Menitipkan Orang Tua di Panti Jompo Bukan Berarti Durhaka – Terminal Mojok

Menitipkan Orang Tua di Panti Jompo Bukan Berarti Durhaka

Artikel

Siklus hidup dimulai dari kita lahir hingga berlanjut menutup usia. Kita tidak tahu kapan meninggalkan dunia ini. Namun selama hidup, lakukan hal yang baik biar suatu saat nanti meninggalkan dunia tidak menjadi beban bagi keluargamu. Di titik lain, usia menua sendiri merupakan bonus yang terindah diberikan Tuhan kepada kita. Perkembangan teknologi kesehatan mendorong salah satu mengapa saat ini banyak orang lanjut usia. Tidak hanya itu, layanan kesehatan juga bisa menjangkau segala kelompok tanpa harus mengeluh berapa biaya untuk ke sana. Bahkan yang keluarganya kategori penerima bantuan sosial, bisa berobat gratis. Begitu peduli kan pemerintah?

Namun di usia tua ini, ada polemik yang muncul. Orang yang sudah masuk usia lanjut, secara fisik sudah tidak kuat, tetapi mereka ingin melakukan aktivitas yang masih sanggup dilakukan. Jika orang tua tidak beraktivitas, bakal menimbulkan penyakit. Apalagi orang tua kita, maaf, sudah seperti anak bayi, perlu perawatan ekstra kepadanya. Dalam hati, sedih juga melihat orang tua kita seperti ini. Tidak mungkin meninggalkan karier dan keluarga hanya untuk merawatnya. Menyewa perawat saja butuh dua kali berpikir, kecuali memang orang kaya.

Alhasil, anak-anak pun bingung harus berbuat apa. Menaruh ke panti jompo memang salah satu solusi yang cocok, tetapi ingat kultur Indonesia yang masih banyak menganggap orang tua ke sana tanda anak durhaka. Belum lagi framing-framing acara televisi Indonesia tentang stigma panti jompo menambah daftar orang enggan menempatkan orang tuanya ke sana karena alasan kemanusiaan.

Saya sempat mengamini stereotip hanya anak durhaka lah yang menaruh orang tuanya ke panti jompo. Ini mungkin karena pengaruh lingkungan sehingga aku jadi takut bagaimana orang tuaku suatu saat nanti. Apalagi kami semua perempuan, pasti akan fokus sama suami dan anak-anak kami. Syukur-syukur suaminya mengerti bagaimana orang tua kami, kalau sebaliknya gimana? Bukan bermaksud menelantarkan mereka, tetapi aku harus tahu prioritas. Kalian juga yang memiliki orang tua bakal berpikir sama denganku.

Setelah bertambah usia, aku mengerti bahwa tidak selamanya orang tua di panti jompo itu tanda anak durhaka. Banyak aku temukan orang tua di sana dan tidak merasa terbebani. Demi tinggal di panti jompo, sedari dulu sudah mengumpulkan uang ke sana biar tidak merepotkan anaknya. Namun, ada juga yang dibiayai anaknya dan mereka berterima kasih karena itu. Itu semua tergantung individu yang mau atau tidak tinggal di sana.

Di panti jompo, orang tua tidak sendirian. Di sana banyak teman-teman lansia yang siap meramaikan suasana. Mereka bisa saling bertukar pikiran menceritakan masa muda ataupun anak mereka yang sukses. Jangan lupa, kesehatan mereka juga terkontrol. Banyak perawat yang sukarela merawat mereka. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, selama 24 jam mereka mengawasi orang tua itu. Makannya tidak terlambat, diberi obat tepat waktu, bahkan mereka melakukan olahraga ringan demi tubuh fit.

Untuk urusan ibadah, orang tua juga difasilitasi sesuai agama yang dianut. Jadi untuk anak-anaknya, tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Percayakan mereka dalam merawat orang tuamu. Meskipun begitu, jika ada waktu luang, sempatkanlah kalian bersama sekaligus mengawasi perkembangan orang tua kalian di sana. Bawa suami/istri dan anak-anakmu menjenguk kakek/nenek mereka di sana.

Apakah salah orang tua tinggal di panti jompo? Ini tidak salah selama kalian masih memperhatikan mereka. Toh, di ajaran agama tidak mempermasalahkan hal itu bukan? Namun, kalau tidak mau menempatkan dia ke sana, itu urusan kamu dan orang tua. Asal kamu bisa menyeimbangkan waktu antara karier, keluarga, dan orang tua.

BACA JUGA Propaganda Khusus di Balik Iklan Susu Formula atau tulisan Kristiani lainnya.

Baca Juga:  Rakyat Nggak Bayar Pajak Bukan karena Nggak Patuh, tapi karena Hasilnya Nggak Jelas
Terminal Mojok merupakan platform Use Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.