nggak makan infrastruktur, saya sarankan benamkan kepala kalian ke tumpukan tahi kerbau.

Sebenarnya Morotai memiliki bandara udara warisan Sekutu yaitu Pitu Morotai (Leo Wattimena) yang membuka rute dari Ternate ke Morotai dengan jadwal penerbangan satu kali sehari. Namun, pesawat yang digunakan bukan pesawat besar, melainkan pesawat kecil dengan baling-baling yang dioperasikan oleh Wings Air. Jangan tanya maskapai lain macam Citilink atau Turkies Airlines, jelas nggak ada.

Nah, lantaran pesawatnya kecil, material BTS yang kebanyakan besi panjang dan beberapa perangkat keras lainnya tentu tidak memungkinkan diangkut seluruhnya dengan pesawat.

Membangun Morotai, membangun manusia

Meskipun pekerjaan saya di pulau ini melelahkan, tapi saya menikmatinya. Mungkin karena orang Morotai ramah. Menurut saya, mereka suka menari/berjoget, gemar bernyanyi dan mudah tertawa.

Selain bekerja sebagai nelayan dan petani, beberapa orang di sini juga menafkahi keluarganya dengan membuat kerajinan tangan berupa cinderamata dari besi putih yang bahan bakunya diperoleh dari bekas senjata atau material peninggalan Perang Dunia II.

Baca Juga:

3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet, Berisik, dan Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan

Morotai memang pernah menjadi wilayah penting dalam Perang Dunia II. Daerah ini dijadikan pangkalan operasi Sekutu yang memperebutkan Filipina dengan Jepang di PD II. Nggak susah menemukan sisa-sisa peninggalan PD II di Morotai, puing-puingnya tersebar di daratan dan terkubur di lautan (saat ini dijadikan salah satu spot diving). Dan sebagian yang masih utuh disimpan dalam museum swadaya Perang Dunia II yang berlokasi di Morotai Selatan.

Selain itu, sisa senjata atau besi yang terkubur di tanah biasanya ditemukan petani dan dijual ke pengrajin besi putih. Jangan bertanya kenapa nggak disetor ke museum. Namanya juga orang mencari nafkah, kalian sebaiknya nggak perlu nyinyir sebelum pernah berkunjung dan tinggal di pulau ini.

Pulau Morotai juga masuk dalam 15 wilayah KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) yang sedang digarap oleh pemerintah Indonesia dengan potensi utama perikanan dan pariwisata. Menteri Sandiaga Uno dan beberapa artis seperti Slank, Keanu, Anang kerap mempromosikan Morotai sebagai destinasi wisata yang memiliki keindahan alam yang memukau.

Masalahnya, rencana pemerintah memajukan pariwisata Morotai itu tampak lucu ketika tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur dan meningkatkan SDM secara bersamaan. Bahkan, di Universitas Pasifik nggak ada jurusan pariwisatanya, lho.

Saya nggak mau sotoy sih, saya kurang tahu apakah pariwisata adalah sektor ekonomi yang bagus bagi penduduk Morotai atau sebaliknya (baca: kurang tepat karena tidak mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang banyak). Namun, jika mendengar cerita dari Iswan, beberapa resort yang ada di Pulau Morotai itu justru dimiliki oleh orang asing sehingga perekonomian penduduk setempat masih tetap jalan di tempat. Ada sih, warga lokal yang terserap tenaganya ke industri pariwisata ini, tapi jumlahnya sangat terbatas.

Morotai menyadarkan saya ada benarnya kalau ada orang bilang negara itu pilih kasih. Andai Morotai tak jadi destinasi wisata yang baru, mungkin pulau ini akan selamanya tertinggal. Ketika perhatian datang pun, karena mereka punya tujuan lain. Dan jelas bukan warga lokal yang untung, formulanya memang selalu begitu.

Tiga tahun di Morotai, kemanusiaan saya terbangun. Saya benar-benar sadar bahwa segala yang saya punya, meski kadang tak saya syukuri, ternyata adalah anugerah. Kemanusiaan yang terbangun, membuat saya bertanya-tanya kepada diri sendiri: bagaimana bisa negara dengan keindahan seperti ini, diperlakukan seperti ini?

Ketika tower selesai dibangun, dan hotel dipenuhi wisatawan kaya, warga lokalnya tetap terpaksa sederhana dan hidup apa adanya. Seakan-akan, yang patut dirawat hanya yang menyetorkan rupiah (atau dolar) dalam jumlah yang besar.

Penulis: Tiara Uci
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Hal yang Saya Rasakan Saat Tinggal di Pulau Terluar Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 6 November 2022 oleh

Tags: daerah 3Tmorotaipariwisatapilihan redaksi
Tiara Uci

Tiara Uci

Alumnus Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya. Project Manager perusahaan konstruksi di Surabaya. Suka membaca dan minum kopi.

ArtikelTerkait

Sering Kecelakaan, Sudah Saatnya Suroboyo Bus dan Trans Semanggi Punya Jalur Sendiri Terminal Mojok

Sering Kecelakaan, Sudah Saatnya Suroboyo Bus dan Trans Semanggi Punya Jalur Sendiri

18 Januari 2023
Robot Trading: Niatnya Untung, Seringnya Buntung

Robot Trading: Niatnya Untung, Seringnya Buntung

19 Januari 2022
Tri, Operator Seluler dengan Layanan Customer Service Paling Ribet se-Indonesia. Juaranya Bikin Pelanggan Emosi

Tri, Operator Seluler dengan Layanan Customer Service Paling Ribet se-Indonesia. Juaranya Bikin Pelanggan Emosi!

23 Februari 2024
4 Hal yang Sering Disalahpahami sebagai Bukti Kehadiran Makhluk Astral terminal mojok

4 Hal yang Sering Disalahpahami sebagai Bukti Kehadiran Makhluk Astral

12 November 2021
4 Penderitaan yang Saya Rasakan Tiap Mudik ke Ciamis

4 Penderitaan yang Saya Rasakan Tiap Mudik ke Ciamis

18 April 2023
Saya Baru Pernah Belanja Online dan Tidak Malu untuk Mulai Memahaminya mojok.co/terminal Praktik Cross-border Bisa Hancurkan UMKM Lokal, Kenapa Terus Dibiarkan? terminal mojok.co

Praktik Cross-border Bisa Hancurkan UMKM Lokal, Kenapa Terus Dibiarkan?

10 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Alasan Ayam Goreng Dkriuk Jadi yang Terbaik di Kelasnya, Brand Lain Minggir Dulu! Mojok.co

4 Alasan Ayam Goreng Dkriuk Jadi yang Terbaik di Kelasnya, Brand Lain Minggir Dulu!

24 Juni 2026
Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan Mojok.co

Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan

26 Juni 2026
Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku “32 Tahun Menjarah Alam” Mojok.co

Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku 32 Tahun Menjarah Alam

25 Juni 2026
Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Pejuang Rupiah

Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Memahami Perjuangan Pejuang Rupiah di Atas Aspal

25 Juni 2026
Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja Mojok.co

Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja

25 Juni 2026
Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini  Terminal

Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini 

29 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.