Lorong Waktu Episode 12, Musim 1: Segala Sesuatu Ada Hikmahnya – Terminal Mojok

Lorong Waktu Episode 12, Musim 1: Segala Sesuatu Ada Hikmahnya

Artikel

“Jadi, kalau lingkungan kita buruk, kita semua bisa ikut terpengaruh. Termasuk kalian,” kata Ustad Addin membuka Lorong Waktu episode 12.

“Pak Ustad, kita kan beriman, masih bisa terkena pengaruh buruk juga yah?” tanya salah satu murid.

“Bisa. Karena pada dasarnya iman kita itu ibarat balon, kadang kembung, kemudian kempes lagi. Supaya kembung berisi, Kita harus meniupnya lagi. Antara lain, dengan salat lima waktu, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya.”

“Wah, repot urusannya. Pak Ustad, jadi kita harus gimana? Lawan atau ngindar?” tanya Salim, murid Ustad Addin.

“Menghindar itu pilihan yang terakhir, sama seperti hijrahnya Nabi Muhammad. Kalau kalian tidak bisa mengubah kemungkaran dengan tanganmu, maka gunakanlah mulutmu. Kalau tidak bisa dengan mulut, suarakanlah dengan hatimu.”

“Kalau begitu pakai hati saja, dibatin. Lebih gampang, kan?” sahut Zidan yang disambut dengan gelak tawa oleh teman-temannya.

“Iya, tapi itu tingkatan iman yang paling lemah. Kalian boleh pilih, mau iman yang mana, yang kuat atau yang lemah?” tutup Ustad Addin.

Sesuai dengan apa yang sedang dibahas dalam materi pelajaran di atas, yaitu tentang hubungan antara iman kuat dan lingkungan buruk, tema petualangan kali ini pun ada hubungannya dengan hal tersebut.

Dalam petualangan Lorong Waktu episode 12 kali ini, Haji Husin dan Zidan mengunjungi rumah Pak Soni Ramli, seseorang yang bekerja sebagai tim pembela uang rakyat. Pak Soni ini sedang berada dalam satu masalah pelik yang berkaitan dengan pekerjaannya. Sikapnya yang jujur dan bisa dibilang punya iman yang kuat justru menjadi penyebab dia harus kehilangan pekerjaan. Bahkan, dia juga harus kehilangan istri dan anaknya karena istrinya sudah tidak tahan hidup miskin.

Akan tetapi, sebelum menengok lebih jauh cerita tentang masalah yang dialami oleh Pak Soni, kurang lengkap rasanya jika kita tidak menyimak mome lucu yang terjadi antara Haji Husin dan Zidan.

Saat itu Haji Husin dan Zidan dijamu oleh Pak Soni. Ada dua gelas minuman rasa jeruk dan buah-buahan di meja. Melihat buah-buahan yang tersedia di meja, Zidan dengan lincahnya langsung main comot aja, tetapi ditegur oleh Haji Husin.

“Eh, hehehe, yang punya rumah belon mempersilakan, lu main comot aje!” kata Haji Husin sambil menjauhkan tangan Zidan dari buah-buahan.

“Tidak apa-apa, Pak Haji. Ayo silakan dimakan,” Pak Soni mempersilakan.

“Tuh, Zidan dah tahu, pasti nggak apa-apa, Pak Haji.” kata Zidan sambil kembali ingin mengambil sebuah jeruk.

“Eh, tahu etika dikit dong lu, yang tua dulu baru yang muda,” Haji Husin menahan Zidan kemudian meneguk minuman yang ada di depannya. Setelah minum, Haji Husin baru mengizinkan Zidan. Namun, sesaat kemudian, Haji Husin menyadari satu hal.

“Astagfirullahaladzim, Dan. Kite puasa!” kata Haji Husin sambil memegang tangan Zidan.

Zidan menepuk jidat, “Aduh. Loh, Pak Haji tadi kan minum!”

“Gua lupa. Ye, orang lupa nggak ape-ape. Ini namanya rezeki yang nggak diduga-duga.”

“Maaf, saya tidak tahu kalau Pak Haji dan Zidan sedang puasa.” sela Pak Soni.

“Ah, Pak Haji curang, diingetnya entar dong kalau udah kenyang,” Zidan protes kepada Haji Husin.

Benar juga kata Pak Haji, mungkin memang itu rezekinya beliau dan bukan rezekinya Zidan. Oke, lanjut lagi ke cerita Pak Soni nih, yah.

Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, Pak Soni ini orang yang jujur dan punya iman yang kuat. Suatu hari dia kedatangan dua orang tamu. Salah satunya bernama Pak Hendrik, direktur utama PT Danamana. Adapun maksud kedatangan kedua orang itu adalah hendak memberi uang suap kepada Pak Soni. Namun, Pak Soni menolak. Berkali-kali dibujuk, Pak Soni tetap menolak. Bahkan diancam akan kehilangan jabatan pun, Pak Soni tetap tidak goyah.

“Jangan sok suci, Pak. Bapak bukan nabi,” kata orang yang datang bersama Pak Hendrik.

“Nabi memang sudah tidak ada, tapi mengikuti jejak nabi adalah hak saya,” timpal Pak Soni.

Di tempat kerjanya, atasan Pak Soni pun membujuk Pak Soni agar mau menerima uang suap. Atasannya Pak Soni beralasan, uang suap tersebut bukan untuk membekukan urusan yang mestinya diproses, tetapi sekadar mengulur waktu agar Pak Hendrik bisa punya waktu untuk memperbaiki usahanya dan mengembalikan uang rakyat yang telah mereka keruk.

Mendengar penjelasan atasannya tersebut, Pak Soni tetap teguh pada pendiriannya. Dia menolak terlibat meski sudah dibujuk dengan berbagai cara, termasuk dengan umpan wanita cantik. Akibatnya ya itu tadi, dia kehilangan jabatan sekaligus pekerjaan.

“Son, ente tahu, yang namenye tuh harta, bini, termasuk anak-anak, itu semua cuman titipan, tapi ingat sekaligus ujian tuh,” Haji Husin mengingatkan.

“Saya harus memulai hidup saya dari nol lagi, Pak Haji.”

“Ye… emang berat. Berat buat ente ngadepin semuenye, tapi kalau ente tetep iman, insya Allah turun pertolongan Allah buat ente.”

“Amin,” sahut Zidan.

Selesai memberi nasihat dan dukungan untuk Pak Soni, Haji Husin (dan Zidan) pun pamit. Namun, kembali ada sedikit masalah, Zidan lupa membawa si Komunikator 20000. Lalu, tepat ketika Pak Soni mengantar Haji Husin dan Zidan yang akan pulang, seorang loper koran lewat dan melempar koran ke rumah Pak Soni.

Pak Soni mengambil koran tersebut. Lalu, betapa bahagianya dia saat membaca sebuah berita berjudul “Skandal Suap PT Danamana Terbongkar. Direktur Utama Divonis 3 Tahun”.

“Subhanallah. Pak Haji, betul kata Pak Haji. Alhamdulillah saya sudah dipecat sehingga saya tidak tersangkut dalam kasus ini nih. Coba,” kata Pak Soni sambil memperlihatkan berita di koran.

“Em, tuh kan, ape gue bilang. Segale sesuatu ada hikmahnye, hehehe,” Haji Husin menimpali.

Zidan yang sering bertingkah sok tua itu ikut-ikutan mau baca koran. Lucunya, dia salah baca judul berita. Yang dibahas tentang kasus suap, yang dibaca malah berita tentang dukun cabul, hmmm. Setelah ngobrol singkat itu, Haji Husin dan Zidan pun pamit pulang lagi. Sama seperti ketika mendarat di rumah Pak Soni, Haji Husin lagi-lagi protes karena mendarat di ruangan Ustad Addin dengan posisi tersiksa. Zidan nangkring di atas bahunya Haji Husin, hahaha.

Zidan baru menyadari bahwa si Komunikator ketinggalan di rumah Pak Soni ketika Ustad Addin meminta Komunikator tersebut kepada Zidan. Meski bisa dibilang hal tersebut adalah sebuah masalah, tetapi benar kata Haji Husin tadi, segala sesuatu ada hikmahnya. Berkat melacak kembali keberadaan si Komunikator, Ustad Addin, Haji Husin, dan Zidan jadi bisa tahu apa yang terjadi sama Pak Soni selanjutnya. Ternyata, istri dan anaknya Pak Soni kembali pulang. Kalau kata istrinya Pak Soni sih, “Cobaan terberat adalah ketika Mama harus pisah dengan Papa.”

Melihat tayangan tersebut Ustad Addin, Haji Husin, dan Zidan tersenyum bahagia.

Sebagai penutup, ada pesan pada akhir Lorong Waktu episode 12: Allah selalu menguji iman manusia, maka janganlah berpaling dari-Nya.

Ikuti sinopsis Lorong Waktu musim 1 di sini serta tulisan Utamy Ningsih lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.