Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Lulusan S2 Jadi Beban, Kerap Dianggap Overqualified padahal Cuma Ingin Kerja demi Menyambung Hidup 

Fauzan Nur Ilahi oleh Fauzan Nur Ilahi
4 Juli 2026
A A
Lulusan S2 Jadi Beban, Kerap Dianggap Overqualified padahal Cuma Ingin Kerja demi Menyambung Hidup Terminal

Lulusan S2 Jadi Beban, Kerap Dianggap Overqualified padahal Cuma Ingin Kerja demi Menyambung Hidup (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Teman lulusan S2 di salah satu PTN di Yogyakarta. Dia pernah berbagi cerita soal pengalamannya ditolak HRD karena dianggap overqualified. Si HRD bilang kalau jenis pekerjaan dan gaji dari perusahaan terlalu rendah untuk teman saya yang sudah menyandang gelar magister. 

HRD tidak keliru memang. Dia hanya khawatir pekerjaan dan gaji akan membawa ketidakpuasan pada teman saya. Seandainya boleh mengatakan apa saja, teman saya akan bilang, “Saya jauh lebih nggak puas kalau saya tidak ada pemasukan sama sekali!”

Bagi teman saya, hidupnya bakal jauh dari kata puas ketika berada dalam kondisi menganggur. Menganggur itu menyiksa dan melahirkan pikiran yang aneh-aneh. 

Sebagai mahasiswa yang saat ini menempuh S2, apalagi sudah masuk semester akhir, saya jadi kepikiran, takut mengalami hal serupa.

Lebel overqualified yang memberatkan lulusan S2

Kasus yang dialami oleh teman saya nyatanya jamak terjadi. Kalau tidak percaya, bisa kalian baca sendiri tulisan-tulisan di Mojok, betapa banyak kasus serupa terjadi di orang lain. 

Muara problemnya selalu sama. HRD merasa bahwa gelar magister hanya akan merepotkan perusahan karena pekerja dengan gelar magister akan over demanding terhadap gaji, sementara kecakapan dalam kerja profesional tidak ada.

Dalam kasus teman saya, dugaan pengalaman kerja yang nihil itu terbantah. Sejak di S1, dirinya telah mengikuti beragam proyek dan program magang sebelum akhirnya lanjut S2.

Ketika menempuh S2 pun dia pernah menggawangi beberapa proyek yang relevan dengan kemampuan akademik yang dia miliki. Tetapi pasca lulus, setelah CV dan portofolio sudah disiapkan; segala pengalaman dan prestasi disusun rapi-rapi; sudah pede untuk masuk kerja profesional, tetap saja terbentur respon HRD dengan label overqualified.

Baca Juga:

Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan

Pengalaman Kuliah S2 UGM Nyambi Jadi MUA, Nggak Malu walau Sempat Merias Temen yang Lulus Duluan

Yang perlu dimengerti oleh HRD

Barangkali ini yang mesti dipahami oleh HRD. In this economy, banyak di antara lulusan magister itu hanya ingin mendapat kerja, even pekerjaan itu masih belum bisa dikategorikan sebagai “layak”, supaya mereka dapat menutupi kebutuhan harian. Syukur-syukur bisa menyisihkan sedikit untuk menabung.

Beberapa esai di Mojok bahkan ada yang menulis soal lulusan magister dari kampus-kampus di Jogja, yang pada akhirnya memilih kerja sebagai ojol atau entry data untuk menutupi kebutuhan keseharian mereka.

Tidak ada yang keliru dengan dua profesi itu, kecuali kenyataan bahwa profesi itu sangat mungkin diraih tanpa perlu repot-repot S2. Tetapi poin saya adalah: contoh kasus itu mengeliminasi argumen bahwa menerima lulusan magister itu berisiko bagi perusahaan karena mereka cenderung akan rewel soal gaji, atau sedikit-sedikit mau resign karena ekspektasi kerja yang tidak sesuai.

Padahal, boro-boro minta naik gaji, bisa lepas dari status pengangguran saja itu sudah jadi satu kemewahan. Di tengah harga barang-barang yang semakin melambung, banyak di antara lulusan S2 yang terbirit-birit mengejar pekerjaan bukan demi makan all you can eat tiap pekan; atau doping matcha setiap hari, melainkan demi melepas engap yang lahir dari status pengangguran.

Nihil jaring pengaman

Posisinya memang dilematis. Latar belakang berupa CV dan portofolio yang terlalu tinggi dianggap overqualified. Tetapi pendidikan dan pengalaman yang minim juga dianggap tidak memenuhi syarat.

Di saat yang bersamaan, khususnya di Indonesia, kondisi ini diperparah dengan belum adanya jejaring yang jelas yang mampu dijadikan alat pengaman oleh para lulusan S2. Regulasi ketenagakerjaan yang absurd, jaminan atas kaum terdidik yang nihil, atau lapangan pekerjaan yang masih belum memadai, adalah kondisi centang perenang yang membuat lulusan S2 semakin dihimpit ketidakpastian.

Berharap jejaring pengaman untuk lulusan S2 yang lahir dari inisiatif government,adalah keinginan yang utopis. Mengingat posisi saya sebagai serpihan kecil dari masyarakat sipil yang suka menulis, maka satu upaya yang paling mungkin adalah dengan merengek pada segenap HRD di manapun mereka berada supaya stop melihat lulusan S2 itu sebagai calon pekerja yang punya perangai rewel, suka minta naik gaji, atau hobi resign. Mereka melamar kerja hanya karena ingin tetap hidup!

Penulis: Fauzan Nur Ilahi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Pengalaman Berdagang Selama Kuliah di Unila Lampung, Sering Dikira Anak Kos hingga Seolah Punya Utang Budi kepada Pembeli.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Juli 2026 oleh

Tags: ijazah S2lokerlulusan S2magisteroverqualifiedS2
Fauzan Nur Ilahi

Fauzan Nur Ilahi

ArtikelTerkait

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

14 Januari 2026
Mas Gibran, Please Banget, Jadi Pengusaha Bukan Solusi dari Masalah Lapangan Kerja!

Mas Gibran, Please Banget, Jadi Pengusaha Bukan Solusi dari Masalah Lapangan Kerja!

2 Desember 2023
Kerja Sambil Kuliah S2 demi Menutupi Hidup yang Terlanjur Medioker Mojok.co

Kerja Sambil Kuliah S2 demi Menutupi Hidup yang Terlanjur Medioker

8 Oktober 2025
Derita Lulusan S2 yang Hidup di Desa, Dianggap Gagal dan Kuliahnya Sia-sia  Mojok.co

Derita Jadi Lulusan S2 yang Hidup di Desa, Dianggap Gagal dan Kuliahnya Sia-sia 

31 Juli 2025
Pengalaman Saya Nyaris Gabung Sindikat Love Scamming Internasional di Sleman. Gajinya Besar, tapi Harus Jadi Cewek Seksi dan Bisa Sexting Mojok.co

Pengalaman Saya Nyaris Gabung Sindikat Love Scamming Internasional di Sleman. Gajinya Besar, tapi Harus Jadi Cewek Seksi dan Bisa Sexting

23 Januari 2026
S2 UGM Diperebutkan Lulusan S1 dari Kampus Mana Aja kecuali dari Kampus Sendiri Mojok

S2 UGM Diperebutkan Lulusan S1 dari Kampus Mana Aja kecuali dari UGM Sendiri

26 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati

Sleman jadi besar dan hebat justru karena tidak punya “pusat kota”, kemajuan tersebar merata di segala penjurunya

26 Juli 2026
Drama pembayaran tunai ojol, uang kembalian jadi menguras waktu dan energi saya Mojok.co

Niat beli makanan lewat layanan pesan antar ojol supaya praktis, eh berujung repot karena driver tak punya kembalian

20 Juli 2026
5 Dosa tukang cukur Madura yang bikin pelanggan risih dan kapok balik lagi Mojok.co

5 Dosa tukang cukur Madura yang bikin pelanggan risih dan kapok balik lagi

23 Juli 2026
Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang  Mojok.co

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang 

19 Juli 2026
Tips Plesir Kala Malam di Jogja Naik GoRide (Unsplash)

Sebagai orang yang pernah tinggal di sana, saya harus jujur kalau Jogja kini menjelma jadi kota besar yang membosankan

23 Juli 2026
Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan Mojok.co

Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan

25 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.