Daripada Bikin Cuitan Palsu demi Konten, Mending Bikin Novel Sekalian

Saya lalu berpikir kenapa cewek ini tidak sekalian saja nulis cerita pendek atau novel ya? Mungkin akan lebih diapresiasi daripada bikin cerita palsu hanya untuk memancing netizen.

Artikel

Avatar

Kemarin ada kasus yang ramai diperbincangkan di jagad Twitter. Saya bilang kasus karena memang tampaknya masalah ini kecil tapi termasuk penipuan. Iya, dia menipu banyak orang.

Awalnya ada seseakun dengan ava ughtea yang mengunggah gambar screenshoot percakapan antara dia dan (mantan) pacarnya. Semacam ‘from this to this’ gitu deh. Gambar yang pertama berisi percakapan awal perkenalan mereka, gambar kedua ada pernyataan si cowoknya minta bubaran dan cewek itu mempertanyakan uang lima puluh juta yang sudah dipinjam oleh si cowok untuk modal usaha.

Beberapa jam setelahnya tentu saja linimasa mulai ramai dengan hujatan, banyak yang bilang ini hal gila masa baru pacaran saja sudah pinjam uang segitu banyaknya? Dan kalimat dari cowok itu yang berbunyi ‘Ya ampun gitu aja masih diinget. Kamu mata duitan ya anjing’ saat ditagih pun bikin semua netizen jadi emosi.

Keanehan terjadi saat si cewek melanjutkan utas tersebut dengan tautan ke sebuah video dari akun YouTube-nya. Terlihat sekali bahwa itu hanya settingan, sebuah pancingan untuk konten vlog-nya. Brengsek? Ngeselin? You name it, gaes!

Di akhir utas, cewek ini membuat pernyataan minta maaf dengan klarifikasi blablabla yang sangat khas dan sudah pakem dilakukan oleh oknum-oknum sebelumnya. Dia bisa minta maaf, netizen mungkin juga bisa memaafkan (atau tidak?) tapi emosi ini tidak bisa hilang begitu saja.

Saya lalu berpikir kenapa cewek ini tidak sekalian saja nulis cerita pendek atau novel ya? Mungkin akan lebih diapresiasi daripada bikin cerita palsu hanya untuk memancing netizen supaya nonton vlog-nya. Walaupun ada beberapa hal yang kurang pas sih di cerita karangannya. Bisa jadi ughtea ini mengarang ceritanya dengan terburu-buru.

Baca Juga:  Pengin Punya Pasangan Sempurna? Pacaran Aja Sama Tokoh Novel!

Satu, ada dua tokoh yang berkenalan di media sosial (sepertinya). Satunya cewek berhijab, satunya cowok. Dan dua-duanya single. Sudah bisa lanjut kan romannya?

Dua, si cowok berani meminjam uang sebesar lima puluh juta yang katanya untuk modal usaha dan dikasih begitu saja sama ceweknya. Agak aneh, ya? Apakah yakin ‘begitu saja’? Tidak ada embel-embel lain sebelum dikasih? Atau memang si cewek ini sudah amat sangat percayanya?

Tiga, cewek ini terlihat masih muda, sangat muda. Apa mungkin dia punya uang nganggur lima puluh juta yang bisa langsung dipinjamkan ke orang lain?

Empat, di screenshoot percakapan mereka yang terakhir saat cowoknya minta putus, reaksi ceweknya hanya dengan ‘Lho maksud kamu apa?’ lalu menanyakan uangnya yang dipinjam. Kalau saya yang ada di posisi cewek itu tentu saja saya akan langsung telepon, tidak usah bertele-tele dengan nanya maksudnya apaan.

Kelima, di cuitannya cewek ini dengan jelas menuliskan ‘Fakboi’. Apakah mbaknya ini sudah diajak fak-fakan dulu sebelum diputusin? Dan tidak terimanya karena uang bukan malah karena udah di-fak? Gimana?

Keenam, di judul cuitannya dia mengikutkan nama sebuah akun fess untuk area Bandung. Terlalu berani, terlalu ceroboh atau terlalu bodoh? Ya wajarlah kalau akhirnya yang menghujat dia kebanyakan adalah orang-orang dari akun fess itu juga.

Ini hanya pemikiran saya, ya. Memang ada lubang di beberapa sisi cerita dan saya rasa memang lebih baik kalau dijadikan cerita pendek atau novel saja secara serius. Mau dibuat sebrengsek apa pun cowoknya, tentu pembaca akan jauh lebih bisa menerima.

Mau dibikin setajir dan sebego apa pun ceweknya juga pembaca kayaknya akan lebih maklum dan menerima tanpa emosi. Jadi tidak perlu pakai acara minta maaf dan klarifikasi segala, kan? Malah bikin netizen jadi semakin naik darah.

Baca Juga:  Dokter Tukang Sindir yang Membuatku Memilih Menahan Rasa Sakit

Mau nambah followers untuk cari duit dengan ad-sense ya nggak gitu juga kali, Mbak. Apalagi kalau ternyata mbaknya belum siap untuk jadi viral dan menerima hujatan. Kan mending jadi penulis novel aja, karyanya bisa dipertanggungjawabkan dengan baik dan siapa tahu juga bisa dapat royalti.

Dan saya mulai bertanya-tanya, hal seperti ini bukannya termasuk penipuan, ya? Menipu publik di sebuah platform media sosial kan? Bisa diperkarakan di ranah hukum kah? Biar pada kapok dan nggak mengulangi lagi gitu. Kesel lihatnya.

BACA JUGA Yang Bisa Dipelajari dari Penulis Novel atau tulisan Dini N. Rizeki lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
6

Komentar

Comments are closed.