Menyusun CV dan Memakai LinkedIn Seharusnya Diajarkan di Bangku Kuliah

Artikel

Mohammad Ibnu Haq

Sebelas tahun menjadi seorang HR, saya setidaknya telah melakukan puluhan ribu kali wawancara. Jumlah itu belum seberapa dibanding berkas yang saya seleksi pada tahap sebelumnya. Dari sekian banyak berkas itu, jarang sekali saya temukan curriculum vitae (CV) dari fresh graduate yang mengesankan.

Mengecewakan, nggak juga. Namun, kalau hal ini nggak dipikirkan jalan keluarnya secara serius, saya khawatir akan jauh lebih banyak orang-orang yang gagal menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Dan di sisi yang lain, para pelaku usaha pun akan semakin kesulitan mendapatkan kandidat yang tepat.

Mau sama-sama rugi?

Menyiapkan CV dan surat lamaran sebaik-baiknya memang merupakan bagian dari kewajiban pelamar kerja. Tetapi, menyalahkan mereka kok sepertinya wagu. Nggak lucu aja menyalahkan orang karena hal yang mungkin belum benar-benar diketahuinya. Bisa saja sewaktu kuliah dulu mereka memang belum pernah diberi pengetahuan tentang hal ini.

Kampus saya saja lah. Setelah dipikir-pikir, saya kok nggak ingat ya pernah diajarkan bagaimana caranya membuat CV yang baik dan benar? Karena saya sering bolos kelas juga sepertinya bukan alasan yang tepat. Lha wong, teman saya yang rajin ngampus dan berselempang kain emas saat wisuda saja CV-nya juga copas punya saya.

Ini aku atau kampusku sih yang sebenarnya kebangetan?

Diskursus merangkai kata CV ini tentu nggak bisa digeneralisasi. Jelas nggak semua kampus sama seperti kampus saya. Pasti ada kampus-kampus lain yang lebih peduli dengan nasib para lulusannya di tengah kejamnya persaingan dunia kerja. Saya menyakini hal itu.

Namun, realitanya, begitu lulus, kebanyakan CV dari para fresh graduate di berbagai macam kampus di belahan bumi Indonesia, cenderung serupa baik dari segi penampilan maupun informasi data yang ditampilkan. Nggak jauh-jauh dari biodata diri, riwayat pekerjaan, dan riwayat organisasi. Padahal CV bukan melulu tentang ketiganya. Dan nggak ada juga fatwa dari MUI kalau CV wajib berisi tiga hal itu.

Baca Juga:  Hidup Tidak Adil, Buktinya Yang Menyontek Selalu Lebih Bagus Nilainya dari yang Dicontek

Kelengkapan tiga hal tadi memang akan menjadi nilai lebih dari sebuah CV agar dinilai menarik oleh bagian rekrutmen. Terlebih di bagian riwayat pekerjaan. Di sinilah umumnya yang menjadi titik berat penilaian dalam seleksi berkas. Lalu, bagaimana nasib para fresh graduate yang sama sekali belum bisa menuliskan apa pun di riwayat pekerjaannya? Apa yang bisa dilakukan mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang-kuliah pulang, yang juga tidak mampu menuliskan riwayat organisasi kecuali keanggotaan OSIS saat masa SMA?

Salah satu solusi untuk masalah ini sebenarnya sudah lama ada. Cukup mudah lagi penggunaannya. Asal punya hengpon—yang kameranya nggak harus tiga—dan kuota. Lanjut unduh, daftar, upload semua dokumen yang dibutuhkan untuk melangkapi profil, selesai. Platform itu sendiri bernama LinkedIn.

Nama platform ini cukup asing bagi generasi yang katanya melek teknologi. Apalagi pronunciation-nya yang rentan keliru malah jadi terkesan ndeso. Di Indonesia, popularitas Linkedin masih jauh di bawah saudara-saudaranya macam Instagram, Twitter, dan Facebook. Namun, itu bukan berarti secara kegunaan platform yang satu ini akan tertinggal di belakang.

Linkedin dapat dibilang sebagai platform media sosial di ranah profesional. Fitur-fiturnya pun didesain untuk menunjang perkembangan karier. Pengguna harus terus meng-update hal-hal seperti pekerjaan, pendidikan, hasil penelitian, keterlibatan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, peningkatan hard skill dan soft skill, dan pencapaian atau penghargaan dalam suatu bidang tertentu. Jadi, bagi yang belum bekerja atau tidak suka berorganisasi di kampus, kalian bisa fokus dalam hal lain seperti penulisan karya ilmiah, karya literasi, dan keaktifan di sosial dan masyarakat. Cukup adil, bukan?

Nah, salah satu ciri CV mainstream yang lain adalah minimnya referensi atau rekomendasi dari profesional. Padahal sebenarnya sah-sah saja jika mencantumkan nomor dosen—yang tentunya sangat mengenal Anda—sebagai referensi. Sayangnya hal itu jarang ditemukan. LinkedIn memfasilitasinya. Orang-orang yang telah masuk ke dalam jaringan pertemanan, siapa pun itu, bisa memberikan rekomendasi secara kualitatif dan endorsements terhadap kemampuan-kemampuan tertentu yang dianggap sebagai keunggulan.

Baca Juga:  Seandainya Saya Menjadi Seorang Perokok

Rekomendasi dan endorsements pun tentu tidak didapat dengan asal berkirim komentar. Kualitas si pemberinya pun diperhitungkan. Oleh karena itu, setiap fresh graduates harus aktif melihat tawaran dan kesempatan untuk membuktikan kemampuan meskipun secara ekonomi, nilai rupiahnya tidak banyak. Membantu penelitian dosen misalnya. Atau mengikuti forum-forum resmi yang diselenggarakan secara daring. Dari situ kita akan mengenal banyak orang yang mungkin akan menawarkan pekerjaan dan proyek-proyek tertentu.

Ingat salah satu scene legendaris di film Devil Wears Prada saat Meryl Streep mengatakan kepada calon bosnya Anne Hathaway, mantan saya itu. Kalimatnya seperti ini, “Jika kamu tidak memperkerjakannya, maka kamu adalah seorang idiot.” Bukankah keren jika ada seseorang yang kita kagumi dan hormati mengatakan hal yang sama seperti itu kepada calon bos tempat kita melamar kerja?

Sayangnya penjelasan panjang lebar saya di atas tadi hanya akan menjadi omong kosong jika para akademisi, dosennya adik-adik ini, tidak turut andil. Kalaupun bapak dan ibu terhormat kehabisan waktu, tidak ada salahnya menggandeng beberapa perwakilan dari perusahaan untuk mengisi kelas umum. Saya yakin mereka akan dengan senang hati memperkenalkan seperti apa realita di luar sana. Dunia kerja itu berat, jauh lebih berat daripada rindunya Dilan ke Milea.

BACA JUGA Lamaran Kerja Bisa Ditolak karena Kesalahan-kesalahan saat Wawancara Ini dan tulisan Mohammad Ibnu Haq lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
36


Komentar

Comments are closed.