Sebagai orang tua yang anaknya masih TK, saya mulai menyadari bahwa anak TK zaman punya banyak kegiatan. Selain belajar dan bermain seperti yang sehari-hari dilakukan, mereka juga pentas, outing, wisudaan, dan masih banyak lagi.
Dan, satu hal yang menurut saya menarik adalah manasik haji.
Menarik, bukan karena saya menganggap kegiatan itu penting. Justru sebaliknya. Saya sering bertanya-tanya, sebenarnya untuk apa sih anak TK diajari manasik haji?
Jangan salah paham dulu. Saya tidak sedang mengatakan manasik haji itu kegiatan yang buruk.
Mengenalkan ibadah kepada anak tentu saja baik. Tapi, kalau berbicara tentang prioritas, saya merasa ada banyak hal yang jauh lebih mendesak untuk diajarkan kepada anak TK daripada simulasi ibadah yang mungkin baru akan mereka lakukan puluhan tahun kemudian.
Dengan demikian, mengajarkan anak TK manasik haji itu aneh. Bacaan salat saja belum dihafal, ini sudah melangkah jauh.
Manasik haji untuk anak TK itu tidak ada manfaatnya?
Coba bayangkan seorang anak TK mengikuti manasik haji. Dia mengenakan pakaian ihram, berjalan mengelilingi miniatur Ka’bah, mengikuti arahan guru, lalu melakukan berbagai ritual yang menjadi bagian dari simulasi tersebut.
Pertanyaannya, seberapa banyak yang benar-benar anak-anak pahami? Jangan-jangan setelah kegiatan selesai, ketika ditanya orang tuanya, “Tadi manasik haji ngapain?”, jawabannya sederhana saja, “jalan-jalan.”
Menurut saya, lebih baik saja jalan-jalan sekalian, tanpa embel-embel manasik haji.
Saya tidak menyalahkan anak. Memang begitulah dunia anak-anak. Mereka belajar melalui hal-hal yang konkret dan dekat dengan kehidupan mereka.
Masalahnya, haji bukan sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Sementara itu, di rumah masih ada anak yang harus diingatkan untuk salat, mandi, memakai pakaian sendiri, merapikan mainan, dan berhenti bermain ketika sudah waktunya tidur.
Saya jadi berpikir, bukankah yang seperti itu lebih penting? Ya, dan itu memang diajarkan di TK.
Anak TK lebih butuh belajar disiplin
Menurut saya, masa TK adalah waktu yang tepat untuk membangun kebiasaan.
Datang ke sekolah tepat waktu. Menyimpan sepatu di tempatnya. Mengembalikan mainan setelah selesai digunakan. Mau mengantre, mencuci tangan sebelum makan. Makan pada waktunya. Tahu kapan waktunya bermain dan kapan waktunya belajar.
Kelihatannya memang sepele. Tidak ada miniatur Ka’bah, pakaian ihram, maupun sesi foto bersama yang bisa dipamerkan kepada keluarga.
Akan tetapi, kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itu justru akan mereka bawa setiap hari. Anak yang terbiasa mengatur waktunya sejak kecil mungkin kelak tidak perlu menjadi manusia yang selalu dikejar-kejar deadline.
Sementara anak yang sudah hafal urutan manasik haji, tapi masih perlu dicari-cari karena lupa pulang ketika waktunya tiba, mungkin sedang mengalami masalah pendidikan yang lebih mendesak.
Belajar bersosialisasi yang baik paling penting
Ada juga satu hal lain yang bahkan lebih penting, yaitu belajar bersosialisasi dengan akhlak yang baik.
TK adalah tempat anak bertemu banyak anak dengan latar belakang dan karakter yang berbeda. Ada yang pendiam, cerewet, gampang menangis. Ada yang suka berbagi, ada pula yang sebaliknya, seperti pemilik perusahaan mainan tersebut dan tidak mau meminjamkannya kepada siapa pun.
Di situlah anak perlu belajar bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai keinginannya. Dia harus belajar meminta izin, tidak merebut barang teman, mau bergantian, dan tidak mengejek. Termasuk belajar meminta tolong, berterima kasih, dan mengatakan maaf.
Dan, yang paling penting, belajar bahwa teman yang berbeda sifat maupun kebiasaan tetap harus diperlakukan dengan baik.
Skill yang lebih diperlukan daripada lempar jumrah
Menurut saya, kemampuan seperti itu jauh lebih berguna bagi anak TK daripada kemampuan melakukan simulasi lempar jumrah yang justru bisa membahayakan. Siapa tahu, temannya malah dianggap sebagai setan sehingga harus dilempar saat simulasi lempar jumrah.
Karena, kalau suatu hari nanti dia benar-benar pergi haji, tentu masih banyak kesempatan untuk mempelajari tata caranya. Tapi, kalau sejak kecil ia tidak belajar menghargai orang lain, persoalannya bisa jauh lebih panjang.
Saya tidak sedang meminta kegiatan manasik haji dihapus dari TK. Kalau sekolah menganggapnya bermanfaat, silakan saja. Saya hanya merasa pendidikan anak sebaiknya dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan mereka.
Sebelum mengajari anak bagaimana menjadi tamu Allah di Tanah Suci, mungkin lebih baik kita mengajari mereka bagaimana menjadi manusia yang baik di sekolah.
Karena, sebelum belajar berjalan mengelilingi Ka’bah, anak mungkin perlu belajar berjalan menuju tempat sampah untuk membuang bungkus jajannya sendiri. Dan sebelum belajar melempar jumrah, mungkin ada baiknya mereka belajar tidak melempar mainan kepada temannya.
Itu saja dulu. Haji masih jauh. Menjadi manusia baik dimulainya hari ini.
Penulis: Supriyadi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Tipe-tipe Orang yang Hadir dalam Tahlilan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













