Jadi Buzzer Twitter: Modal Cuitan Dapat Cuan – Terminal Mojok

Jadi Buzzer Twitter: Modal Cuitan Dapat Cuan

Artikel

Ada-ada saja kegiatan yang dilakukan orang-orang semenjak pandemi Covid-19 ini hadir ke bumi. Mulai dari rebahan sampai rebahan lagi. Jangan salah ya, rebahan juga kegiatan. Hehehe. Jujur saja, kadang saya sampai kehabisan ide mau mengerjakan apa lagi selama diam di rumah saja. Hmmm, tanggungan hidup saya saat ini hanya skripsi. Iya, itu beban banget. Jujur~

Kalau punya banyak kegiatan, biasanya didukung juga dengan pengeluaran yang banyak. Atau malah kegiatan yang dilakukan menghasilkan cuan? Wah, keren kalau gitu. Memangnya skripsi, sudah bayar UKT mahal-mahal, belum lagi nanti bayar perintilan-perintilannya. Halah. Memang wis mbebani thok!

Saya sudah sejak tahun 2019 jadi warga Twitter yang setia bolak-balik hanya untuk misuh-misuh perihal hidup. Skripsi lebih banyak ambil bagian sih, tentu saja. Gimana lagi, ya memang begitu adanya.

Nah, selama saya jadi warga Twitter, kok baru tahu kalau dari Twitter kita bisa menghasilkan uang. Ckckck, ketinggalan zaman banget memang. Baru-baru ini saya tahu kalau ternyata modal ngetik-ngetik saja bisa jadi cuan lho lewat Twitter. Yup, apalagi kalau bukan jadi buzzer. Eits, bukan buzzer cebong kampret, ya. Tapi biasanya buzzer dari sebuah produk. Selow, jadi buzzer yang ini nggak bikin war, kok. Alias adem ayem saja.

Waktu itu timeline Twitter saya ramai dengan buzzer yang menaikkan tagar sebuah merek susu kaleng terkenal. Iya, susu sapi tapi berlogo beruang dan iklan naga terbang itu, lho. Saya sampai bingung kenapa ramai sekali para mutual saya menaikkan tagar itu. Isinya kurang lebih tentang alasan kenapa sih kita harus minum susu merek itu.

Baca Juga:  Pengalaman Jadi Buzzer Produk Sukses di Twitter

Saya penasaran. Akhirnya, saya bertanya pada salah satu mutual saya di Twitter yang ikut menaikkan tagar tersebut. Usut punya usut, ternyata memang ada grup yang menampung project buzzer seperti itu. Saya diundang deh ke dalamnya karena sangat kepo dengan cara kerjanya.

Lebih menggiurkan lagi, jadi buzzer seperti itu ternyata dapat bayaran yang, yah meskipun recehan, sepadan lah dengan kerjanya. Lumayan tuh mengumpulkan pundi-pundi recehan. Ada lho yang dapat Rp1 juta berkat jadi buzzer di Twitter!

Jujur sih, selama ini saya belum pernah menaikkan tagar meskipun ada project buzzer. Gimana nggak, saya kadang terbeban dengan syarat cuitannya. Kita diminta untuk mencuit tentang suatu produk dengan tagar sebanyak 14 atau 15 cuitan. Hah, jujur saya kadang nggak sanggup dan mikir kalau-kalau saya di-block orang-orang. Hahaha. Gimana coba? Saya sepertinya jadi pengamat saja ini mah~

Saya takut mengganggu ketenangan para mutual saya kalau banyak-banyak mencuit. Lha, kalau gitu kenapa saya malah mau ikutan ya awalnya? Ckckck. Maklumlah kalau ada yang berbau cuan, saya memang semangat 45, apa pun saya kerjain dah. Tapi, ujung-ujungnya males juga.

Kerja buzzer ini biasanya nggak jauh-jauh dari media sosial. Ya, iyalah. Maksud saya, sebagai buzzer nggak jarang juga diminta untuk voting polling di Instagram. Oh ya, ada admin yang mengatur itu semua. Mulai dari mulai project hingga pembayaran. Secara grup ini ada di Line Square.

Baca Juga:  Meningkatkan Efisiensi dan Efektivitas dalam Belajar Menggunakan Teknik Feynman

Beberapa hari belakangan, ada kasus dari salah satu marketplace terbesar dan terkenal di Indonesia. Netizen sih menyebutnya dengan “toko oren”. Tahu laaah marketplace mana yang saya maksud. Si “toko oren” ini beberapa kali tersandung kasus yang menurut saya ya cukup berat. Mulai dari pelecehan seksual hingga yang terbaru plagiasi lagu girlgroup K-Pop.

Ketika ada kasus-kasus seperti inilah buzzer bertindak. Menaikkan tagar yang mengungkapkan kekecewaan terhadap si “toko oren”. Bahkan sampai trending 5. Trending 5 masih terlalu jauh untuk buzzer. Biasanya sampai trending 1. Ya, itulah tugas buzzer sebenarnya menaikkan tagar sampai trending 1. Setelah itu kirim bukti cuitan, nanti pasti dapat imbalan.

Hmmm, sekali lagi ini bukan buzzer sekelas cebong kampret, ya. Hanya buzzer dengan pendapatan receh yang mungkin kalau dikumpulkan bertahun-tahun bisa berangkatin haji orang tua. Sejauh ini teman-teman saya yang ikutan sih dari kalangan mahasiswa. Mahasiswa yang butuh cuan lah untuk menunjang kehidupan semester akhir. Lumayan. Setidaknya bisa beli boba satu cup.

Katanya jadi buzzer ini nggak bisa dilakukan setiap hari. Tergantung project yang ada. Ya iyalah, kerjaannya nggak seberat buzzer partai, kok. Ooops. Pembayarannya pun dilakukan di akhir bulan. Lumayan juga mengumpulkan recehan sebulan sekali. Berasa sedang kerja kantoran, dong. Hahaha. Cocok untuk yang hobi rebahan seperti saya. Halah. Saya saja masih malas melakukannya.

Baca Juga:  Beruntunglah Kalian Para Jomblo

Boleh lah project buzzer ini dijadikan ladang cuan kalau lagi gabut banget. Apalagi kalau pengin banget beli Chatime. Hitung-hitung meningkatkan skill menulis juga mungkin~

BACA JUGA Nasib Punya Pacar Buzzer Pemerintah Sedangkan Saya Adalah Fans Sandiaga Uno dan tulisan Ayu Octavi Anjani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.