Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Lombok jadi surga pariwisata, tapi bikin warganya cuma jadi penonton dari luar pagar kemewahan

M Wahyu Agani oleh M Wahyu Agani
23 Juli 2026
A A
Culture Shock Naik Kapal Batu Layar dari Lombok ke Surabaya: Penumpang Cekcok dengan Brimob dan Keributan Lainnya

Culture Shock Naik Kapal Batu Layar dari Lombok ke Surabaya: Penumpang Cekcok dengan Brimob dan Keributan Lainnya (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap kali mendengar kabar tentang Lombok di media massa, yang muncul adalah deretan gambar pemandangan indah. Pantai pasir putih yang mirip bulir merica di Kuta, air laut jernih di Gili Trawangan, sampai raungan mesin motor kelas dunia di Sirkuit Mandalika. Semua terlihat begitu indah, megah, dan membanggakan. Lombok digadang-gadang jadi pusat wisata baru yang siap menyerap jutaan wisatawan dan mendatangkan triliunan rupiah.

Namun kalau mau melangkah sedikit saja keluar dari kawasan resor mewah dan kafe kekinian, ada pemandangan lain yang luput dari sorotan kamera. Pemandangan tentang masyarakat lokal yang pelan-pelan terpinggirkan di tanah kelahiran mereka sendiri.

Warga Lombok berubah jadi penonton di garis depan

Pembangunan pariwisata di Lombok bergerak sangat cepat. Lahan-lahan strategis di pesisir selatan yang dulunya tempat nelayan menyandarkan perahu atau petani menanam jagung, kini sudah berubah wujud. Tembok-tembok tinggi membentang, membatasi pemandangan laut yang dulu bebas dinikmati siapa saja.

Lucunya, ketika proyek-proyek raksasa itu berdiri, posisi orang lokal jarang sekali berada di jajaran pengambil keputusan atau pemilik modal. Sebagian besar dari mereka hanya terserap sebagai tenaga kerja pendukung. Menjadi petugas keamanan, staf pembersih, tukang parkir, atau paling tinggi jadi pelayan restoran. Sementara posisi strategis dan keuntungan terbesar mengalir deras ke kantong investor luar daerah maupun luar negeri.

Fenomena kepemilikan lahan di Lombok juga makin mengkhawatirkan. Banyak warga lokal yang dulu menjual tanah mereka dengan harga murah karena tergiur uang tunai mendadak. Sekarang ketika harga tanah melambung tinggi puluhan kali lipat, mereka cuma bisa gigit jari. Mereka tidak sanggup lagi membeli kembali tanah nenek moyang mereka sendiri.

Restoran mewah dan sepiring nasi balap

Kontras ini makin terasa ketika malam tiba di kawasan pariwisata. Di sepanjang jalan utama Kuta Lombok, berjejer kafe dan restoran gaya barat yang menyajikan roti dan kopi artisan dengan harga yang bikin dompet warga lokal menjerit. Tempat-tempat itu dipenuhi wisatawan mancanegara yang menikmati suasana tropis.

Sementara tidak jauh dari situ, pemuda lokal cuma bisa nongkrong di pinggir jalan sambil menikmati kopi sasetan dan Nasi Balap Puyung bungkus. Terjadi pemisahan ruang sosial yang sangat jelas tanpa perlu ada papan larangan. Warga lokal tahu diri untuk tidak masuk ke tempat-tempat yang harganya tidak masuk akal bagi kantong mereka. Mereka merasa asing di kampung sendiri.

Bahkan dalam dunia bisnis skala kecil, warga Lombok kerap terdesak. Usaha penginapan rumahan atau warung makan milik warga sering kalah bersaing dengan modal besar investor yang pandai mengemas estetika tempat. Belum lagi praktik kepemilikan bisnis oleh warga asing yang meminjam nama warga lokal, membuat keuntungan sebenarnya tetap tidak berputar di masyarakat bawah.

Baca Juga:

Pulau Lombok Itu Indah, tapi SDM-nya Bikin Susah!

Restoran Ayam Taliwang Pak Udin Lombok: Populer di Kalangan Wisatawan, Jarang Disambangi Warga Lokal

Menikmati pesta dari luar pagar

Pariwisata memang mendatangkan uang dan pembangunan infrastruktur. Jalanan jadi mulus, lampu penerangan bertambah, dan nama daerah makin harum di mata dunia. Tapi apa gunanya jalan mulus kalau warga lokal cuma bisa melewatinya saat berangkat kerja sebagai buruh bergaji pas-pasan. Walaupun pada tahun ini 2026 ada diskon 50% bagi warga NTB.

Pemerintah dan pemangku kebijakan sering lupa bahwa pembangunan pariwisata yang berhasil bukan cuma soal berapa banyak turis yang datang atau berapa triliun investasi yang masuk. Indikator utamanya adalah seberapa sejahtera warga lokal yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.

Jangan sampai Lombok terus bersolek makin cantik hanya untuk menyenangkan mata pendatang, sementara warga Sasak di tanah sendiri cuma kebagian debu dan peran sebagai penonton yang bertepuk tangan dari luar pagar.

Penulis: M Wahyu Agani
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pulau Lombok Itu Indah, tapi SDM-nya Bikin Susah!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2026 oleh

Tags: Lombokpariwisata di lombokPulau Lombokwarga sasak
M Wahyu Agani

M Wahyu Agani

ArtikelTerkait

savanna dugem lombok mojok

Dugem di Savana Lombok Adalah Bukti Buruknya Mental Masyarakat Kita dalam Menjaga Alam

5 Agustus 2020
Sejarah Singkat Kemunculan Sate Rembiga yang Fenomenal Terminal Mojok

Sejarah Singkat Kemunculan Sate Rembiga, Sate Khas Lombok yang Fenomenal

6 April 2022
5 Kuliner Legendaris di Kota Mataram selain Ayam Bakar Taliwang

5 Kuliner Legendaris di Kota Mataram selain Ayam Bakar Taliwang

6 Juli 2023
lingsir wengi ponggol setan hantu tuselak mojok

‘Tuselak’, Hantu Asal Lombok yang Hampir Punah

23 Juli 2020
Meluruskan Salah Kaprah Terkait IAHN Gde Pudja Mataram, Satu-satunya Kampus Hindu Negeri yang Ada di Lombok

Meluruskan Salah Kaprah Terkait IAHN Gde Pudja Mataram, Satu-satunya Kampus Hindu Negeri yang Ada di Lombok

4 Agustus 2023
Stereotip Orang-Orang Luar Lombok tentang Masyarakat Asli Lombok

Stereotip Orang-Orang tentang Masyarakat Asli Lombok

4 April 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

20 Agustus 2026
Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama Mojok.co

Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama

22 Agustus 2026
KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar Mojok.co

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar

20 Agustus 2026
Kaza Mal Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi Mojok.co

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

19 Agustus 2026
Gen Z lanjut S2 bukan karena ambisi, tapi patah hati (Unsplash)

Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena gelar dan ambisi, tapi karena patah hati dan bingung mau ngapain lagi

20 Agustus 2026
Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

Memangnya kenapa kalau orang kabupaten minta gaji tinggi? Nggak boleh gitu mereka sejahtera?

16 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.