Melihat Bagaimana Industri Buzzer Politik Bekerja

Anda pikir mereka mencuit benar-benar untuk kepentingan masyarakat? You wish! Buzzer bisa berpindah-pindah pelanggan, tergantung siapa yang bayar!

Artikel

Ainur Rohmah

Kalau kalian penasaran tentang buzzer, saya rekomendasikan untuk membaca penelitian Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) tentang industri buzzer di Indonesia. Penelitian itu ringan kok. Di sana dibahas pola rekruitmen dan strategi yang mereka lakukan untuk mengamplifikasi pesan.

Oh iya, sebelumnya, saya ingin mengulas sedikit perbedaan Buzzer dan Influencer. Mereka itu beda yaa, meski dalam banyak kasus, pengertiannya sangat cair karena ada buzzer setengah-setengah influencer (punya pengikut banyak tapi anonim).

Jadi, Buzzer itu biasanya bekerja dalam tim. Tidak harus terkenal dan punya banyak followers. Dia banyak bekerja di belakang layar. Orang tidak tahu siapa dia. Pekerjaan ini ada di area abu-abu (karena belum ada yang melarang atau mengatur pekerjaan ini). Yang jadi masalah adalah, kadang mereka ini pakai cara kotor seperti menyebarkan hoax dan ujaran kebencian untuk mem-promote atau menaikan suatu isu atau tokoh tertentu—seperti yang pernah dilakukan oleh MCA (Muslim Cyber Army) dan Saracen.

Sementara influencer, mereka biasanya tokoh-tokoh berpengaruh yang mengelola akun pribadinya. Dia punya banyak followers, dan opininya banyak diikuti. Influencer lebih mudah diidentifikasi dengan ciri-ciri antara lain: tidak anonim, pengikutnya banyak, dan pendapat-pendapatnya jadi rujukan.

Pada rentang 2017 sampai awal 2019, saya mengamati bagaimana industri buzzer bekerja, terutama pasca Pilgub DKI hingga menjelang hari-H pilpres. Buzzer-buzzer ini paling tidak didorong oleh 3 motif; 1) uang; 2) uang dan ideologi (misal kecintaan pada tokoh/organisasi tertentu); 3) ideologi (tidak dibayar).

Setelah Pilpres, saya lihat buzzer-buzzer oposisi hampir tidak kelihatan lagi, kecuali yang berafiliasi dengan ormas-ormas tertentu. Yang main sekarang lebih banyak buzzer/influencer yang dikenal sering membela pemerintah atau lingkarannya, bisa parpol tertentu atau tokoh tertentu.

Kegiatan buzzing tidak lepas dari dua aspek, yakni pesan yang ingin disampaikan dan cara agar pesan itu tersebar seluas-luasnya. Karena pada umumnya buzzer itu berkelompok—ada perekrut, dan ada koordinator yang membawahi buzzer-buzzer di bawahnya—setelah membuat materi,  mereka akan terlebih dahulu menyebarkannya di internal kelompok mereka. Setelah itu secara serempak disebar ke media sosial.

Baca Juga:  Hoax Positif Banyak Kita Temukan Ketika Lebaran

Bagaimana cara para Buzzer mengamplifikasi—menyebarkan secara masif—pesan-pesan tersebut? Setidaknya ada 3 cara. Pertama, pakai BOT. Kedua, pakai akun-akun palsu. Ketiga, pakai followers yang diminta dan/atau tanpa diminta me-RT atau like postingannya.

Saya pernah ngobrol sedikit dengan buzzer yang pernah bekerja untuk salah satu petinggi partai. Dia ini memiliki trik bagaimana bisa punya akun banyak hingga puluhan/ratusan—-tanpa menggunakan BOT yang kegiatannya mempromosikan/menyebarkan informasi positif mengenai si petinggi partai di twitter

Apa kekuatan para buzzer/influencer itu? Follower mereka yang banyak!

Karena orang kebanyakan memilih untuk mem-follow akun yang sesuai dengan pola pikir mereka dan menutup diri terhadap info atau sumber lain yang mereka tidak suka, para Buzzer memanfaatkan ini untuk mengendalikan followersnya.

Jadilah followers-followers itu mengikuti atau setuju apa pun narasi si buzzer. Maka akan ada orang-orang yang sangat bias dalam melihat suatu persoalan karena seringnya terpapar informasi yang sesuai dengan pemikiran atau harapan mereka. Namun di waktu bersamaan, itu membuat daya kritis mereka berkurang.

Maka itu saudara-saudara, sebaiknya tidak usah follow buzzer apalagi yang suka menyebarkan hoax, memperlebar jurang perbedaan, dan melanggengkan permusuhan. Jangan share, like, atau komen di postingan mereka. Ini berlaku untuk semua buzzer atau influencer yang tidak memberi pencerahan kepada masyarakat namun justru membenturkan.

Anda pikir mereka mencuit benar-benar untuk kepentingan masyarakat? You wish!

Sekelompok buzzer bisa berpindah-pindah pelanggan, tergantung siapa yang bayar. Namun ini tidak berlaku untuk buzzer ideologis. Mereka sangat mungkin menggunakan cara-cara kotor, termasuk menyebarkan hoax untuk memperjuangkan kepentingan si pemodal.

Dalam beberapa hari terakhir, kita ditunjukkan bagaimana hoax yang disebarkan beberapa akun yang diduga sebagai akun buzzer terbongkar. Pertama adalah hoax ambulance yang mengangkut batu. Berdasarkan analisis Drone Emprit (DE), lihat siapa-siapa saja yang pertama kali sebar. Link analisis DE:

Pada hoax ambulans, kita bertanya-tanya siapa yang merekam video itu? Dia berteriak-teriak dengan menyebut “ambulans penyuplai batu” berkali-kali tanpa dilerai. Lalu bagaimana buzzer dapat video itu? Kenalkah dengan pengambil video?

Kalau kita lihat di media, polisi sering menyebut demonstrasi ditunggangi pihak tertentu untuk menggagalkan pelantikan presiden. Kenapa tidak ditangkap saja pihak-pihak itu kalau memang ada bukti cukup? Diungkap saja dalangnya…

Baca Juga:  Pondok Pesantren Salaf Rasa Milenial

Kita masih ingat pada 2016, lalu 2019 ketika marak demonstrasi yang dilakukan pihak-pihak tertentu, polisi tidak segan-segan menetapkan beberapa orang sebagai tersangka makar. Kalau sekarang bukti-bukti sudah ada terkait kecurigaan polisi, kenapa tidak ditindak saja? Tentu polisi tidak ingin kredibilitasnya diragukan kan?

Saya kira, para buzzer/influencer penyebar hoax sedang ongkang-ongkang dan tidak khawatir bakal dilaporkan karena… karena… mmm… mmm… satu dan lain hal….

*Susah ya ngomong kalau ada pasal karet UU ITE. (*)

BACA JUGA Buzzer: Niatnya Ngejebak Tapi Malah Kebongkar atau tulisan Ainur Rohmah lainnya. Follow Twitter Ainur Rohmah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
1.031 kali dilihat

16

Komentar

Comments are closed.