Sebagai dosen muda yang belum genap berusia 30 tahun, ada saja hal-hal aneh yang terjadi. Btw, saya mengajar sejak 2022, sejak usia belum genap 26 tahun. Masih cukup muda. Bahkan, seringkali mahasiswa saya lebih tua ketimbang saya. Alhasil, saya memang sering dianggap mahasiswa, khususnya ketika awal-awal menjadi dosen.
Tentu tiap-tiap profesi ada hal-hal menyebalkan yang terjadi, nggak mungkin hanya senang-senang saja kemudian gajian. Begitu pula dengan dosen. Pasti ada saja hal yang menyebalkan, bahkan terasa aneh. Salah satunya ketika mendapat chat dari mahasiswa.
Saya paham kadang bukan karena melakukan dengan sadar. Tapi, karena ketidaktahuan. Namun, meski begitu tetap saja saya sering tertawa dan membatin, “Kok bisa sih?” Maksud saya, apa nggak dibaca berapa kali dulu sebelum mengirimkan?
Menyuruh dosen menyesuaikan waktu dengan mahasiswa
Sebagai dosen muda yang jarak rumah dan kampus hanya sekitar 3 menit naik motor, saya paling sering mengalami ini. Tiba-tiba saja ada pesan masuk, “Pak, dosen di jam pertama kosong, bisa masuk sekarang?”
Saya sering membatin, kok bisa ya kirim pesan yang gegabah kayak gitu? Maksud saya kok bisa jadi kebalik. Bukannya mahasiswa yang menyesuaikan jadwal dosen? Pun tujuan dibuatkan jadwal kuliah itu ya agar bisa menyesuaikan dengan jadwal yang lainnya. Bukan ujuk-ujuk diubah karena mahasiswa pengin cepet pulang.
Btw, ini bukan soal minta diistimewakan. Ini soal siakp. Kesannya seolah-olah dosen yang harus segera merapat begitu dipanggil. Padahal, kami juga punya kegiatan lain, dan agak susah untuk tiba-tiba disuruh-suruh mengganti jadwal. Yah, membayar UKT bukan berarti semua hal bisa serba sesuai keinginan.
Soal nilai dan permintaan yang aneh-aneh
Saya kira ini hal yang sering dialami dosen. Dan, kami seringkali kebingungan menjawab. Iya, ketika ada mahasiswa yang menanyakan, “Kok nilai saya segini?”
Bukan gimana-gimana, maksud saya kok PD banget mempertanyakan. Padahal dalam sistem penilaian, sangat mungkin seseorang memang berada di angka tersebut.
Tidak semua orang otomatis dapat A hanya karena merasa sudah berusaha. Atau, biasanya dapat A. Sebab, mata kuliahnya berbeda. Pun kondisinya juga beda. Karena itu sangat mungkin itu terjadi. Karena itu jangan heran kalau kami selalu butuh waktu membalasnya untuk sekadar memilih dan memilah diksi yang pas, agar tidak dianggap killer atau bahkan “gila hormat”.
Fenomena chat dosen berjamaah
Masalah lain yang jarang disadari mahasiswa adalah chat berjamaah. Satu kelas bisa mengirim pertanyaan yang sama, bahkan hampir di waktu yang sama pula. Padahal sebenarnya cukup satu perwakilan. Kadang hal ini terjadi karena perwakilan kelas tidak dibalas, kemudian anak lain mencoba untuk mengirim pesan susulan, mungkin niatnya follow up agar segera dibalas.
Dan, ketika dosen membuka WhatsApp dan melihat notifikasi beruntun dengan isi serupa, yang muncul adalah kejengkelan. Kok bisa spam pesan? Kok bisa diharapkan membalas satu-satu dari bawah? Jan, ramashok.
Perlu diingat juga, dosen itu bukan hanya mengampu satu kelas. Selain itu, seringkali juga tidak hanya fokus mengajar, melainkan ada kegiatan akademik lainnya, jadi akan sangat tidak pas jika kalian menambah jumlah notifikasi dengan spam pertanyaan yang isinya serupa.
Online bukan berarti siap membalas
Saya kira fenomena dosen online tapi nggak balas pesan, sepertinya sudah menjadi pembahasan lintas mahasiswa. Baik yang baru menjalaninya maupun yang sudah lulus sekian purnama lalu. Iya, pembahasan ini seakan tetap abadi, diwariskan turun-temurun. Dan, menjadi keresahan bersama.
Ketika masih menjadi mahasiswa, saya juga pernah mengalaminya. Ketika sedang membutuhkan bimbingan atau tanda tangan, saya merasa akan segera dibalas karena belinya online. Namun, setelah menunggu dari lima menit sampai lima jam, harapan itu luntur. Dan, kami hanya bisa maido untuk menghibur diri.
Btw, ketika menjadi dosen, saya mulai paham alasan kenapa beliau melakukannya. Dan, ternyata tidak ada Mens Rea atau niat jahat.
Iya, saya kira satu hal yang saya kira sangat perlu diterima adalah status online bukan berarti sedang duduk santai menunggu chat mahasiswa. Bisa jadi sedang mengoreksi tugas, rapat daring, menyiapkan materi, atau membalas pesan yang lain.
Karena itu, kalau chat belum dibalas, tidak perlu langsung berasumsi macam-macam. Bersabar saja. Sebab, itu juga bagian dari etika komunikasi. Yah, semoga saja tulisan ini bisa dipahami dengan saksama dan lapang dada.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pernah Benci Dosen yang Slow Respon Balas WhatsApp, Kini Saya Mengerti.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
