Pengalaman saya berjualan di Unila Lampung bikin saya paham, ternyata banyak yang ngaku-ngaku raja. Raja kok nawar, gimana itu logikanya?
Saya lupa lebih tepatnya semenjak kelas I atau II SD, tetapi yang jelas, saya sudah berjualan di sekolah sedari usia 7 tahun. Rasanya, hampir semua jenis barang pernah saya jual (kecuali narkoba, tentu saja).
Namun, entah memang bukan jiwanya atau bagaimana, selama 23 tahun hidup setidaknya ada 30 entitas berbeda yang mengujarkan bahwa saya nggak berbakat menjadi pedagang. Alasannya kurang lebih sama: terlalu nggak enakan.
Yah … meskipun demikian, setengah masa perkuliahan saya di Unila Lampung tetap saja dihabiskan untuk berdagang. Dari pengalaman inilah saya menyadari bahwa tantangan terbesar bukan soal memilih barang dagangan atau menentukan margin keuntungan, melainkan menghadapi mahasiswa Unila dengan beragam keunikan.
Percaya sama saya, semua jenis barang pasti ada pasarnya di kampus
Barang yang saya jual selama menjadi mahasiswa bisa dibilang sangat random. Mulai dari TWS, headphone, mouse, keset, sabun mandi, sampo, conditioner, lotion, acne patch, setting spray, novel, pulpen, cutter, sticky notes, kipas, jeriken, lampu, jarum pentul, dompet, jas hujan, tisu kering, tisu basah, sampai jahe merah. Pokoknya, semua yang bisa dikasih harga saya jual.
Tentu saja pembeli tidak datang dengan sendirinya. Sebagai orang yang kurang pandai bersosialisasi dan lingkaran pertemanannya pun tidak besar, saya tetap harus meminta bantuan banyak orang untuk mempromosikan dagangan di Unila Lampung.
Respons yang saya terima pun beragam. Ada (banyak) yang membantu dengan senang hati, ada yang hanya membaca pesan tanpa membalas, dan ada pula yang menolak mentah-mentah. Menurut saya itu wajar sih. Namanya juga minta tolong, nggak ada kewajiban bagi mereka untuk mengiyakan. Namun, yah … bohong kalau bilang saya nggak sakit hati sama sekali.
Hamdalah, berkat bantuan teman-teman juga, barang-barang yang saya jual selalu menemukan pembelinya. Tidak hanya dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis tempat saya berkuliah, tetapi juga dari ketujuh fakultas Unila Lampung lainnya. Saya jadi yakin bahwa setiap barang pasti ada pasarnya di kampus, asalkan berani promosi serta mampu menahan rasa malu dan gengsi.
Sering dikira anak kosan hanya karena berdagang di Unila Lampung
Sampai sekarang saya tidak tahu penyebab pastinya. Barangkali karena mayoritas yang berdagang di lingkungan kampus Unila Lampung berasal dari luar Bandar Lampung. Akibatnya, banyak orang otomatis menyimpulkan bahwa mahasiswa yang berdagang sudah pasti anak rantau.
Yang bikin saya heran, kejadian ini bukan sekali dua kali. Hampir semua pembeli yang tidak mengenal saya secara personal mengira saya adalah anak kos. Seolah-olah warga lokal tidak mungkin mencari uang sendiri atau selalu hidup berkecukupan lantaran tinggal bersama orang tua.
Padahal, realitasnya tidak demikian. Tinggal bersama orang tua mungkin memang mengurangi beberapa pengeluaran bagi sebagian orang, tetapi bukan berarti secara otomatis membuat rekening mahasiswa menjadi tebal. Kalau memang kaya raya, ngapain juga saya repot-repot jualan keset, jeriken, sampai jahe merah seharga dua ribu tiga?
Nawarnya nggak ngotak mentang-mentang teman sendiri
Saya nyaris tidak pernah memasang harga tinggi ketika berjualan di Unila Lampung. Biasanya, harga yang saya tawarkan setara dengan marketplace, bahkan kadang jauh lebih murah.
Selain memang tidak tega apabila menjual barang dengan harga tinggi kepada sesama mahasiswa, saya juga merasa harga yang saya pasang sudah masuk akal. Namun, ada saja yang masih berkomentar, “Kamu ini dagang atau sedekah?”
Contohnya untuk produk lotion dari berbagai merek, saya pernah menjual dengan harga bervariasi mulai dari Rp1.000 hingga Rp35.000 agar bisa menjangkau berbagai kondisi keuangan teman-teman di kampus.
Begitu pula dengan pena Kokoro yang menjadi primadona. Saya pernah menjualnya seharga Rp4.000 sebelum naik menjadi Rp4.500. Padahal, harga di toko offline saja mencapai Rp8.000. Marketplace? Rata-rata Rp6.000.
Akan tetapi, ternyata harga murah tidak otomatis membuat proses jual beli menjadi lebih mudah. Sudahlah jual murah, berusaha ramah, masih saja ada kutu kupret yang menawar dengan nominal yang membuat saya bingung harus tertawa atau marah.
Poin ini sering sekali terjadi apabila pembelinya dari golongan teman saya sendiri di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unila Lampung. Klasiknya, minta harga teman. Oleh sebab itu, jujur dari hati terdalam, saya kadang lebih senang melayani orang yang nggak kenal sama saya. Mereka kan nggak tahu kalau saya aslinya tidak enakan.
Perihal yang bikin saya senang bertransaksi di FEB Unila Lampung paling hanyalah karena jaraknya yang paling dekat, walaupun banyak anak kurang ajar yang menyuruh saya naik ke lantai 3 lantaran beli barang di bawah ceban. Kampret betul (tetap nurut).
Freebies seolah wajib, bukan opsional. Dikira saya juragan sawit apa?
Kalau urusan tawar-menawar harga masih bisa dimaklumi, urusan bonus ini kerap kali lebih membingungkan dan terus terang membuat dahi saya mengernyit.
Sebagian pembeli menganggap freebies bukanlah sesuatu yang opsional. Padahal, saya memberikan bonus murni berdasarkan suasana hati dan ketersediaan barangnya saja. Kalau lagi pengin ngasih, ya saya kasih. Kalau nggak, ya nggak.
Pada beberapa kesempatan, nilai bonus yang saya berikan bahkan lebih besar daripada keuntungan yang saya peroleh. Memang rada goblok. Namanya juga nggak bakat jualan.
Namun, tetap saja, apabila di kesempatan lain saya tidak menyisipkan freebies, keberadaannya langsung jadi pertanyaan. Barulah saya sadar bahwa sesuatu yang terlalu sering diberikan secara cuma-cuma lama-kelamaan bisa dianggap sebagai kewajiban. Dikira saya juragan sawit apa?
BACA JUGA: Sebagai Warga Lokal, Saya Mengaku Iri dengan Anak Rantau yang Kuliah di Unila Lampung
Seolah punya utang budi kepada pembeli di Unila Lampung
Lantaran memang tidak terlalu suka berinteraksi dengan banyak orang, cara saya berdagang selama kuliah di Unila Lampung juga agak lain. Lagi-lagi, tergantung mood.
Kalau sedang merasa malas atau overwhelmed, saya sering menyuruh calon pembeli untuk checkout di Shopee atau Tokopedia saja. Wong harganya sama kok. Akibatnya, selama berdagang, lebih banyak orang yang memaksa saya menjual stok barang di gudang (dibaca: kamar berukuran kurang dari 2×2 meter) ketimbang saya memaksa orang untuk beli barang.
Bahkan, ketika ada teman yang terlalu sering atau terlalu banyak berbelanja, saya selalu menyarankan mereka untuk berhemat atau menabung saja. Kurang baik apa cobaaa???
Namun, hubungan saya dengan sebagian teman kadang terasa janggal. Hanya lantaran mereka pernah beli barang, seolah-olah saya punya utang budi yang harus terus diingat hingga akhir hayat. Kalau mereka meminta atau menyuruh saya melakukan sesuatu, yang diungkit adalah riwayat pembelian pada masa lalu. Lah, dikira selama ini saya terima sumbangan kali.
Padahal, bukankah transaksi jual beli adalah hubungan yang setara? Pembeli memperoleh barang yang mereka inginkan, sedangkan penjual memperoleh uang sesuai kesepakatan. Sama-sama untung, sama-sama mendapat manfaat.
Akan tetapi, saya tidak (terlalu) menyesal sibuk berdagang selama menjadi mahasiswa Unila Lampung. Setidaknya, hidup di Kota Bandar Lampung yang memuakkan ini jadi punya sedikit bumbu. Ada seni menghadapi anomali, menahan gengsi, menerima penolakan, hingga memahami bahwa tidak semua orang memandang transaksi jual beli sebagai hubungan yang setara.
Persetan dengan slogan pembeli adalah raja. Raja kok nawar.
Penulis: Siti Atika Azzahrah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Alasan Saya Gemar Berjalan Kaki di Bandar Lampung kendati Rasanya seperti Uji Nyali
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.








