Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Ormawa Sepi Peminat, Mahasiswa Gen Z Lebih Pilih Magang dan Side Job, Salah Siapa?

Daffa Andarifka Syaifullah oleh Daffa Andarifka Syaifullah
2 Maret 2026
A A
Ormawa Lebih Tepat Jadi Tempat Melatih Kesabaran daripada Berorganisasi. Terlalu Banyak Masalah! Mojok.co

Ormawa Lebih Tepat Jadi Tempat Melatih Kesabaran daripada Berorganisasi. Terlalu Banyak Masalah! (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu, ada utas di Threads yang cukup ramai. Pertanyaannya sederhana: lebih pilih aktif di ormawa atau magang dan side job? Hasilnya tidak mengejutkan bagi siapa pun yang sekarang masih duduk di bangku kuliah. Mayoritas memilih magang. Sebagian lagi memilih side job. Dan ormawa, meraih suara tipis di urutan paling bawah.

Di banyak kampus, fenomena ini bukan sekadar statistik polling media sosial. Kursi rapat BEM mulai banyak yang kosong. Rekrutmen himpunan makin sepi peminat. Panitia acara tahunan yang biasanya berebut posisi, sekarang harus merayu orang satu per satu.

Lantas, apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Dulu ormawa adalah jalan pintas menuju “mahasiswa ideal”

Tidak bisa dimungkiri, narasi tentang ormawa selama ini dibangun di atas satu janji besar: kamu akan jadi orang yang lebih siap menghadapi dunia kerja. Softskill, katanya. Leadership, katanya. Networking, katanya. Selama bertahun-tahun, janji itu cukup meyakinkan.

Dan memang ada kebenarannya. Orang yang pernah jadi ketua panitia, yang pernah begadang ngurusin acara, yang pernah mediasi konflik internal organisasi, biasanya punya ketangguhan yang tidak diajarkan di ruang kelas. Itu nyata.

Tapi masalahnya, dunia tidak berhenti di situ.

BACA JUGA: Ormawa Itu Memang Bukan Keluarga, Ngapain Ngebet Dibikin kayak Keluarga sih?

Gen Z membaca pasar lebih cepat dari yang kita kira

Mahasiswa sekarang tumbuh di era di mana informasi tentang dunia kerja tidak perlu dicari susah payah. LinkedIn terbuka untuk semua orang. Utas “pengalaman magang” bertebaran di mana-mana. Job description perusahaan bisa dibaca kapan saja.

Baca Juga:

Derita Gen Z Punya Nama Sri yang Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu

Tak Ada yang Lebih Menyedihkan ketimbang Hidup Gen Z Madura, Generasi yang Tumbuh Tanpa Peran Orang Tua tapi Harus Tetap Tahan Banting Saat Dewasa

Dan dari semua informasi itu, ada satu pola yang mereka tangkap dengan jelas: rekruter lebih tertarik pada portofolio dan pengalaman kerja nyata daripada sederet jabatan organisasi di CV.

Bukan berarti ormawa sama sekali tidak dilirik. Tapi kalau harus memilih antara “pernah jadi Ketua Divisi Hubungan Masyarakat BEM” dengan “pernah magang tiga bulan di perusahaan yang relevan dengan jurusan”, pilihan mana yang lebih berat timbangannya di mata HRD? Jawabannya sudah terlanjur jelas di kepala mahasiswa sekarang.

Ditambah lagi, banyak dari mereka sudah punya side job sebelum lulus. Freelance desain, content creator, jualan online, joki tugas (yang ini tidak perlu dibahas panjang). Uang masuk, skill bertambah, CV terisi. Untuk apa mengorbankan waktu dan energi demi ormawa yang imbal baliknya tidak terasa langsung?

Tapi ormawa bukan sekadar soal CV

Di sinilah letak persoalan yang lebih dalam dan sering luput dari perdebatan.

Ormawa punya fungsi yang tidak bisa digantikan magang atau side job, yaitu ruang belajar berdemokrasi, bernegosiasi, dan berorganisasi bersama orang-orang yang berbeda latar belakang. Magang mengajarkan kamu bekerja dalam sistem yang sudah jadi. Ormawa mengajarkan kamu membangun sistem dari nol, di tengah keterbatasan, konflik kepentingan, dan ketidakpastian.

Sayangnya, tidak semua ormawa masih menjalankan fungsi itu dengan baik. Sebagian besar terjebak pada rutinitas seremonial: rapat yang panjang tapi tidak produktif, acara tahunan yang itu-itu saja, senioritas yang tidak relevan, dan budaya “dedikasi tanpa apresiasi” yang menguras tenaga tanpa memberikan pengembangan yang jelas.

Kalau jujur, mahasiswa Gen Z tidak lari dari ormawa karena mereka malas atau materialistis. Mereka lari karena ormawa sering gagal menunjukkan nilainya secara konkret di dunia yang bergerak sangat cepat.

Tanggung jawab siapa ini sebenarnya?

Mudah sekali menyalahkan Gen Z yang katanya terlalu pragmatis, terlalu individualistis, terlalu fokus pada diri sendiri. Tapi narasi itu terlalu malas untuk disebut analisis.

Yang lebih adil untuk ditanyakan adalah: sudahkah ormawa bertransformasi sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan tuntutan industri saat ini? Sudahkah program kerja ormawa dirancang untuk menghasilkan sesuatu yang konkret dan terukur, bukan sekadar laporan pertanggungjawaban yang tebal tapi tidak dibaca siapapun?

Mahasiswa hari ini bukan tidak mau berorganisasi. Mereka sangat aktif berorganisasi, hanya saja di komunitas online, di proyek kolaboratif lintas kampus, di gerakan sosial yang lahir dari media sosial. Bentuknya berbeda, tapi esensinya tidak jauh berbeda.

Ormawa yang bertahan dan tetap diminati adalah yang berhasil menjawab satu pertanyaan sederhana dari mahasiswanya: “Apa yang saya dapat dari sini yang tidak bisa saya dapatkan dari tempat lain?”

Kalau pertanyaan itu belum bisa dijawab dengan jujur, kursi rapat yang kosong itu bukan salah mahasiswanya.

Penulis: Daffa Andarifka Syaifullah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Ormawa Lebih Tepat Jadi Tempat Melatih Kesabaran daripada Berorganisasi. Terlalu Banyak Masalah!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Maret 2026 oleh

Tags: cvgen zHRDmagang mahasiswaormawa
Daffa Andarifka Syaifullah

Daffa Andarifka Syaifullah

Penulis lepas berlatar D3 yang gemar mengamati kehidupan kota dan menuliskannya sebelum sempat dilupakan. Minatnya pada isu sosial-politik, dan metropolitan. Lahir dari kebiasaan memperhatikan hal-hal yang dianggap wajar padahal sebetulnya tidak.

ArtikelTerkait

3 Pengalaman Duka Saat Menjadi Anggota Ormawa UGM

3 Pengalaman Duka Saat Menjadi Anggota Ormawa UGM

10 Mei 2024
hobi resign dari tempat kerja alasan ragu cara memutuskan menyesal mojok.co

Saran bagi Pekerja yang Hobi Resign padahal Baru Kerja Sebentar

20 Agustus 2020
jobseeker

Dear Jobseeker, Bagaimana Mau Dapat Kerja jika Posisi yang Dilamar Saja Tidak Tahu?

6 Desember 2021
Ikut Job Fair Beneran Bisa Dapat Kerja Nggak, sih? Bisa dong!

Ikut Job Fair Beneran Bisa Dapat Kerja Nggak, sih? Bisa dong!

11 Agustus 2022
Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja : Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega

Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja: Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega

14 Agustus 2024
Proses Layoff Memang Nggak Pernah Mudah, Termasuk bagi para HRD dan Perusahaan Terminal Mojok.co

Proses Layoff Memang Nggak Pernah Mudah, Termasuk bagi para HRD dan Perusahaan

25 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beli Lauk di Luar dan Memasak Nasi Sendiri, Siasat Hidup Hemat In This Economy Mojok.co

Siasat Hidup Hemat In This Economy, Beli Lauk di Luar dan Memasak Nasi Sendiri

21 Mei 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Alasan Wonogiri Masih dan Akan Selalu Jadi Ibu Kota Bakso Indonesia, Malang Minggir Dulu!

20 Mei 2026
Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau Mojok.co

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

16 Mei 2026
Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Masalah Utama Tulungagung Bukan Wisata, tapi Tradisi Korupsi di Kursi Bupati

19 Mei 2026
Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game Terminal

Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game

20 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.