Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Melihat Bagaimana Industri Buzzer Politik Bekerja

Ainur Rohmah oleh Ainur Rohmah
2 Oktober 2019
A A
Dear Guru dan Dosen, Like Comment Tugas di Medsos Jangan Diajdikan Dasar Penilaian, dong! terminal mojok.co

Dear Guru dan Dosen, Like Comment Tugas di Medsos Jangan Diajdikan Dasar Penilaian, dong! terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau kalian penasaran tentang buzzer, saya rekomendasikan untuk membaca penelitian Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) tentang industri buzzer di Indonesia. Penelitian itu ringan kok. Di sana dibahas pola rekruitmen dan strategi yang mereka lakukan untuk mengamplifikasi pesan.

Oh iya, sebelumnya, saya ingin mengulas sedikit perbedaan Buzzer dan Influencer. Mereka itu beda yaa, meski dalam banyak kasus, pengertiannya sangat cair karena ada buzzer setengah-setengah influencer (punya pengikut banyak tapi anonim).

Jadi, Buzzer itu biasanya bekerja dalam tim. Tidak harus terkenal dan punya banyak followers. Dia banyak bekerja di belakang layar. Orang tidak tahu siapa dia. Pekerjaan ini ada di area abu-abu (karena belum ada yang melarang atau mengatur pekerjaan ini). Yang jadi masalah adalah, kadang mereka ini pakai cara kotor seperti menyebarkan hoax dan ujaran kebencian untuk mem-promote atau menaikan suatu isu atau tokoh tertentu—seperti yang pernah dilakukan oleh MCA (Muslim Cyber Army) dan Saracen.

Sementara influencer, mereka biasanya tokoh-tokoh berpengaruh yang mengelola akun pribadinya. Dia punya banyak followers, dan opininya banyak diikuti. Influencer lebih mudah diidentifikasi dengan ciri-ciri antara lain: tidak anonim, pengikutnya banyak, dan pendapat-pendapatnya jadi rujukan.

Pada rentang 2017 sampai awal 2019, saya mengamati bagaimana industri buzzer bekerja, terutama pasca Pilgub DKI hingga menjelang hari-H pilpres. Buzzer-buzzer ini paling tidak didorong oleh 3 motif; 1) uang; 2) uang dan ideologi (misal kecintaan pada tokoh/organisasi tertentu); 3) ideologi (tidak dibayar).

Setelah Pilpres, saya lihat buzzer-buzzer oposisi hampir tidak kelihatan lagi, kecuali yang berafiliasi dengan ormas-ormas tertentu. Yang main sekarang lebih banyak buzzer/influencer yang dikenal sering membela pemerintah atau lingkarannya, bisa parpol tertentu atau tokoh tertentu.

Kegiatan buzzing tidak lepas dari dua aspek, yakni pesan yang ingin disampaikan dan cara agar pesan itu tersebar seluas-luasnya. Karena pada umumnya buzzer itu berkelompok—ada perekrut, dan ada koordinator yang membawahi buzzer-buzzer di bawahnya—setelah membuat materi,  mereka akan terlebih dahulu menyebarkannya di internal kelompok mereka. Setelah itu secara serempak disebar ke media sosial.

Bagaimana cara para Buzzer mengamplifikasi—menyebarkan secara masif—pesan-pesan tersebut? Setidaknya ada 3 cara. Pertama, pakai BOT. Kedua, pakai akun-akun palsu. Ketiga, pakai followers yang diminta dan/atau tanpa diminta me-RT atau like postingannya.

Baca Juga:

Derita Lulusan Cumlaude S1 Informatika, Berharap Lulus Bisa Jadi Top Hacker Malah Nyasar Bekerja Menjadi Buzzer

4 Hoaks tentang Hape Xiaomi yang Sering Dipercaya Orang, Menyesatkan dan Nggak Berdasar

Saya pernah ngobrol sedikit dengan buzzer yang pernah bekerja untuk salah satu petinggi partai. Dia ini memiliki trik bagaimana bisa punya akun banyak hingga puluhan/ratusan—-tanpa menggunakan BOT yang kegiatannya mempromosikan/menyebarkan informasi positif mengenai si petinggi partai di twitter

Apa kekuatan para buzzer/influencer itu? Follower mereka yang banyak!

Karena orang kebanyakan memilih untuk mem-follow akun yang sesuai dengan pola pikir mereka dan menutup diri terhadap info atau sumber lain yang mereka tidak suka, para Buzzer memanfaatkan ini untuk mengendalikan followersnya.

Jadilah followers-followers itu mengikuti atau setuju apa pun narasi si buzzer. Maka akan ada orang-orang yang sangat bias dalam melihat suatu persoalan karena seringnya terpapar informasi yang sesuai dengan pemikiran atau harapan mereka. Namun di waktu bersamaan, itu membuat daya kritis mereka berkurang.

Maka itu saudara-saudara, sebaiknya tidak usah follow buzzer apalagi yang suka menyebarkan hoax, memperlebar jurang perbedaan, dan melanggengkan permusuhan. Jangan share, like, atau komen di postingan mereka. Ini berlaku untuk semua buzzer atau influencer yang tidak memberi pencerahan kepada masyarakat namun justru membenturkan.

Anda pikir mereka mencuit benar-benar untuk kepentingan masyarakat? You wish!

Sekelompok buzzer bisa berpindah-pindah pelanggan, tergantung siapa yang bayar. Namun ini tidak berlaku untuk buzzer ideologis. Mereka sangat mungkin menggunakan cara-cara kotor, termasuk menyebarkan hoax untuk memperjuangkan kepentingan si pemodal.

Dalam beberapa hari terakhir, kita ditunjukkan bagaimana hoax yang disebarkan beberapa akun yang diduga sebagai akun buzzer terbongkar. Pertama adalah hoax ambulance yang mengangkut batu. Berdasarkan analisis Drone Emprit (DE), lihat siapa-siapa saja yang pertama kali sebar. Link analisis DE:

Dari daftar top twit pada periode 22:00 (25 sept) sd 3:59 (26 sept), tampak apa narasi dari masing-masing akun di atas.

Untuk membuat pesan cepat viral, mereka memention teman top influencers. Ini proses #Mobilization. Isi pesan dan video seragam, atau #Orchestration. (#MO). pic.twitter.com/PgEOnlD7uq

— Ismail Fahmi (@ismailfahmi) September 26, 2019

Pada hoax ambulans, kita bertanya-tanya siapa yang merekam video itu? Dia berteriak-teriak dengan menyebut “ambulans penyuplai batu” berkali-kali tanpa dilerai. Lalu bagaimana buzzer dapat video itu? Kenalkah dengan pengambil video?

Ini suara perekam videonya, dari kata2nya jelas dia mengucapkan "Ini ambulance penyuplai batu".
Kalau @DivHumas_Polri @propampolri ingin mengusut dan menangkap penyebar hoax dan provokatornya.
Cc. @tni_ad @_TNIAL_ @_TNIAU pic.twitter.com/xW6zzOGsCu

— Syarif Alkadrie (@SyarifAlkadrie3) September 26, 2019

Kalau kita lihat di media, polisi sering menyebut demonstrasi ditunggangi pihak tertentu untuk menggagalkan pelantikan presiden. Kenapa tidak ditangkap saja pihak-pihak itu kalau memang ada bukti cukup? Diungkap saja dalangnya…

Kita masih ingat pada 2016, lalu 2019 ketika marak demonstrasi yang dilakukan pihak-pihak tertentu, polisi tidak segan-segan menetapkan beberapa orang sebagai tersangka makar. Kalau sekarang bukti-bukti sudah ada terkait kecurigaan polisi, kenapa tidak ditindak saja? Tentu polisi tidak ingin kredibilitasnya diragukan kan?

Saya kira, para buzzer/influencer penyebar hoax sedang ongkang-ongkang dan tidak khawatir bakal dilaporkan karena… karena… mmm… mmm… satu dan lain hal….

*Susah ya ngomong kalau ada pasal karet UU ITE. (*)

BACA JUGA Buzzer: Niatnya Ngejebak Tapi Malah Kebongkar atau tulisan Ainur Rohmah lainnya. Follow Twitter Ainur Rohmah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Oktober 2019 oleh

Tags: buzzerbuzzer pemerintahBuzzer PolitikHoax
Ainur Rohmah

Ainur Rohmah

Journalist | words @SCMPNews, @asiasentinel

ArtikelTerkait

pembuat hoax

Menebak Isi Kepala Pembuat Hoax

27 Maret 2020
aplikasi android body temperature diary hoaks gagal paham aplikasi android ga guna bohong hoaks mojok

Body Temperature Diary dan Aplikasi Android Lain yang Bikin Gagal Paham

11 April 2020
buzzer pak jokowi

Sebenarnya Pak Jokowi Tidak Perlu Buzzer

3 Oktober 2019
Hape Xiaomi Redmi A1, Ponsel Sejutaan yang Membuat Saya Melupakan iPhone 11 Pro

4 Hoaks tentang Hape Xiaomi yang Sering Dipercaya Orang, Menyesatkan dan Nggak Berdasar

2 Februari 2025
Pengalaman Jadi Buzzer Produk di Twitter dan Memahami Polanya terminal mojok.co

Pengalaman Jadi Buzzer Produk Sukses di Twitter

4 November 2020
Betapa Teganya Oknum-oknum yang Menyebarkan Berita Bohong pada Warga Tuban yang Sedang Dihantam Bencana

Betapa Teganya Oknum-oknum yang Menyebarkan Berita Bohong pada Warga Tuban yang Sedang Dihantam Bencana

25 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebumen Aneh, Maksa Merantau tapi Bikin Pengin Pulang (Wikimedia Commons)

Kebumen Itu Memang Aneh: Suka Memaksa Anak Muda untuk Segera Merantau, sekaligus Mengajak Kami untuk Segera Pulang

21 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi (Unsplash)

KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi

17 Maret 2026
Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

16 Maret 2026
Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026
Sengaja Beli Honda Vario 160 untuk Pamer Berakhir Penyesalan karena Jadi Repot Sendiri Mojok.co

Sengaja Beli Honda Vario 160 untuk Pamer Berakhir Penyesalan karena Jadi Repot Sendiri

22 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.