Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Dugem di Savana Lombok Adalah Bukti Buruknya Mental Masyarakat Kita dalam Menjaga Alam

Atanasius Rony Fernandez oleh Atanasius Rony Fernandez
5 Agustus 2020
A A
savanna dugem lombok mojok

savanna dugem lombok mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Dua pulau di Indonesia, Pulau Bali dan Pulau Lombok terpilih masuk 10 pulau terbaik Asia.  Indonesia memang dianugerahi bentang alam yang sangat indah dan keramahan masyarakatnya. Namun, ada pekerjaan rumah yang dihadapi kita bersama, yaitu mental masyarakatnya masih buruk dalam merawat anugerah keindahan alam yang tersedia itu.

Bagaimana tidak saya menyimpulkan hal itu? Ada berita terbaru dari Lombok, segerombolan anak muda malah dugem di lokasi perkemahan Savana Propok, Kabupaten Lombok Timur. Akibat ulah mereka, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) menutup lokasi tersebut.

Selain dianggap tidak etis, mereka juga melanggar protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Bayangkan, di savana yang luas pada malam hari yang sunyi, anak-anak muda itu memutar musik dengan suara keras, memainkan cahaya dari senter, dan berkerumun sambil berjoget bak berada di diskotik.

Anak-anak muda di Lombok yang melakukan aktivitas seperti dugem di alam terbuka itu, semacam mempertegas bahwa mental masyarakat kita memanglah buruk. Mereka tidak bodoh, mereka manusia-manusia pintar kok. Buktinya tahu cara memutar musik dengan suara keras, tahu cara memakai senter di malam hari agar berkelap kelip seperti lampu diskotik, dan tahu cara memasang tenda yang baik. Otak mereka sepertinya masih berada di dalam tempurung kepalanya. Hanya saja, kepekaannya terhadap lingkungan sekitar yang masih belum dipahami.

Bagaimana bisa di alam terbuka mereka bikin kegaduhan dan bertingkah seakan sedang dugem. Anu, mereka tentu saja punya hak untuk dugem atau apapun namanya itu, asal di tempat yang tepat. Ini kok malah dilakukan di alam pada malam hari, dan situasi pandemi Covid-19 belum berakhir. Saya juga tidak yakin kalau semua sampah yang mereka hasilkan dibawa semuanya kembali.

Saya tak habis pikir. Setahu saya orang datang ke wisata alam untuk menepi dari hiruk pikuk perkotaan, menikmati sunyinya alam di bentangan savana pada malam hari agar beban masalah bisa rontok. Lah, segerombolan orang itu malah mendengarkan musik dengan suara keras, berteriak-teriak, dan memainkan lampu senter.

Apa bedanya dengan suasana di perkotaan, bukan? Kalau seperti itu, mereka hanya pindah tidur saja dari kamar mereka ke alam terbuka. Kemudian mengusik sunyinya alam untuk memuaskan ego mereka. Ego mereka untuk memosting foto terbaru di tempat wisata yang sedang hits. Seakan-akan mereka berani tampil beda dengan bergaya ala dugem di alam terbuka. Video viral mereka itu pun, saya yakin awalnya direkam untuk gaya-gayaan belaka.

Tentu saja tingkah segerombolan orang yang dugem di savana itu hanya kisah kecil dari buruknya mental masyarakat kita berkaitan dengan alam. Sudah banyak cerita tentang pendaki gunung yang meninggalkan sampah di gunung saat mendaki, padahal banyak dari mereka melabeli diri sebagai pencinta alam. Atau bagaimana sampah di pantai dan laut yang begitu banyaknya mengotori perairan tersebut.

Baca Juga:

Restoran Ayam Taliwang Pak Udin Lombok: Populer di Kalangan Wisatawan, Jarang Disambangi Warga Lokal

Culture Shock Naik Kapal Batu Layar dari Lombok ke Surabaya: Penumpang Cekcok dengan Brimob dan Keributan Lainnya

Contoh-contoh itu bakal semakin panjang kalau menjabarkan tingkah laku masyarakat sehari-hari. Seperti membuang sampah di kali, membuang sampah sembarangan, dan perilaku buruk lainnya yang sudah kita tahu bersama.

Dalam survei di awal, disebutkan Pulau Bali berhasil masuk ke peringkat 6 dengan skor 88,14 dan Pulau Lombok di posisi 10 dengan skor 80,00. Dalam survei itu, seperti yang saya kutip dari berita di detik.com itu, para pembaca diminta untuk menjelaskan aktivitas, pemandangan, atraksi alam, pantai, makanan, keramahtamahan serta evaluasi keseluruhan saat mereka berlibur ke pulau di Asia. Sebagai orang yang tinggal di Lombok, saya merasa bangga atas keberhasilan itu. Namun juga merasa miris, bahwa mental masyarakat kita masih kurang baik dalam menjaga anugerah itu.

Banyak hal yang mesti dibenahi, tugas berat ada di pemerintah dan kesadaran masing-masing. Lah, yang membuang sampah sembarangan bukan hanya dari orang berpendidikan rendah kok. Mata kepala saya sendiri melihat botol minuman atau bungkus snack meluncur keluar dari jendela mobil mahal. Ini membuktikan mental kita memang buruk dalam menjaga alam, dalam menjaga keberlanjutan kehidupan di pulau yang dianggap terbaik ini.

Hampir di semua destinasi wisata di Indonesia yang tidak memiliki pengawasan ketat, hampir pasti akan dijumpai sampah yang berserakan. Belum lagi kalau berbicara vandalisme, coret-coretan di bangku, kursi, bahkan di pepohonan langka lumrah kita jumpai.

Ini tidak hanya terjadi di Pulau Lombok saja, hampir di semua daerah. Baru-baru ini juga tengah viral foto dan deskripsi tentang pendatang yang meninggalkan sampah di Fatukopa, daerah Timor Tengah Selatan (TTS), NTT. Kemudian anak-anak asli daerah itu jadi semacam “tukang pungut” sampah yang berserakan dari para pengunjung.

Lantas akan menjadi apa selanjutnya label salah satu pulau terbaik di Asia atau label lainnya yang memuji keindahaan alam Indonesia? Apakah hanya sebatas puji-pujian untuk menarik wisatawan, agar perputaran uang bisa terus berjalan? Sementara ketersediaan sarana kebersihan tidak memadai, edukasi kepada masyarakat tentang pariwisata berkelanjutan yang lemah, dan sikap abai masyarakat pada kelestarian alam terus berlanjut.

Jika tidak dibenahi dan masyarakat enggan belajar untuk peduli pada lingkungan alam, maka cerita dugem atau hal-hal negatif lainnya yang dilakukan saat beraktivitas di alam bisa saja akan terjadi lagi di masa depan.

BACA JUGA Derita Jadi Cowok Kurus: Pakai Fashion Apa pun Tetep Aja Nggak Keren! dan tulisan Atanasius Rony Fernandez lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Agustus 2020 oleh

Tags: Lomboksavana
Atanasius Rony Fernandez

Atanasius Rony Fernandez

Jurnalis yang tinggal di Mataram, Lombok. Sesekali menulis karya sastra. Tertarik pada isu kesenian, sosial, dan kuliner. Penggemar AS Roma dan musik metal.

ArtikelTerkait

Senjakala Mataram Mall, Mal Pertama di Kota Mataram: Dulu Kebanggaan Warga, Kini Menuju Temaram

Senjakala Mataram Mall, Mal Pertama di Kota Mataram: Dulu Kebanggaan Warga, Kini Menuju Temaram

21 Juli 2023
Kota Manado yang Asing tapi Akrab bagi Orang Lombok (Unsplash)

Kota Manado yang Sangat Berbeda bagi Orang Lombok, Sekaligus Bukti Indahnya Keragaman di Indonesia

23 September 2023
Meluruskan Salah Kaprah Terkait IAHN Gde Pudja Mataram, Satu-satunya Kampus Hindu Negeri yang Ada di Lombok

Meluruskan Salah Kaprah Terkait IAHN Gde Pudja Mataram, Satu-satunya Kampus Hindu Negeri yang Ada di Lombok

4 Agustus 2023
Stereotip Orang-Orang Luar Lombok tentang Masyarakat Asli Lombok

Stereotip Orang-Orang tentang Masyarakat Asli Lombok

4 April 2020
Makanan Khas Pulau Lombok yang Lombok Abis terminal mojok

Mengenal Ragam Makanan Khas Pulau Lombok yang Lombok Abis

24 Juni 2021
Cari Transportasi Publik di Kota Mataram Itu Sulit terminal mojok.co

Cari Transportasi Publik di Kota Mataram Itu Sulit

21 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derby UMR Rendah, Kemewahan yang Hanya Dimiliki oleh PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta

Derby UMR Rendah, Kemewahan yang Hanya Dimiliki oleh PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta

9 Mei 2026
Jalan Raya Kalimalang Dibenci Sekaligus Dicintai Pengendara yang Melintas kalimalang jakarta

Jalan Raya Kalimalang Jaktim Banyak Berubah, tapi Tetap Saja Tidak Aman untuk Pejalan Kaki!

8 Mei 2026
Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

6 Mei 2026
Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas” Terminal

Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas”

11 Mei 2026
Orang Jakarta Baperan: Panggilan ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Mojok.co

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

8 Mei 2026
Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Hantavirus (Unsplash)

Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Hantavirus: Pertama, Please, Jangan Panik

8 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada
  • Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa
  • Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung
  • Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus
  • Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga
  • Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.