Lorong Waktu Episode 2, Musim 1: Haji Husin Menyelamatkan Zidan yang Terdampar di Masa Lalu – Terminal Mojok

Lorong Waktu Episode 2, Musim 1: Haji Husin Menyelamatkan Zidan yang Terdampar di Masa Lalu

Artikel

Utamy Ningsih

Lorong Waktu episode 2 dibuka dengan Zidan yang tengah meronta-ronta karena diikat tiga pejuang.

“Eh, tuyul, bisa diam tidak kau?” tanya Komandan.

“Nggak bisa! Om jelek. Om jelek. Om badannya bau.”

“Dibayar berapa kau sama Jepang, hah?” tanya Komandan lagi, “Kecil-kecil sudah jadi antek penjajah kau.”

“Om keras kepala juga, yah. saya bukan mata-mata. Kalau Om masih nggak percaya juga, tanya aja sendiri sama Ustad Addin.”

“Dari tadi kau sebut pak ustad, pak ustad. Mana sih kau punya ustad? Mana?

Lalu, muncul suara dari roket-roketan yang menempel di bantal di atas pohon.

“Saya di sini. Jangan sakiti dia!” Ketiga pejuang jelas terkejut, sementara Zidan nyengir bahagia.

“Bapak-bapak yang terhormat, tolong lepaskan murid saya. Dia sama sekali bukan mata-mata,” pinta Ustad Addin.

Orang yang dipanggil komandan itu pun mendekat ke arah bantal yang nyantol di atas pohon.

“Di hutan ini memang banyak sekali keanehan. Barusan kita dapat kiriman kue,” kata Komandan sambil mengambil bantal dan roket-roketan, “kemudian disusul oleh si tuyul kecil ini. Sekarang ada roket kecil di atas bantal. Bisa ngomong lagi.”

Benda yang dimaksud dengan roket kecil (kemudian disebut “telepon angin”) itu adalah Komunikator 2000. Ketika Komandan mempermainkan si roket kecil, Ustad Addin menegur. Alih-alih mengacuhkan, komandan malah mematikan si roket kecil. Zidan mengeluh, “Yah, Om. Dimatiin.”

Seketika, muncul tulisan error di layar komputer Ustad Addin. Ustad Addin mulai panik.

Sementara itu, ibunya Zidan yang masih panik karena anaknya belum pulang, kembali menelepon ke masjid yang kemudian diangkat oleh Haji Husin.

“Hah, Zidan belum pulang juga?” tanya Haji Husin

“Belum, Pak Haji. Saya khawatir terjadi sesuatu dengan anak saya, Pak Haji. Biasanya kan habis ngaji itu langsung pulang. Sekarang sudah hampir waktu buka belum kelihatan juga.” Keluh ibunya Zidan.

Haji Husin pun berusaha menenangkan ibu Zidan. Selepas telepon ditutup, Haji Husin datang lagi ke kamar Ustad Addin. Belum juga Ustad Addin sempat menjelaskan apa yang terjadi kepada Haji Husin, di layar komputer sudah muncul gambar Zidan yang minta tolong. Itu artinya, Komandan sudah menyalakan kembali si roket kecil.

Menyadari apa yang terjadi pada Zidan, Haji Husin panik. Ia memutuskan bersedia dikirim ke masa lalu guna menyelamatkan Zidan. Sebelum diberangkatkan, ia memberi pesan heroik. “Din, misalnye ade ape-ape ama gue ye, lu tolong gantiin gue besok, mimpin rapat pengurus masjid ye….”

“Pak Haji, program ini cukup aman, nggak usah khawatir,” jawab Ustad Addin.

Tapi Haji Husin tak mengindahkan perkataannya. “Gue juga minta keikhlasan lu nih, Din. Maapin kesalahan gue selama ini. Semuenye… semuenya ye!”

“Percayalah, Pak Haji. Pak Haji akan pulang dengan selamat.”

“Pulang? Ntar dulu… ntar dulu. Lu ngomong pulang, gue jadi pikiran, maksud lu pulang, ini pulang… berpulang ke rahmatullah?”

Ustad Addin tertunduk diam, Haji Husin mulai emosi. “Ini kapan berangkatnya nih? Jadi, nggak?”

“Ya, sekarang, Pak Haji.”

“Cepetan dong, ntar keburu meninggal tuh anak!” Yeee, yang tadi ngajak ngobrol duluan juga siapa.

Di hutan, Zidan masih berteriak minta tolong. Tiba-tiba terdengar suara grasak-grusuk. Komandan langsung memberi perintah, “Tiarap!”

“Assalamualaikum,” sapa Haji Husin yang tiba-tiba muncul.

“Waalaikumsalam,” balas zidan yang kemudian diikuti oleh ketiga pejuang.

“Hore, jagoan Zidan datang!” kata Zidan yang sedang dilepaskan ikatannya oleh Haji Husin. “Aduh, jadi ngerepotin nih, pakai bawa layang-layangan segala buat Zidan. Makasih ya, Pak Haji.”

“Iye… iye.”

Ketiga pejuang itu jelas jadi kebingungan. Sang komandan merasa tidak asing dengan sosok Haji Husin. “Rasa-rasanya aku kenal dia.”

“Iya,” kedua anak buahnya serempak menjawab.

“Lu kenape pada bengong lu, hah? Lu lupa ama gue? Husin!”

“Husin?” tanya Komandan.

“Husin Tabi’at!”

“Husin Ta’biat?” ulang ketiga pejuang.

Mereka berempat kemudian berpelukan. Zidan sempat merasa kagum karena mengira Haji Husin juga pernah berperang melawan penjajah. Namun, kekaguman itu seketika sirna.

“Heh, heh, ngerti nggak kamu, Pak Haji ini kerjanya di dapur umum. Yah, untuk menghidupi kita-kita ini. Ya toh, Sin?”

“Yah, dikirain Pak Haji jadi pejuang, nggak tahunya jadi tukang masak,” sambar Zidan.

“Eh, lu jangan cerita ame siape-siape ye. Janji ye!” pinta Haji Husin kepada Zidan

“Iye. Cerewet banget, Pak Haji.”

Ustad Addin yang gelisah sempat mengingatkan Haji Husin untuk segera bersiap pulang. Namun, Haji Husin malah asyik nostalgia dengan teman-temannya.

“Eh, terus ngomong-ngomong nih ye, kenapa lu pade masih keliaran di hutan sih?” tanya Haji Husin.

“Kami kan sedang dikejar-kejar sama tentara Jepang, Sin.” jawab Komandan.

Mendengar jawaban tersebut, Zidan mengucap o panjang, sementara Haji Husin tertawa lebar.

“Elu sih pada keliaran di hutan melulu. Jepang tuh udah nyerah ama Sekutu. Dibom. Dibom Nagasaki ama Hiroshima, dibom.”

“Yang benar, Sin? Kok kita nggak tahu?”.

“Bagaimana om, om, om bisa tahu, omnya sih masih di hutan,” Zidan ikut menjawab.

“Malahan tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno ama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.”

“Hah, sudah merdeka?” salah satu pejuang terkejut.

Untuk meyakinkan mereka, Haji Husin menyuruh Ustad Addin menyetel rekaman suara proklamasi. Ketiganya langsung bersorak “Merdeka!” setelah mendengarkannya. Kini waktunya untuk Haji Husin dan Zidan pulang.

Lorong Waktu episode 2 ditutup dengan Haji Husin dan Zidan yang sudah mendarat dengan selamat, tetapi dalam posisi dan di tempat yang bikin Haji Husin ngomel-ngomel. Haji Husin mendarat di kolong bedug, sementara Zidan di atas bedug. Keduanya langsung ditemukan orang tua Zidan yang saking paniknya sampai datang ke masjid.

Ikuti sinopsis Lorong Waktu musim 1 di sini serta tulisan Utamy Ningsih lainnya.

Baca Juga:  Si Doel Anak Sekolahan Episode 2, Musim 1: Semua Tentang Sarah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
1


Komentar

Comments are closed.