Membela Zaskia Adya Mecca yang Mengeluhkan Toa Masjid yang Berisik – Terminal Mojok

Membela Zaskia Adya Mecca yang Mengeluhkan Toa Masjid yang Berisik

ArtikelFeatured

Raden Muhammad Wisnu

Hari ini, nama Zaskia Adya Mecca menjadi buah bibir di jagat Twitter lantaran unggahan di Instagram pribadinya yang isinya mengeluhkan cara membangunkan sahur dengan berteriak menggunakan toa masjid. Seperti biasa, pernyataan blio tersebut menimbulkan kegaduhan, terutama orang-orang yang beraninya bacot pakai akun bodong. Saya banyak bacot di Twitter, tapi pakai nama dan foto asli. Nama lengkap pula, tidak seperti Anda-anda ini.

Saya pikir, di tahun 2021 ini, membangunkan sahur menggunakan toa sudah tidak relevan lagi karena sudah ada inovasi bernama alarm yang pasti ada pada setiap smartphone. Sekitar 21 tahun yang lalu, waktu handphone saya masih Nokia 3330 saja sudah ada alarmnya, kok! Jadi, kalau sampai tidak bangun, ya salah sendiri.

Selain itu, saya pikir kebanyakan toa masjid ini membangunkan sahur terlalu dini. Saya sering mendengar mereka sudah mulai membangunkan sahur sejak pukul dua dini hari. Kalau saya, sih, mengikuti sunnah Nabi yang menganjurkan santap sahur yang dimepetkan dengan waktu imsak dan azan subuh. Dari dulu saya selalu melakukan santap sahur setengah jam sebelum waktu azan subuh biar nyantai. Bahkan ketika harus memasak sendiri pun, saya memilih bangun sekitar 45 menit sebelum azan subuh. Memasak di zaman modern seperti ini kan tidak sampai 10 menit karena tinggal menghangatkan makanan saja. Tidak seperti masa kolonial Belanda di mana harus benar-benar memasak dari nol dengan menggunakan tungku masak.

Baca Juga:  Resep Mengolah Indomie Kari Ayam Paling Nikmat Versi Saya

Lagi pula, meskipun hampir 90% warga negara Indonesia beragama Islam, bukan berarti itu bisa jadi pembenaran untuk mengganggu umat Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu yang sedang beristirahat di malam hari. Mungkin mereka tidak berani protes karena mereka minoritas.

Bahkan dalam demografi umat Islam sendiri, tidak semuanya berpuasa karena ada wanita yang sedang datang bulan, hamil, dan menyusui. Ada juga orang sakit sehingga butuh istirahat yang berkualitas. Ada juga orang tua yang tidak diwajibkan untuk berpuasa. Ada juga bayi yang tidak diwajibkan untuk berpuasa. Orang sakit, orang tua yang tidak wajib berpuasa, dan bayi yang terbangun karena dibangunkan tentu saja merasa terganggu, bahkan mungkin akan kesulitan untuk tidur kembali. Padahal mereka semua butuh istirahat. Bukannya bermanfaat, malah berbuat zalim kepada sesama Muslim.

Teman saya yang sudah memiliki bayi bahkan selalu mengeluh pada saya tiap kali nongkrong. Dia berkata suara toa masjid terlalu keras sehingga sering membangunkan bayinya. Ujung-ujungnya, dia jadi kurang tidur dan kurang bergairah saat bekerja karena kualitas dan kuantitas istirahatnya yang tidak sempurna gara-gara suara toa masjid tersebut. Pengurus masjidnya sudah coba dia tegur, tapi tidak didengarkan.

Bahkan, dosen saya pun mengeluhkan hal yang sama. Padahal saya berkuliah di Universitas Islam Bandung yang jelas-jelas Islami. Saat itu kami berkuliah pada pukul 8 pagi dan masjid belakang kampus (bukan masjid kampus), memutar tilawah dengan suara yang sangat keras sehingga membuat kegiatan perkuliahan tidak kondusif karena suara dosen saya yang kalah dengan suara toa masjid. Pada akhirnya, dosen saya terpaksa mengakhiri perkuliahan lebih cepat dan memberi kami tugas kuliah karena kondisi yang tidak kondusif tersebut.

Baca Juga:  Bahasa Malaysia Lucu karena Banyak Kosakatanya Persis Bahasa Indonesia

Kerap kali, beberapa pejabat pemerintah maupun selebtweet mengeluhkan suara toa masjid yang terlalu keras malah dicap sebagai orang yang liberal, sekuler, dan tidak suka dengan Islam. Bukan gitu maksudnya. Bukan gitu, Ferguso. Percayalah. Saya setuju kok penggunaan toa masjid untuk azan atau pengumuman penting seperti ketika ada warga yang meninggal dunia, misalnya. Di luar itu, ya tolong dikontrol saja. Penggunaan toa masjid pada kegiatan pengajian maupun dakwah kan bisa di-setting dengan toa dalam saja, tidak usah ke luar masjid segala.

Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk tidak menzalimi orang lain, kan? Lagi pula sudah saatnya kita mengikuti perkembangan zaman dengan tidak membangunkan orang secara brutal lewat toa masjid. Saat ini, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, ada inovasi bernama alarm di smartphone. Kalau memang ada orang yang tidak sahur karena tidak bangun, ya salah sendiri. Jadi, tidak usah sok jadi pahlawan dengan teriak-teriak di toa masjid, yang ada malah ganggu orang.

Sumber Gambar: YouTube Falcon

BACA JUGA Orang-orang Bangunin Sahur Jam Dua Itu Mikir Apa Sih? dan tulisan Raden Muhammad Wisnu lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
92


Komentar

Comments are closed.