Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Geliat Aglaonema Sebagai Tren dan Bisnis Akibat Pandemi

Fadlir Nyarmi Rahman oleh Fadlir Nyarmi Rahman
5 Agustus 2020
A A
Geliat Aglaonema Sebagai Tren dan Bisnis Akibat Pandemi MOJOK.CO

Geliat Aglaonema Sebagai Tren dan Bisnis Akibat Pandemi MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Selain tren bersepeda, ada satu tren lagi yang kembali digemari ketika pandemi. Tren baru ini adalah mengoleksi tanaman hias. Dan aglaonema atau yang juga dikenal sebagai sri rejeki itu menjadi kegemaran baru.

Aglaonema memenuhi kriteria mudah ditanam, dirawat, dan punya nilai estetik. Aglaonema merupakan tanaman jenis talas-talasan (Araceae). Tanaman ini mudah ditanam di media pot.

Perawatannya sangat sederhana, tidak membutuhkan banyak air dan cahaya. Tinggal diletakkan saja di tempat yang ideal. Dan yang terpenting, komposisi warna daunnya menjadi daya tarik tersendiri.

Oleh karena itu, kini aglaonema menjadi incaran banyak orang. Bisa kita lacak dari banyaknya orang yang jualan di toko online atau grup dan marketplace Facebook.

Dirasa sebagai aji mumpung, banyak juga teman yang menghubungi saya untuk ikutan berjualan agalaonema. Tentu saja ini merupakan hal yang menyenangkan sebagai penjual.

Aglaonema punya banyak jenis dan spesies. Beberapa jenis yang laku dan dicari adalah Pride Sumatra, Red Lipstick, Red Kochin, Legacy, dan Snow white.

Setiap spesies memiliki keunikannya masing-masing, dilihat dari komposisi warna dan corak daunnya. Pride Sumatra contohnya, berdaun gelap dengan garis merah di tulang daunnya. Berbeda dengan Snow White, berdaun putih dengan corak polkadot dan dibatasi warna hijau di tepi daun.

Beda jenis, beda harga, yang juga ditentukan oleh jumlah daun yang tumbuh. Semakin banyak daun semakin mahal.

Baca Juga:

Dear Pemda Karawang, Karawang Butuh Pohon yang Banyak, Bukan Tanaman Hias Unyu Nirfaedah!

Taman Kota di Bandung Nggak Butuh Tanaman Hias Banyak-banyak

Sebenarnya, sebelum ada tren ini, aglaonema merupakan tanaman hias yang kurang diperhatikan. Sering tumbuh dan tak terawat di depan rumah. Bagi kebanyakan orang, jika baru tahu kalau tanaman ini punya harga, mungkin akan kaget dan berpikir, lah taneman kayak gini kok bisa mahal?

Jangan salah. Permintaan pasar sedang besar, dan jarang ada pengusaha tanaman hias yang mau membudidayakan tanaman ini. Barang jadi langka. Ya memang karena tanaman ini kurang bernilai awalnya. Dan begitulah ekonomi berjalan, bukan?

Tren mengoleksi aglaonema ini ternyata berefek juga pada tanaman hias daun (bukan bunga) lainnya. Masih ingat dengan tren gelombang cinta dan anthurium lainnya? Tren yang membuat banyak pengusaha tanaman hias bangkrut itu. Jenis anthurium ini juga mulai naik pamornya.

Hal tersebut dikarenakan naiknya harga aglaonema, jenis yang dinilai hanya sebagai tanaman biasa. Tanaman jenis anthurium seperti gelombang cinta juga sempat menjadi “tanaman biasa” setelah tren berakhir.

Nah, bagi kalian yang masih punya gelombang cinta, ada baiknya mulai dirawat lagi. Pasalnya, pasar tanaman hias akan menggeliat lagi. Di pinggir jalan raya di daerah saya, Purbalingga, lahan-lahan yang awalnya sawah, beberapa mulai diubah menjadi lapak jualan tanaman hias.

Meski menggiurkan untuk menambah pemasukan, perlu menjadi pengingat bahwa berbisnis dengan mengikuti tren sering menyebalkan. Biasanya ada saja yang memanfaatkan momen ini untuk melakukan penipuan.

Barang mahal akibat tingginya permintaan, tetapi ditawarkan dengan harga murah, pasti banyak yang minat. Misalnya di grup jual-beli tanaman hias di Facebook, ada beberapa akun yang dilaporkan telah melakukan penipuan. Bahkan ayah saya sendiri tertipu belasan juta oleh salah satu penjual dari Malang.

Selain penipuan, yang menyebalkan lagi adalah berakhirnya tren yang secara mendadak. Bisa terjadi, ketika punya stok banyak, toba-tiba harga turun, permintaan berkurng secara mendadak, padahal modal awal belum pulang. Kalau sudah begitu, bisa apa kita dengan tanaman hias seperti aglaonema tersebut? Dijual nggak laku, disayur nggak enak.

Tapi jika memiliki kemampuan berbisnis yang brilian, tidak ada salahnya ikut berbisnis tanaman hias. Di samping dapat keuntungan, anggap saja dengan menanam, kita sedang memperbaiki kerusakan lingkungan yang disebabkan eksploitasi sumber daya alam.

Meskipun bukan secara langsung, sih. Juga, anggap kita menanam dalam rangka menjalankan tugas dari Tuhan karena telah diberi tanah Indonesia yang subur ini. Hal yang sering dilupakan orang-orang.

BACA JUGA Pengalaman Saya Menjalani Bisnis yang Bergantung Pada Review dan Rating atau tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Agustus 2020 oleh

Tags: aglaonemagelombang cintatanaman hiasusaha ketika pandemi
Fadlir Nyarmi Rahman

Fadlir Nyarmi Rahman

Seorang radiografer yang sedikit menulis, lebih banyak menggulir lini masa medsosnya. Bisa ditemui di IG dan Twitter @fadlirnyarmir.

ArtikelTerkait

4 Hal yang Harus Diperhatikan ketika Merawat Pakis Boston Terminal Mojok

4 Hal yang Harus Diperhatikan ketika Merawat Pakis Boston

23 Januari 2022
Dear Pemda Karawang, Karawang Butuh Pohon yang Banyak, Bukan Tanaman Hias Unyu Nirfaedah!

Dear Pemda Karawang, Karawang Butuh Pohon yang Banyak, Bukan Tanaman Hias Unyu Nirfaedah!

12 Agustus 2023
Tips Beli Tanaman Hias di Grup Jual Beli Facebook biar Kamu Nggak Ketipu terminal mojok.co

Tips Beli Tanaman Hias di Grup Jual Beli Facebook biar Kamu Nggak Ketipu

22 September 2020
Kasus Pencurian Tanaman dan Ikan Hias Marak, Mending Perbanyak Sendiri daripada Mencuri

Kasus Pencurian Tanaman dan Ikan Hias Marak, Mending Perbanyak Sendiri daripada Mencuri

29 Januari 2021
Taman Kota di Bandung Nggak Butuh Tanaman Hias Banyak-banyak

Taman Kota di Bandung Nggak Butuh Tanaman Hias Banyak-banyak

7 Februari 2023
Bocoran 5 Tanaman Hias Paling Banyak Diburu Belakangan Ini aglaonema anthurium gelombang cinta terminal mojok.co

Bocoran 5 Tanaman Hias Paling Banyak Diburu Belakangan Ini

29 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit Mojok.co

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit

18 Mei 2026
Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung” yang Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman Mojok.co

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

12 Mei 2026
4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup Mojok.co

4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup

12 Mei 2026
Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

14 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.