Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Ketika 30 Juta Orang Ingin Kylian Mbappe Angkat Kaki dari Real Madrid

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
8 Mei 2026
A A
Jangan (Pernah) Percaya Kabar Kylian Mbappe (Akhirnya) Pindah ke Real Madrid, Pokoknya Jangan

Jangan (Pernah) Percaya Kabar Kylian Mbappe (Akhirnya) Pindah ke Real Madrid, Pokoknya Jangan (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kylian Mbappe mungkin tak akan pernah mengira, setelah presentasinya yang begitu megah di Bernabeu, tak sampai 3 musim, ada 30 juta orang mengisi petisi untuk menendangnya jauh-jauh dari Real Madrid.

Banyak hal yang ada dii pikiran kita saat Mbappe akhirnya resmi berseragam Madrid. Barcelona habis, 50 gol semusim (which is, yes), dominasi tanpa henti, serta gelandang Madrid akan mencetak masing-masing 10 asis.

ADVERTISEMENT

Tapi yang terjadi jauh dari ekspektasi: dua musim, Madrid tak meraih trofi major, baik domestik ataupun UCL. Kita tidak melihat dominasi, kita justru disuguhi Madrid versi paling menyedihkan semenjak Mbappe bergabung. Dulu tim lain ketakutan, kini malah menatap dengan penuh keyakinan.

Dan 30 juta orang meminta Mbappe pergi dari Bernabeu. Tapi saya pribadi, saya tak begitu setuju. Kita harus mencoba melihat kekacauan yang terjadi di Real Madrid dengan lebih adil dan lebih dalam.

Mbappe tidak gagal 

Begini, kalau kita kesampingkan trofi dan melihat statistik, Kylian Mbappe jelas tidak ada gagalnya di Madrid. 85 gol dia torehkan untuk Madrid selama hampir dua musim. Tidak diragukan lagi kalau dia memang amat gacor perkara gol. Kalau niatan merekrut Mbappe adalah untuk mesin gol, ya ini berhasil. Amat berhasil, malah.

Tapi perkara permainan dan trofi, barulah kita perlu mengkritisinya secara dalam. Perlu diingat, saya tidak pernah menyalahkan Mbappe sebagai satu-satunya faktor puasa gelar Madrid, jadi, meski saya tak setuju dia biang masalah, tak berarti saya tak objektif.

Saya setuju jika Kylian Mbappe ini bisa dibilang nggak nyetel sama Madrid. Maksudnya, memainkan Mbappe itu berarti mengubah formula yang selama ini berhasil untuk Los Blancos.

Musim 2023/2024, di mana Madrid hanya kalah 2 kali dalam semusim (di luar Copa), dan tak terkalahkan di UCL, adalah masa di mana trio Jude-Vini-Rodrygo begitu mengerikan. Di atas kertas, 4-4-2 diamond. Di lapangan, Jude Bellingham lah tombak yang sebenarnya. Begitu cairnya pergerakan Vini-Rodry, ditambah masih ada Kroos dan Modric bikin Madrid amat mengerikan di waktu itu.

Baca Juga:

Como 1907 Memang Tempat yang Pas untuk Nico Paz  

Real Madrid Tanpa Trofi (Lagi), Saatnya Buang Vini

Wajar kalau Jude Bellingham di saat itu amat bersinar. Sistemnya amat cocok untuknya, yang mengisi lubang yang ditinggalkan oleh Vini y Rodry. Harusnya, Mbappe juga bisa dong kayak gini? Sayangnya, nggak.

Mbappe ini anomali. Saya nggak bilang dia nggak jago, tapi dia ini membingungkan. Sebagai nomor 9, pergerakannya ini nggak jelas. Dia justru jarang ada di kotak penalti, habitat aslinya nomor 9. Jadi winger kiri—seperti yang kita kira selama ini—dia masih kalah efektif ketimbang Vini.

Nah, nama terakhir lah masalah sebenarnya.

BACA JUGA: Real Madrid Tanpa Trofi (Lagi), Saatnya Buang Vini

Vini yang tak lagi berfungsi

Kita dulu mengira Vini dan Kylian Mbappe akan jadi duo paling mengerikan. Awalnya, iya, lama-lama, ketahuan bahwa dua orang ini sulit untuk bermain bareng.

Begini. Kalau kalian liat Real Madrid bermain (dan sebaiknya sih, jangan), kalian akan lihat Mbappe dan Vini sering ada di satu ruang yang sama. Ini tentu saja jadi masalah. Sebab, kalau kita bandingkan dengan partner Vini sebelumnya, Benzema dan Rodry, terlihat bahwa mereka berdua tau betul kudu gimana merespons pergerakan Vini.

Ketika Vini memilih take on duel dengan bek lawan, akan ada ruang yang tercipta. Say all you want about Vini, tapi dia adalah pemain yang nggak cukup dibayangi satu pemain. Nah, ruang yang tercipta inilah yang dieksploitasi oleh pemain lain. Bisa Benzema di masanya, lalu Jude dan Rodry di tahun berikutnya.

Timbul masalah ketika Mbappe bergabung. Kita tahu betul Kyky bukanlah tipikal nomor 9 klasik kayak Haaland, Ronaldo, atau Gonzalo Garcia. Dia kerap justru tak jauh dari Vini, sama-sama ditempel pemain, yang akhirnya bikin serangan mampet. Alih-alih mengisi ruang tengah yang kosong, justru mereka berdua berebut pengaruh di ruang yang sama.

Ini yang bikin Gonzalo Garcia lumayan apik di musim ini. Sebab dia tahu banyak ruang tercipta saat Vini atau Mbappe bergerak di sisi kiri.

Apakah ini salah Mbappe? Iya, tapi nggak juga. Dia bermain seperti ini selama ini. Apakah ini salah Vini? Iya dan tidak juga. Sebab, Madrid justru thriving dengan cara bermainnya yang seperti ini. Iya, dia sering ngide melawan 4 bek dan bikin fullback kiri tak berguna. Tapi ada 2 piala Liga Champions sebagai bukti. Apa ya mau ngeyel?

Terus, apanya yang salah?

Manajemen, tentu saja.

Bukan salah Mbappe juga

Florentino Perez begitu terobsesi dengan Mbappe dari dulu. Mendatangkannya adalah satu-satunya tujuan yang dia benar-benar upayakan selama 7 tahun terakhir. Masalahnya, dia mendatangkan Mbappe untuk status Galacticos, bukan untuk tim.

Sebenarnya, Real Madrid tidak butuh Mbappe. Yang mereka butuhkan adalah pure 9, bek, serta gelandang. Saat itu, Carvajal tidak punya pelapis. Kroos akan pergi, dan Modric sudah menua. Bek tengah yang ada lebih sering berkawan dengan meja operasi. Nama macam Angelo Stiller, Ruben Neves, Ante Budimir, Leny Yoro, muncul. Tapi tak satu pun nama itu dilirik.

Betul, Madrid akhirnya beli Mastantuono, Carreras, Trent, dan Huijsen. Masalahnya, itu tidak cukup. Dan pembeliannya pun tak tepat sasaran juga.

Jadi bisa dibilang, Perez tahu secara pondasi, tim ini butuh perbaikan. Ibarat rumah, tembok dan pondasinya sudah saatnya diperbaiki. Tapi alih-alih fokus pada hal yang rusak, yang dibeli Perez adalah TV LED terbaru dengan harga yang amat mahal.

Rumahnya jadi bagus? Iya. Berfungsi? Sedikit. Aman? Tidak, tentu saja.

Tapi semua sudah telanjur. Madrid kini krisis. Mbappe jelas bukan penyebab, ia adalah hasil dari perencanaan yang serampangan dan proses yang berantakan. Jadi, sebaiknya dia pergi atau tidak?

Jawaban saya sih, tidak.

Mourinho?

Menurut saya, selama salah satu dari Vini atau Mbappe bisa dan mau berkorban untuk tim, saya pikir masalah akan selesai. Sesederhana itu. Tidak mudah sih, mengingat 2 orang ini adalah mega bintang. Tapi itu biarlah jadi urusan pelatih dan manajemen. Saya dengar Mourinho akan jadi pelatih Madrid.

Well, the unstoppable force meets immovable object, let’s see.

Tapi saya tidak setuju menendang Mbappe. Ini pemain bagus. Kita nggak bisa begitu saja menendang pemain yang sudah membuktikan kegacorannya. Yang perlu diperbaiki adalah perencanaan dan permainan. Kalau perlu overhaul total, monggo sih. Piala Dunia sebentar lagi, dan pasti akan banyak pemain potensial muncul.

Jadi lagi-lagi, kalau masalah ego bisa dituntaskan, serta pertahanan dan lini tengah dipermak, saya yakin sih, Madrid kembali ke era dominasi mereka. Saya yakin Mbappe bukan sumber masalah, tapi produk dari, lagi-lagi, perencanaan yang serampangan dan proses yang berantakan.

Memang, 30 juta orang menginginkan Mbappe pergi. Tapi, kalau musim depan ternyata Mbappe bikin Madrid dapat piala banyak, apakah 30 juta orang itu akan tetap pada pendiriannya?

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Belum Terlihat Sesuai Ekspektasi, Apakah Mbappe Ternyata Nggak Sebagus yang Kita Kira?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2026 oleh

Tags: Kylian Mbappembappereal madridvinicius junior
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

Como 1907 Memang Tempat yang Pas untuk Nico Paz  

Como 1907 Memang Tempat yang Pas untuk Nico Paz  

27 Juni 2026
Casemiro, Bukti Bahwa Dunia Tak Berputar Mengelilingi Inggris

Casemiro, Bukti bahwa Dunia Tak Berputar Mengelilingi Inggris

28 Februari 2023
kylian mbappe real madrid terminal mojok

Jadi Pindah atau Tidak, Kylian Mbappe?

19 Agustus 2021
Leonardo PSG FIFA PES gim sepak bola Lionel Messi Mojok

Leonardo, Pelawak Arogan dari Paris

14 Oktober 2021
Gareth Bale dan Gerard Pique: Rasa Bosan yang Perlu Diatasi Real Madrid dan Barcelona

Gareth Bale dan Gerard Pique: Rasa Bosan yang Perlu Diatasi Real Madrid dan Barcelona

26 November 2019
Emmanuel Macron, Presiden Paling Nggak Ada Kerjaan di Dunia

Emmanuel Macron, Presiden Paling Nggak Ada Kerjaan di Dunia

15 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati

Sleman jadi besar dan hebat justru karena tidak punya “pusat kota”, kemajuan tersebar merata di segala penjurunya

26 Juli 2026
Culture Shock Naik Kapal Batu Layar dari Lombok ke Surabaya: Penumpang Cekcok dengan Brimob dan Keributan Lainnya

Lombok jadi surga pariwisata, tapi bikin warganya cuma jadi penonton dari luar pagar kemewahan

23 Juli 2026
Semua orang tahu Jalan Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan adalah jalan neraka kemacetan

Semua orang tahu Jalan Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan adalah jalan neraka kemacetan

27 Juli 2026
Penderitaan orang Serang yang kerja di luar kota: pakai KRL susah, kereta lokal pun nggak membantu

Penderitaan orang Serang yang kerja di luar kota: pakai KRL susah, kereta lokal pun nggak membantu

22 Juli 2026
Kompensasi delay pesawat payah, saya pernah menunggu lebih dari 2 jam cuma dapat air mineral Terminal

Kompensasi delay pesawat payah, saya pernah menunggu lebih dari 2 jam cuma dapat air mineral

23 Juli 2026
Honda Vario 150 keyless, motor sialan yang berhasil bikin saya malu di hadapan bos Mojok.co

Honda Vario 150 keyless, motor sialan yang berhasil bikin saya malu di hadapan bos

28 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.