Lorong Waktu Episode 10, Musim 1: Cara Terbaik Melawan Lintah Darat – Terminal Mojok

Lorong Waktu Episode 10, Musim 1: Cara Terbaik Melawan Lintah Darat

Artikel

Melanjutkan cerita episode sebelumnya, Lorong Waktu episode 10 dibuka dengan kabar dari Haji Husin, Zidan, dan Mardikun. Mereka bertiga disekap di sebuah gudang dengan kondisi tangan terikat. Di dalam gudang tersebut, ada juga Kang Kohar yang sedang membagi upah untuk anak buahnya. Ia juga kembali memberi tugas untuk menagih orang-orang yang masih punya utang. “Kalau nggak mau bayar, pukulin aja,” demikian perintah Kang Kohar kepada anak buahnya.

“Kasih tahu Ustad Addin, cepetan! Kalau begini terus kita bakalan nggak bisa pulang nih,” perintah Haji Husin kepada Zidan.

“Kayaknya kita memang nggak bisa pulang, Pak Haji,” jawab Zidan dengan suara setengah berbisik.

“Ini gawat nih, Dan. Lu jangan becanda deh. Ayo cepetan!”

“Anu, Pak Haji.”

“Ape?”

“Komunikatornya hilang. Zidan nggak tahu jatoh di mana.”

Haji Husin langsung pusing.

Ustad Addin yang tadi izin kepada murid-muridnya sekarang sudah duduk lagi di depan komputer.

“Loh, Pak Haji dan Zidan ke mana?” kata Ustad Addin kebingungan. Setelah mengetik entah apa, di layar komputer kemudian muncullah gambar Hosim, nelayan yang menemukan Komunikator 2000.

“Apa yang terjadi? Komunikatornya kok dipegang orang lain? Hmmm,” Ustad Addin makin merasa heran. “Assalamualaikum,” sapa Ustad Addin kepada Hosim.

“Waalaikumsalam. Mana orangnya?” balas Hosim sambil mencari sumber suara.

“Pak, Bapak siapa?”

“Loh. Situ sendiri siapa? Ngomong kok nggak kelihatan wujudnya?”

“Saya ada di pinggang Bapak.”

Dengan tangan gemetar, Hosim mengeluarkan komunikator yang dia selipkan di pinggang.

“Hah?”

“Iya betul, Pak. Saya sedang bicara itu, Pak.”

“Ampuni saya, Mbah. Saya tidak sengaja menemukan rumah Mbah. Sungguh Mbah.”

Sambil menutup mikrofon, Ustad Addin ngomong sendiri, “Kalau dijelasin, makin bingung dia.” Ustad Addin pun lanjut ngomong lagi kepada Hosim, “Baiklah, saya ampuni, tapi tolong kembalikan benda itu kepada pemiliknya.”

“Siapa pemiliknya, Mbah?” tanya Hosim dengan ketakutan.

“Seorang anak kecil dan orang tua yang datang ke kampung Bapak.”

“Oh, iya, iya. Saya tahu, saya tahu, Mbah,” kata Hosim sambil manggut-manggut.

“Ingat, Pak! Bapak tidak boleh memberikan benda itu kepada siapa-siapa selain mereka berdua.”

“Baik. Baik, Mbah. Akan saya laksanakan. ”

Hosim pun kembali menyelipkan komunikator tersebut di pinggangnya, kemudian mulai berjalan, mencari Haji Husin dan Zidan. Ketika tiba di halaman gudang penyekapan, sambil mengendap-endap, dia berusaha masuk. Sayangnya, Hosim didapati anak buah Kang Kohar. Terjadilah aksi kejar-kejaran yang bikin gaduh. Hosim berhasil masuk, Kang Kohar dan anak buahnya langsung panik. Sementara Haji Husin merasa bingung dengan apa yang terjadi.

“Siape, siape, siape, Kun?” tanya Haji Husin kepada Mardikun.

“Itu Hosim, Pak Haji, tetangga saya,” jawab Mardikun.

“Kenape diuber-uber?”

“Soalnya dia nggak mau ditangkap, Pak Haji” Zidan menyahut.

“Becande aje lu,” kata Haji Husin sambil menyikut kepala Zidan.

Dalam keadaan masih dikejar-kejar oleh anak buah Kang Kohar, Hosim berhasil mengembalikan Komunikator ke sakunya Zidan. Tidak berselang lama, atas permintaan Haji Husin, Ustad Addin memulangkan Haji Husin dan Zidan. Melihat Haji Husin dan Zidan yang tiba-tiba menghilang, Mardikun sangat terkejut.

Sesampainya di ruangan Ustad Addin, Haji Husin memerintahkan Ustad Addin untuk mengambil kas masjid yang nantinya akan diinfakkan ke Mardikun dan teman-temannya. Haji Husin juga sempat melarang Zidan untuk ikut kembali ke tempat Mardikun, tetapi berubah pikiran karena Zidan mengancam akan membongkar rahasia perihal lorong waktu kepada teman-temannya. Zidan pun diizinkan untuk ikut kembali.

Sementara itu di markasnya, Kang Kohar dan anak buahnya sudah menyadari bahwa Haji Husin dan Zidan sudah tidak di tempat. Mereka kebingungan dan terus mencari. Tidak butuh waktu lama, Haji Husin dan Zidan sudah kembali ke markasnya Kang Kohar. Kembali dalam posisi tangan terikat. Kembalinya Haji Husin dan Zidan, lagi-lagi membuat Kang Kohar, anak buahnya, dan Mardikun merasa heran.

Sementara itu di luar sana, Hosim berhasil lepas dari kejaran anak buahnya Kang Kohar. Kepada teman sesama nelayan, Hosim menceritakan apa yang terjadi.

“Kenapa, Sim?” tanya seorang nelayan.

“Aduh, Bang, Bang. Mardikun, Pak Haji, anak kecil itu, Bang, di-anu sama Kang Kohar,”

“Keterlaluan si Kohar, dia nggak bisa membedakan mana pria dan wanita,” kata si nelayan.

“Bukan. Bukan itu, Bang. Maksud saya, Kang Kohar menahan Mardikun, dan Pak Haji beserta anak itu di gudang sana,” Hosim menjelaskan.

“Kenapa si Kohar menahan mereka? Apa salahnya?” tanya nelayan yang lain.

“Salahnya, salahnya, Kang Kohar nggak suka melihat mereka membantu Mardikun bikin perahu,” kata Hosim.

“Ini sudah keterlaluan. Kita harus bertindak,” kata si nelayan.

Tidak berselang lama, para nelayan pun berlari menuju gudang. Mereka kemudian mengeroyok anak buah Kang Kohar dan masuk ke gudang. Salah satu nelayan melepas ikatan Haji Husin, Zidan, dan Mardikun. Terakhir, Kang Kohar ikut digebukin. Haji Husin yang melihat kejadian itu, langsung menenangkan.

“Saudare, saudare, saudare, saudare, berenti, berenti! Lu kalo si Kohar meninggal, siape yang mau tanggung jawab, hah? Jangan maen hakim sendiri! Nggak bener tuh, nggak bener.”

“Kenapa tidak boleh?” tanya salah satu nelayan.

“Ye, nggak boleh dong. Soalnya kan hakim, biasanye maen rame-rame, nggak sendirian.”

“Kami semua sudah benci dengan orang-orangnya Kang Kohar. Kami pengin menghukumnya, Pak Haji,” kata nelayan yang lain.

“Oh, begitu. Kalo lu mau hukum si Kohar, bukan begini caenye. Carenye lu jangan pinjam duit lagi ama die,” Haji Husin memberi nasihat.

Sembari Haji Husin memberi nasihat, ceramah, dan infak yang dia bawa dari masjid (“Asli dari dalam negeri, bukan dari IMF,” kata Haji Husin), Ustad Addin mengingatkan Haji Husin bahwa waktunya tidak lama lagi. Haji Husin yang sedang semangat-semangatnya berceramah, merasa kesal karena terus-terusan diingatkan oleh Ustad Addin. Meski Haji Husin masih dalam keadaan masih memberi ceramah, Ustad Addin akhirnya memulangkan Haji Husin dan Zidan. 

Cerita Lorong Waktu episode 10 pun ditutup dengan gambar para murid Ustad Addin yang tertidur karena kelamaan nunggu guru mereka.

Ikuti sinopsis Lorong Waktu musim 1 di sini serta tulisan Utamy Ningsih lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.