Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Menyusun CV dan Memakai LinkedIn Seharusnya Diajarkan di Bangku Kuliah

Mohammad Ibnu Haq oleh Mohammad Ibnu Haq
2 Juli 2020
A A
cara menyusun cv cara memakai linkedin stafsus presiden staf khusus kontroversi billy mambrasar linkedin west wing white house gedung putih as hujatan netizen bio mojok

stafsus presiden staf khusus kontroversi billy mambrasar linkedin west wing white house gedung putih as hujatan netizen bio mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Sebelas tahun menjadi seorang HR, saya setidaknya telah melakukan puluhan ribu kali wawancara. Jumlah itu belum seberapa dibanding berkas yang saya seleksi pada tahap sebelumnya. Dari sekian banyak berkas itu, jarang sekali saya temukan curriculum vitae (CV) dari fresh graduate yang mengesankan.

Mengecewakan, nggak juga. Namun, kalau hal ini nggak dipikirkan jalan keluarnya secara serius, saya khawatir akan jauh lebih banyak orang-orang yang gagal menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Dan di sisi yang lain, para pelaku usaha pun akan semakin kesulitan mendapatkan kandidat yang tepat.

Mau sama-sama rugi?

Menyiapkan CV dan surat lamaran sebaik-baiknya memang merupakan bagian dari kewajiban pelamar kerja. Tetapi, menyalahkan mereka kok sepertinya wagu. Nggak lucu aja menyalahkan orang karena hal yang mungkin belum benar-benar diketahuinya. Bisa saja sewaktu kuliah dulu mereka memang belum pernah diberi pengetahuan tentang hal ini.

Kampus saya saja lah. Setelah dipikir-pikir, saya kok nggak ingat ya pernah diajarkan bagaimana caranya membuat CV yang baik dan benar? Karena saya sering bolos kelas juga sepertinya bukan alasan yang tepat. Lha wong, teman saya yang rajin ngampus dan berselempang kain emas saat wisuda saja CV-nya juga copas punya saya.

Ini aku atau kampusku sih yang sebenarnya kebangetan?

Diskursus merangkai kata CV ini tentu nggak bisa digeneralisasi. Jelas nggak semua kampus sama seperti kampus saya. Pasti ada kampus-kampus lain yang lebih peduli dengan nasib para lulusannya di tengah kejamnya persaingan dunia kerja. Saya menyakini hal itu.

Namun, realitanya, begitu lulus, kebanyakan CV dari para fresh graduate di berbagai macam kampus di belahan bumi Indonesia, cenderung serupa baik dari segi penampilan maupun informasi data yang ditampilkan. Nggak jauh-jauh dari biodata diri, riwayat pekerjaan, dan riwayat organisasi. Padahal CV bukan melulu tentang ketiganya. Dan nggak ada juga fatwa dari MUI kalau CV wajib berisi tiga hal itu.

Baca Juga:

Ormawa Sepi Peminat, Mahasiswa Gen Z Lebih Pilih Magang dan Side Job, Salah Siapa?

LinkedIn Bukan Aplikasi Toksik, Justru Kamu yang Harusnya Sadar Diri!

Kelengkapan tiga hal tadi memang akan menjadi nilai lebih dari sebuah CV agar dinilai menarik oleh bagian rekrutmen. Terlebih di bagian riwayat pekerjaan. Di sinilah umumnya yang menjadi titik berat penilaian dalam seleksi berkas. Lalu, bagaimana nasib para fresh graduate yang sama sekali belum bisa menuliskan apa pun di riwayat pekerjaannya? Apa yang bisa dilakukan mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang-kuliah pulang, yang juga tidak mampu menuliskan riwayat organisasi kecuali keanggotaan OSIS saat masa SMA?

Salah satu solusi untuk masalah ini sebenarnya sudah lama ada. Cukup mudah lagi penggunaannya. Asal punya hengpon—yang kameranya nggak harus tiga—dan kuota. Lanjut unduh, daftar, upload semua dokumen yang dibutuhkan untuk melangkapi profil, selesai. Platform itu sendiri bernama LinkedIn.

Nama platform ini cukup asing bagi generasi yang katanya melek teknologi. Apalagi pronunciation-nya yang rentan keliru malah jadi terkesan ndeso. Di Indonesia, popularitas Linkedin masih jauh di bawah saudara-saudaranya macam Instagram, Twitter, dan Facebook. Namun, itu bukan berarti secara kegunaan platform yang satu ini akan tertinggal di belakang.

Linkedin dapat dibilang sebagai platform media sosial di ranah profesional. Fitur-fiturnya pun didesain untuk menunjang perkembangan karier. Pengguna harus terus meng-update hal-hal seperti pekerjaan, pendidikan, hasil penelitian, keterlibatan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, peningkatan hard skill dan soft skill, dan pencapaian atau penghargaan dalam suatu bidang tertentu. Jadi, bagi yang belum bekerja atau tidak suka berorganisasi di kampus, kalian bisa fokus dalam hal lain seperti penulisan karya ilmiah, karya literasi, dan keaktifan di sosial dan masyarakat. Cukup adil, bukan?

Nah, salah satu ciri CV mainstream yang lain adalah minimnya referensi atau rekomendasi dari profesional. Padahal sebenarnya sah-sah saja jika mencantumkan nomor dosen—yang tentunya sangat mengenal Anda—sebagai referensi. Sayangnya hal itu jarang ditemukan. LinkedIn memfasilitasinya. Orang-orang yang telah masuk ke dalam jaringan pertemanan, siapa pun itu, bisa memberikan rekomendasi secara kualitatif dan endorsements terhadap kemampuan-kemampuan tertentu yang dianggap sebagai keunggulan.

Rekomendasi dan endorsements pun tentu tidak didapat dengan asal berkirim komentar. Kualitas si pemberinya pun diperhitungkan. Oleh karena itu, setiap fresh graduates harus aktif melihat tawaran dan kesempatan untuk membuktikan kemampuan meskipun secara ekonomi, nilai rupiahnya tidak banyak. Membantu penelitian dosen misalnya. Atau mengikuti forum-forum resmi yang diselenggarakan secara daring. Dari situ kita akan mengenal banyak orang yang mungkin akan menawarkan pekerjaan dan proyek-proyek tertentu.

Ingat salah satu scene legendaris di film Devil Wears Prada saat Meryl Streep mengatakan kepada calon bosnya Anne Hathaway, mantan saya itu. Kalimatnya seperti ini, “Jika kamu tidak memperkerjakannya, maka kamu adalah seorang idiot.” Bukankah keren jika ada seseorang yang kita kagumi dan hormati mengatakan hal yang sama seperti itu kepada calon bos tempat kita melamar kerja?

Sayangnya penjelasan panjang lebar saya di atas tadi hanya akan menjadi omong kosong jika para akademisi, dosennya adik-adik ini, tidak turut andil. Kalaupun bapak dan ibu terhormat kehabisan waktu, tidak ada salahnya menggandeng beberapa perwakilan dari perusahaan untuk mengisi kelas umum. Saya yakin mereka akan dengan senang hati memperkenalkan seperti apa realita di luar sana. Dunia kerja itu berat, jauh lebih berat daripada rindunya Dilan ke Milea.

BACA JUGA Lamaran Kerja Bisa Ditolak karena Kesalahan-kesalahan saat Wawancara Ini dan tulisan Mohammad Ibnu Haq lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Desember 2021 oleh

Tags: cvHRlamaran kerjaLinkedInLowongan Kerja
Mohammad Ibnu Haq

Mohammad Ibnu Haq

Sukanya mojok

ArtikelTerkait

Pengalaman Pahit Hampir Ketipu Lowongan Kerja Palsu, Fresh Graduate Lain Perlu Lebih Hati-hati Mojok.co

Pengalaman Pahit Hampir Ketipu Lowongan Kerja Palsu, Fresh Graduate Lain Perlu Lebih Hati-hati

11 Agustus 2024
5 Situs Lowongan Kerja yang Cocok untuk Fresh Graduate Mojok.co

5 Situs Lowongan Kerja yang Cocok untuk Fresh Graduate

15 November 2023
3 Hal yang Sebaiknya Jangan Diunggah di LinkedIn kalau Tidak Ingin Menyesal Mojok.co

3 Hal yang Sebaiknya Jangan Diunggah di LinkedIn kalau Tidak Ingin Menyesal

30 Maret 2025
lowongan kerja perusahaan tak kasatmata operator warnet kisah mistis cerita horor hantu setan genderuwo mojok.co

Menilik Peluang Berkarier di Perusahaan Tak Kasatmata

10 Juli 2020
Yang Menjengkelkan dari Rekrutmen Adalah Saat Recruiter-nya Menghilang terminal mojok.co

Tips Menjawab Pertanyaan tentang Kekurangan Diri saat Wawancara Kerja

14 Juli 2020
Yang Menjengkelkan dari Rekrutmen Adalah Saat Recruiter-nya Menghilang terminal mojok.co

Ditolak Perusahaan Saat Melamar Kerja Bukan Berarti Tidak Layak

19 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Tabiat Tukang Parkir yang Disukai Pengendara. Sederhana, tapi Tidak Semua Tukang Parkir Bisa Melakukannya  Mojok.co

4 Tabiat Tukang Parkir yang Disukai Pengendara. Sebenarnya Sederhana, tapi Tidak Semua Tukang Parkir Bisa Melakukannya 

18 April 2026
7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

Terima Kasih Indomaret, Berkatmu yang Semakin Peduli dengan Lingkungan, Belanjaan Jadi Sering Nyeprol di Jalan Gara-gara Plastik yang Makin Tipis

20 April 2026
Sawojajar Malang Mengingatkan akan Labirin Pogung Jogja, Sama-sama Membingungkan dan Bikin Tersesat  Mojok.co

Sawojajar Malang Mengingatkan akan Labirin Pogung Jogja, Sama-sama Membingungkan dan Bikin Tersesat 

18 April 2026
3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak Mojok.co

3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak

21 April 2026
Nasi Uduk Itu Nostalgia, Nasi Padang Itu Strategi Bertahan Hidup (Unsplash)

Nasi Uduk Itu Nostalgia, Nasi Padang Itu Strategi Bertahan Hidup

19 April 2026
Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak Mojok.co

Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak

17 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar
  • Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera
  • Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik
  • Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI
  • Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki
  • “Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.