Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Melestarikan Budaya Petan, Ajang Sambat dan Gibah untuk Menjaga Kesehatan Mental

Rois Pakne Sekar oleh Rois Pakne Sekar
22 Oktober 2022
A A
Melestarikan Budaya Petan, Ajang Sambat dan Gibah untuk Menjaga Kesehatan Mental

Melestarikan Budaya Petan, Ajang Sambat dan Gibah untuk Menjaga Kesehatan Mental (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Budaya petan sambil sambat dan gibah harus dilestarikan agar emak-emak tetap terjaga kesehatan mentalnya. 

Sekolah tempat saya mengajar, yakni SD Mafaza Integrated Smart School Malang memiliki kegiatan yang menjadi agenda rutin bulanan. Tajuk kegiatannya adalah Nguri-uri Budaya Nusantara yang dikemas dalam format sarasehan. Memang judul kegiatannya kental beraroma Jawa, namun isinya berupa pengenalan budaya dari seluruh Indonesia. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk memperluas wawasan guru dan siswa akan budaya dari berbagai daerah di tanah air. Sebuah tujuan yang mulia bukan?

Oktober ini giliran budaya dari tanah Papua yang diangkat sebagai tema. Topik spesifiknya adalah tari yamko rambe yamko. Karena topiknya mengenai tarian, maka sarasehannya nggak hanya berisi wawasan dan teori dan saja dong. Para guru dan siswa diajak untuk mempraktikkan tarian dari ujung timur Nusantara tersebut. Seru? jelaS, mateni S.

Tapi, bukan itu bagian terbaiknya. Masih ada plot twist yang membuat saya terinspirasi untuk menuliskan catatan ini. Di akhir acara sarasehan ada beberapa Ibu guru yang meriung dan membuat forum santai sendiri. Saya yang kepo mencoba mendekat untuk mencuri dengar. Menguping pembicaraan mereka ini sangat urgent saudara, sebab jika ada lebih dari tiga wanita dewasa yang berkumpul pasti ada isu penting menyangkut nasib bangsa yang sedang dibahas.

Dan ternyata benar, mereka sedang membicarakan isu-isu terupdate. Mulai dari tugas menyusun proyek Kurikulum Merdeka dari Pengawas Sekolah, coreng-morengnya wajah institusi tukang bakso berseragam coklat (if you know what i mean), bursa calon Presiden 2024, hingga potensi resesi ekonomi global. Nah, apa yang Ibu-ibu guru lakukan tersebut mengingatkan saya pada kenangan hidup di kampung sekira 20 hingga 30 tahunan yang lalu. Kenangan tersebut berupa kebiasaan atau budaya pétan.

Kebiasaan pétan sebagai sarana healing êndék- êndékan

Setidaknya hingga akhir tahun 90an saya masih sering menjumpai emak-emak di kampung saya yang berkumpul sembari ngobrol santai untuk mengisi waktu luang. Forum santai ini lazimnya disatukan dengan kegiatan super elok yang bernama pétan. Yups, pétan a.k.a. mencari kutu rambut yang dilakukan secara berjamaah.

Aktivitas tersebut biasanya rutin dilakukan selepas jam 10 pagi, setelah mereka selesai dengan pekerjaan rumah tangganya. Ini menjadi semacam healing êndék- êndékan pelepas penat bagi mereka. Rutinitas pétan ini menjadi penting, sebab dalam forum santai tersebut mereka bisa menyalurkan dua hal sekaligus, yakni sambat (curhat) dan rasan-rasan (gibah).

Dalam rutinitas pétan, ini ibu-ibu bisa saling curhat mengenai kehidupan rumah tangganya masing-masing. Bisa tentang anaknya yang jomblo berkepanjangan, tentang mertuanya yang judes setengah edan, atau tentang suami yang mulai punya gebetan. Perkara gibah jangan ditanya lagi. Seorang dai kondang nasional pernah berucap perkara gibah ibu-ibu ini: jika ada dua emak-emak bertemu mereka akan ngrasani orang se-RW. Jika ada tiga, cakupan gibahnya menjadi sekecamatan, dan jika lebih dari 5 ibu-ibu bertemu maka bisa habis se-Indonesia Raya dirasani mereka.

Baca Juga:

Bisa Sambat Pakai Bahasa Jawa Adalah Privilege, di Jakarta Nggak Mungkin Bisa!

Working Mom Mending Tinggal di Perumahan agar Terhindar dari Tetangga Nyinyir

Eits, tapi jangan buru-buru memberi judgement negatif terhadap kebiasaan pétan sambil sambat dan rasan-rasan ini. Kedua hal tersebut sangat penting lho bagi kesehatan mental ibu-ibu. Sebab, dengan curhat mereka bisa saling berbagi pundak sebagai sandaran beban. Sedangkan melalui gibah mereka bisa mengeluarkan segala kesumpekan pikiran.

Melestarikan budaya pétan demi kesehatan mental ibu-ibu

Coba saja sampeyan bayangkan jika emak-emak tersebut tidak menemukan saluran yang tepat untuk sambat dan gibah, bisa depresi mereka. Sedangkan obat depresi tidaklah murah. Di tahun-tahun tersebut, gangguan mental masih belum dicover BPJS (lha ya jelas, wong BPJS belum ada). Memikirkan biaya pengobatannya saja bisa membuat level depresinya berpangkat dua.

Di zaman sekarang kurang lebih ya masih sama saja. Meskipun penyakit mental sudah ada yang ditanggung negara, namun prosedur birokrasinya masih lumayan njlimet juga. Selain itu social cost yang mesti ditanggung keluarga penderita gangguan mental juga amat berat. Masyarakat acapkali masih memberi stigma buruk kepada mereka yang mengalami mental disease. Hal ini bukannya membantu meringankan tapi malah menambahi beban mental bagi keluarga penderita.

Jika membicarakan gangguan mental bagi ibu-ibu yang tinggal di perkotaan, kita akan menjumpai sumber penyebab depresi yang relatif lebih besar daripada emak-emak yang tinggal di desa. Faktor-faktor yang lazim seperti trauma, pelecehan seksual, kekerasan emosional, serta riwayat keluarga; masih ditambah dengan faktor ekonomi yang tekanannya relatif lebih besar bagi masyarakat perkotaan.

Nah, untuk mengurangi risiko gangguan mental tersebut diperlukan sarana healing yang rutin dan terjangkau. Bagi mereka yang dianugerahi privilege berupa kekayaan sih tidak menjadi soal. Mereka bisa memilih cara healing apa pun dan dimanapun. Bisa dengan booking sesi cerita dengan psikiater, atau bisa juga melakukan retreat ke Uganda.

Sedangkan bagi kaum menengah (meneng tapi terengah-engah) perkotaan, tentu butuh sarana yang lebih terjangkau, bahkan kalau bisa yang nirbiaya.  Maka acara pétan plus sambat dan rasan-rasan bisa menjadi solusi praktis serta ekonomis yang patut dicoba.

But there’s another problem, bagaimana bisa pétan jika mayoritas wanita zaman sekarang jilbaban?

Penulis: Rois Pakne Sekar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Ya Tuhan, Mengapa Ghibah Itu Menyenangkan?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2022 oleh

Tags: gibahKesehatan Mentalpetanrasan-rasanSambat
Rois Pakne Sekar

Rois Pakne Sekar

Seorang part time teacher dan full time parent.

ArtikelTerkait

5 Pemicu Gangguan Mental bagi Seorang Pendeta Terminal Mojok

5 Pemicu Gangguan Kesehatan Mental bagi Seorang Pendeta

4 Agustus 2022
sambat

Ketika Game Online Jadi Ajang Sambat Penontonnya

27 Agustus 2019
kesehatan mental britney spears konservatori mojok

Britney vs Spears: Konservatori yang Mengekang Britney Spears dan Pentingnya Kesehatan Mental

26 September 2021
Serial Dokumenter Kematian Elisa Lam Menunjukkan Tingkat Kepo Netizen bisa Berbuah Keji terminal mojok.co

Serial Dokumenter Kematian Elisa Lam Menunjukkan Tingkat Kepo Netizen yang Keterlaluan

8 Maret 2021
Demo Boleh, Gosong Jangan

Aku Kalau Demo: Demo Boleh, Gosong Jangan #SkincareMahal

26 September 2019
pernikahan

Jangan Nunggu Dirujuk, Datanglah ke Psikolog Sebelum Pesta Pernikahan Berlangsung

4 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita Kawan Saya Seorang OB selama 4 Tahun: Dijanjikan Naik Jabatan dan Gaji, tapi Ternyata Itu Semua Hanyalah Bualan Direksi

Cerita Kawan Saya Seorang OB Selama 4 Tahun: Dijanjikan Naik Jabatan dan Gaji, tapi Ternyata Itu Semua Hanyalah Bualan Direksi

10 Januari 2026
5 Cara Mudah Mengetahui Oli Palsu Menurut Penjual Spare Part Mojok.co

5 Cara Mudah Mengetahui Oli Palsu Menurut Penjual Spare Part

8 Januari 2026
Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk

13 Januari 2026
Begini Rasanya Dapat Dosen Pembimbing Skripsi Seorang Dekan Fakultas Mojok.co

Begini Rasanya Dapat Dosen Pembimbing Skripsi Seorang Dekan Fakultas, Semuanya Jadi Lebih Lancar

7 Januari 2026
MR DIY Tempat Belanja yang Lebih Nyaman, Lengkap, dan Worth It ketimbang Miniso

MR DIY Tempat Belanja yang Lebih Nyaman, Lengkap, dan Worth It ketimbang Miniso

11 Januari 2026
Jalan Daendels Jogja Kebumen Makin Bahaya, Bikin Nelangsa (Unsplash)

Di Balik Kengeriannya, Jalan Daendels Menyimpan Keindahan-keindahan yang Hanya Bisa Kita Temukan di Sana

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa
  • Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah
  • 5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku
  • Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji
  • Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi
  • Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.