Meniadakan THB di KRL, Sebuah Aturan yang Tidak Adil

Di TJ tidak ada tiket sekali jalan seperti THB di KRL. Saya harus menggunakan uang elektronik berbentuk kartu yang dikeluarkan oleh bank.

Artikel

Avatar

Saat sedang menikmati es teh manis sambil berselancar di media sosial, sebuah tweet melintas di timeline saya. Sebuah tweet dari @CommuterLine: dg semakin banyaknya pengguna KMT & sbg dukungan utk mewujudkan program “cashless society” dari pemerintah, maka mulai 1 Agustus 2019 lima stasiun (Sudirman, Palmerah, Cikini, Taman Kota, & Univ. Indonesia) hanya menerima transaksi dg KMT & kartu keluaran bank.

Membaca itu saya jadi teringat, di tahun 2018, saat pertama kali naik TransJakarta (TJ) dari Juanda menuju Senayan. Saya memang sudah tahu kalau moda transportasi ini menggunakan tiket elektronik, tapi saat itu saya tidak punya. Mungkin nanti akan ada semacam Tiket Harian Berjamin (THB) di KRL, pikir saya saat itu.

Ternyata pikiran saya salah. Di TJ tidak ada tiket sekali jalan seperti THB di KRL. Saya harus menggunakan uang elektronik berbentuk kartu yang dikeluarkan oleh bank. Dalam antrian loket yang cukup mengular, niat hati ingin membeli kartu Flazz dari Bank BCA atau e-Money dari Bank Mandiri. Paling tidak, dua kartu itu bisa saya gunakan untuk naik KRL sebagai cadangan Kartu Multi Trip (KMT) yang biasa saya gunakan.

Namun sayangnya, saya tidak bisa mendapatkan apa yang saya ingin beli. Petugasnya bilang Flazz stoknya kosong, e-Money juga, dan Brizzi sering erorr di gate. Saya kemudian ditawari kartu JakCard dari Bank DKI. Tidak ada pilihan lain untuk saya sebagai pembeli, mau tidak mau saya terima tawaran petugas loket dan akhirnya saya tebus juga kartu yang bernama JakCard itu. Entah memang stoknya benar-benar habis, atau petugasnya sengaja menggiring saya. Saya tidak tahu pasti.

Dengan terpaksa saya membeli JakCard itu untuk satu perjalanan saja. Pengalaman ini adalah perjalanan pertama saya naik TJ dan sampai sekarang saya belum naik TJ lagi. Kenapa? Ya, karena keseharian saya tidak dilewati jalur TJ. Lalu apa yang terjadi dengan kartu Jakcard dari Bank DKI itu? Cuma saya simpan saja di dompet. Sisa saldonya berapa, saya juga nggak tahu.

Baca Juga:  Mawang Bisa Jadi Musisi Eksperimental Andalan Baru di Indonesia

Mengingat hal itu, kok ya, saya jadi merasa dipaksa untuk membeli kartu yang sebetulnya tidak saya butuhkan amat sesudahnya. Yang alhasil kartu itu nggak ada guna. Pernah mau saya gunting untuk dijadikan pick gitar, tapi ya percuma. Lah gimana, saya nggak bisa main gitar. Pernah terbesit mau saya geletakin saja di rumah, tapi rasanya kok sayang. Dibuang juga sayang, tentu saja masih ada harganya.

Saya haqqul yaqin, penumpang KRL yang hanya membutuhkan perjalanan sekali saja, akan mengalami hal yang sama dengan saya. Buat apa beli KMT untuk sekali perjalanan dan kemudian hari nggak akan terpakai lagi?

Rasanya calon penumpang KRL seolah cuma diberi 2 pilihan—pertama, kalau mau naik KRL silakan beli KMT dan kedua, kalau nggak mau beli KMT. Yaudah, nggak usah ngegas. Naik moda transportasi lain aja!!1!1!11!!

Dalam pandangan saya yang buruk ini, pengguna KRL seolah sedang didorong untuk maju. Ya betul maju, untuk menjadi kalangan cashless society. Meskipun memang dalam kenyataannya masyarakat urban yang naik di 5 stasiun ini sudah terbiasa dengan uang elektronik. Perlahan tapi pasti, penerapan aturan ini akan berkembang dari 5 stasiun awal. Anggap saja ini percobaan. Tapi bukan berarti harus mengesampingkan penumpang KRL yang bukan pengguna KRL sehari-hari. Itu namanya egois. Memikirkan kalangan sendiri.

Kebijakan ini menjadi sebuah stormbreaker milik Thor—menghancurkan segala macam harapan dalam per-KRL-an. Bagi saya—mungkin pengguna KRL lainnya juga­—mengharapkan perjalanan yang aman, lancar, cepat, dan tepat waktu. Dengan segudang PR yang PT Kereta Commuter Indonesi (PT. KCI) sedang kerjakan, saya malah jadi hopeless. Kok, bisa-bisanya PT. KCI yang sedang sibuk berdandan demi eloknya wajah per-KRL-an, menyodorkan rules yang nggak fair untuk pengguna KRL.

Baca Juga:  KRL Dalam Satu Dasawarsa Terakhir: Selalu Ada Sekelompok Orang yang Berbicara dengan Volume Suara Tinggi

Misalkan saat KMT atau kartu bank tertinggal di rumah, dan hal itu tersadar saat sudah sampai di stasiun, jadi apakah harus beli KMT lagi? Memang sih, itu resikonya kalau sampai tertinggal. Tapi ya namanya juga manusia pasti ada lupanya. Kaya sendirinya nggak pernah ketinggalan barang aja. Kaya sendirinya bukan manusia aja.

THB dan KMT juga sudah masuk kategori cashlees society, kok. Jangan diutak-atik lagi, sistemnya sudah bagus, ditambah lagi adanya vending machine. Memang tidak ada sesuatu yang sempurna. Meskipun kesempurnaan itu sedang dibangun. Saran saya sebagai pengguna KRL, selain meniadakan kebijakan di atas, sebaiknya PT. KCI fokus saja dalam pembangunan yang sekarang sedang berproses.

Kalau rehab stasiun sudah rapih semua, semua stasiun udah nyaman, double-double track (DDT) sudah beres, dan perjalanan KRL tidak ada gangguan operasional tetek bengek. Yakin deh, volume penumpang akan lebih meningkat.

Nah di saat volume penumpang meningkat, barulah kebijakan sistem dengan tedheng cashlees society diberlakukan. Tapi ingat, penjualan kartu ataupun tiketnya juga harus fair. Kalau pembeli ingin beli kartu bank, ya adakan stoknya. Begitu juga fasilitas untuk isi saldo secara merata di semua stasiun. Maunya kita sih, nggak macem-macem, cukup butuh perjalanan KRL yang cepat, tepat waktu, dan lancar. Udah itu aja. Justru yang banyak macem-macemnya itu ya kamu. Iya, kamu, Dik~

Rasanya cukup sampai di sini unek-unek, kritik , dan saran dari saya yang apalah ini—cuma penumpang KRL biasa. Dibaca, ya, syukur. Nggak dibaca, ya, bodo amat. Nggak perlu repot-repot juga buat menanggapi atau menjawab unek-unek ini. Saya udah tahu, kok, jawaban dan tanggapannya: Terkait kritik dan saran yang diberikan kami lakukan evaluasi kembali guna perbaikan layanan kedepannya. Tks.

---
925 kali dilihat

61

Komentar

Comments are closed.