Lorong Waktu Episode 14, Musim 1: Jalan-jalan ke Masa Lalunya Aura – Terminal Mojok

Lorong Waktu Episode 14, Musim 1: Jalan-jalan ke Masa Lalunya Aura

Artikel

Lorong Waktu episode 14 dibuka dengan adegan Haji Husin dan Ustad Addin lagi sahur bareng. Sembari makan, Haji Husin membahas perihal jodoh atau calon istri untuk Ustad Addin. Awalnya sih Ustad Addin mengaku belum kepikiran untuk nikah, tetapi setelah dipancing oleh Haji Husin, akhirnya Ustad Addin penasaran juga.

Saat itu, Haji Husin menyebutkan tiga nama perempuan yang dianggap sesuai dengan seleranya Ustad Addin. Pertama ada Erni, teman mainnya Ustad Addin waktu kecil. Kedua, ada Susi, teman kuliahnya Ustad Addin. Ketiga ada Aura, yang sering nyamperin Ustad Addin ke masjid. Mendengar nama Aura, Ustad Addin yang lagi makan langsung salah tingkah. Malu-malu gimanaaa gitu.

Ngomong-ngomong tentang Aura, Mylov sekalian masih ingat sama dia kan? Itu loh yang muncul di Lorong Waktu episode 8. Yang menemani Ustad Addin ke toko buku. Jika ada yang sudah lupa-lupa ingat siapa sebenarnya Aura, tenang, pada Lorong Waktu episode 14 yang dibahas adalah masa lalu dan kehidupannya Aura, jadi kita bisa ingat kembali siapa sebenarnya Aura ini.

Secara singkatnya sih, Aura ini adalah saudara angkatnya Ayu (teman Zidan + murid Ustad Addin). Setelah tahu bahwa dirinya hanya anak angkat, Aura sempat merasa sedih dan tersisih. Aura juga penasaran, siapa dan bagaimana rupa kedua orang tuanya. Nah, apa yang dia rasakan dan ingin dia ketahui itu diceritakan kepada Ustad Addin dan menjadi latar belakang petualangan Haji Husin dan Zidan.

Sebelum kita lihat bagaimana petualangan Haji Husin dan Zidan, kita lihat cerita dari orang yang akan ditemui Haji Husin dan Zidan dulu yah.

Ceritanya, ada seorang perempuan hamil didatangi intel polisi yang merupakan teman suaminya. Bapak intel (yang di rompinya tertulis nama Eli P.) tersebut ternyata datang membawa selembar kertas yang jika dilihat dari apa yang terjadi, bisa ditebak isinya kabar duka.

“Tidak. Ini tidak mungkin. Pasti ini salah, Pak,” perempuan itu berucap sambil menangis.

“Saya juga berharap demikian, Bu. Pada saat kami dikirim menyusup daerah Timor Timur bersama suami Ibu, suami Ibu tertangkap karena ketahuan dia seorang intel dan memang saya sendiri yang membawa jenazah suami Ibu.”

“Ya Allah, kembalikan suamiku.” Perempuan itu masih menangis.

“Kami turut berduka cita, Bu. Tabah. Tawakal. Ini semua cobaan dari Allah. Tabah, Bu.”

Entah karena merasa tertekan atau memang sudah waktunya, perempuan itu merasa perutnya sakit dan akan melahirkan. Oleh Pak Eli, perempuan itu kemudian diantar ke sebuah klinik dengan naik becak. Di tengah perjalanan, abang becak merasa kelelahan dan tidak kuat lagi mengayuh, Pak Eli langsung berinisiatif menggantikan posisi abang becak. Mereka bertukar posisi, Pak Eli mengayuh becak, sementara abang becak duduk di tempat penumpang menemani perempuan yang akan melahirkan.

Sebelum mereka sampai di klinik tujuan, Haji Husin dan Zidan sudah sampai duluan. Tidak berselang lama, mereka juga sampai lalu langsung disambut oleh Haji Husin. Di klinik itu juga ada mama dan papanya Ayu. Haji Husin ikut masuk ke ruangan persalinan, sementara yang lain menunggu di luar. Setelah Haji Husin keluar, beliau langsung diberondong pertanyaan.

“Bagaimana, Pak Haji, sudah lahir?” tanya Pak Eli.

“Laki-laki? Perempuan, Pak Haji?” abang becak ikutan nanya.

“Alhamdulillah, anaknya perempuan, sehat. Gua udah azanin di kupingnya tadi,” Haji Husin menjawab pertanyaan mereka. “Bapak, lakinya tuh ibu?” tanya Haji Husin kepada Pak Eli.

“Bukan, saya teman almarhum suami ibu itu,” jawab Pak Eli.

“Dan saya yang ikut mengantar ibu itu, Pak Haji,” abang becak memperkenalkan diri.

“Subhanallah… jadi tuh anak sekarang yatim piatu. Ibunya meninggal barusan waktu melahirkan,” cerita Haji Husin.

“Innalillahi wainnailaihi rajiun,” ucap orang-orang yang mendengar cerita Haji Husin.

Setelah itu, dari ruang persalinan keluarlah seorang bidan.

“Bapak-bapak, untuk selanjutnya, siapa yang akan mengurus bayi itu?”

“Biar saya saja. Saya sampai saat ini belum punya anak, Mbak. Kandungan saya lemah, saya selalu keguguran,” mamanya Ayu menawarkan diri.

“Mbak, kami merasa terpanggil untuk merawat bayi malang itu. Mungkin Tuhan sudah menggarisi demikian pada kami. Jika diperkenankan oleh pihak keluarga, kami siap merawat bayi itu,” papanya Ayu menambahkan.

Singkat cerita, begitulah sampai akhirnya anak bayi—yang adalah Aura—diadopsi oleh orang tuanya Ayu. Sebelum pulang, Haji Husin sempat menitipkan pesan kepada orang tuanya Ayu.

“Tulung tuh anak dirawat baek-baek, dengan kasih sayang.”

“Insya Allah, Pak Haji,” timpal papa dan mamanya Ayu.

“Insya Allah jadi anak yang solehah,” Haji Husin mendoakan.

“Amin,” ucap papa, mamanya Ayu, dan Ustad Addin.

Ketika Haji Husin dan Zidan sudah melangkah keluar dari klinik, Zidan balik lagi. Ada satu hal yang membuatnya penasaran. Padahal sejak awal sudah ditekankan bahwa dia dilarang bertanya.

“Tante, Tante, Tante, Tante, bayinya entar mau diberi nama siapa?”

“Eh, Dan, Dan, Dan, Dan, lu kan udah janji tadi nggak mau nanya dan nggak boleh nanya,” Haji Husin berusaha menghentikan Zidan.

“Ayo dong, Tante, cepetan. Diberi nama siapa?”

“Tante belum tahu, sayang. Tapi, Tante punya cita-cita, kalau nanti Tante punya anak perempuan, akan Tante kasih nama….”

Belum juga sempat mendengar jawaban dari mamanya Ayu, Zidan dan Haji Husin sudah dipulangkan oleh Ustad Addin. Zidan pun ngambek dan protes. Merasa diperlakukan tidak adil.

“Masalahnya, keberadaan bayi itu memang harus dirahasiakan. Sampai yang bersangkutan membukanya sendiri,” Ustad Addin menjelaskan.

“Anaknya masih hidup, Pak Haji?” tanya Zidan.

“Ya, masih. Kan kesian kalau semua orang tahu rahasia hidupnye,” jawab Haji Husin.

“Ya udahlah, doain aja, Pak Ustad, Pak Haji, semoga Zidan nggak mati penasaran.”

Selesai ngomong begitu, Zidan pun pamit lalu meninggalkan ruangan Ustad Addin. Setelah itu, (tampaknya) usai salat Tarawih Ustad Addin mengantar Aura pulang ke rumahnya. Saat itu, Aura merasa sudah jauh lebih baik.

Ayu yang tahu bahwa Aura sedang dekat dengan seorang cowok, menceritakan hal itu kepada kedua orang tuanya. Aura yang merasa malu, menggelitik Ayu. Terciptalah suasana hangat penuh canda. Dari sini, Aura juga menyadari bahwa pikirannya tentang orang tua angkatnya tidak tulus dan tidak adil dalam membagi kasih sayang hanya prasangka buruknya.

Meski belum bisa mengetahui siapa dan bagaimana rupa kedua orang tuanya, setidaknya Aura beruntung karena sudah dibesarkan oleh orang tua yang menyayanginya. Dan berakhirlah Lorong Waktu episode 14.

Ikuti sinopsis Lorong Waktu musim 1 di sini serta tulisan Utamy Ningsih lainnya.

Baca Juga:  Membongkar Alasan Zuppa Soup Mendadak Jadi Menu Wajib Pesta Pernikahan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.