Lorong Waktu Episode 9, Musim 1: Haji Husin dan Zidan Disandera Lintah Darat – Terminal Mojok

Lorong Waktu Episode 9, Musim 1: Haji Husin dan Zidan Disandera Lintah Darat

Artikel

Utamy Ningsih

Berangkat dari sebuah berita di koran berjudul “Nelayan Teluk Hiu Dikuasai Lintah Darat”, Haji Husin, Ustad Addin, dan Zidan pun memulai petualangan Lorong Waktu episode 9.

Di tempat yang akan dikunjungi Haji Husin dan Zidan hiduplah seorang nelayan miskin bernama Mardikun yang menjadi bulan-bulanan Kang Kohar dan anak buahnya. Kang Kohar yang seorang lintah darat memaksa Mardikun untuk menerima pinjaman uang darinya.

Berkali-kali dipaksa, bahkan sampai disiksa dan perahu rakitannya dirusak, Mardikun tetap menolak “bantuan” Kang kohar. Mengetahui sikap suaminya, istrinya Mardikun marah dan kecewa. Bagaimanapun, mereka punya dua orang anak yang masih kecil yang selama ini tidak mendapat asupan makanan dan pakaian yang layak.

Dalam pertengkaran yang diiringi tangis dan emosi yang meluap-luap dari istrinya Mardikun, Mardikun tetap tidak bersedia meminjam uang dari Kang Kohar. Dia percaya pertolongan Tuhan itu nyata adanya. Yang dibutuhkan hanya kesabaran. Mendengar hal tersebut, Onah, istri Mardikun, semakin emosional.

Hingga akhirnya, hari itu sampailah Haji Husin dan Zidan ke tempat Mardikun.

“Assalamualaikum,” sapa Haji Husin dan Zidan.

“Waalaikumsalam,” balas Mardikun.

“Haji Husin. Nah, ini cucu saye. Bapak siape?” Haji Husin memperkenalkan diri.

“Saya Mardikun.”

“Nah, ini dia orang yang kita cari-cari, Pak Haji,” kata Zidan

“Tapi, saya… sa-sa-saya tidak salah apa-apa, Aden.”

“Nama saya bukan Aden, tapi Zidan.”

“Eh, Kun. Orang nyari ente belon tentu mau nyari perkara. Cucu gue mau kenalan ame lu.”

“Kenalan? Sama Mardikun?”

“Iyeee,” jawab Haji Husin

“Saya nggak pantas dikenalkan. Saya cuma petani miskin.”

“Aaah, soal miskin nggak usah lu omongin. Dari muke lu udah ketahuan lu miskin. Nah, rume lu aja gubuk, reyot, kesenggol ayam aja rubuh, badan lu bau amis, tapi bukan itu soalnye. Soalnye, hatiii lu yang wangi.”

“Saya nggak ngerti,”

“Ya, lu kagak bakalan ngerti. Gua ceritain juga lu kagak bakalan ngerti deh.”

“Ya, silakan masuk. Mari! Onah, kita kedatangan tamu. Apa ada makanan untuk buka puasa?”

“Apa? Makanan? Akang tanya makanan? Apa Akang pikir kita punya duit buat beli makanan, hah?” istrinya Mardikun bertanya dengan nada emosi.

Mendengar istri Mardikun marah-marah, Haji Husin menjelaskan tujuan kedatangannya.

“Pak Mardikun, ente nggak usah repot-repot, ane kemari bukan pengin minta makan.”

“Ya, sebenarnya saya nggak repot, Pak Haji. Cuma….”

“Gue kemari pengin lihat keadaan di sini yang kayak gimana, gitu!”

“Iya, Zidan belom pernah ke daerah begini, Pak Mardikun,” Zidan menambahkan.

“Nah…,” seru Haji Husin.

“Ya, tapi apa yang mau dilihat dari desa nelayan miskin seperti ini, Pak Haji? Semuanya serbamenyedihkan.”

“Kita justru pengin lihat yang beginian. Kalau lihat gedung tinggi, betingkat, mewah, tahu-tahu belakangan utang melulu, ye?” tanya Haji Husin yang disambut anggukan oleh Zidan.

Selanjutnya, Mardikun pun mengantar Haji Husin dan Zidan jalan-jalan di daerah tersebut. Selagi mereka jalan, di tempat lain, Kang Kohar lagi-lagi menunjukkan kekejamannya. Seorang nelayan dihajar habis-habisan karena tidak bisa membayar utang.

Kepada Haji Husin dan Zidan, Mardikun bercerita tentang perahu rakitannya yang tidak kunjung jadi karena tidak ada orang yang mau membantu. Semuanya takut kepada Kang Kohar.

“Kang Kohar memaksa orang supaya meminjam duit sama dia dengan bunga yang sangat tinggi dan berlipat ganda. Duitnya dibelikan perahu yang sudah disediakan sama Kang Kohar sendiri, Pak Haji. Semua hasil tangkapan ikan harus disestorkan sama Kang Kohar.”

“Maksudnye buat nyicil utangnye begitu?”

“Bukan cicilan utangnya, tapi cicilan bunganya, Pak Haji.”

“Astagfirullahaladzim, tapi lu nggak ngerente ame die kan?”

“Tapi khawatir saya, Pak Haji, lama-lama saya nggak tahan.”

“Kenape emangnye, Kun? Selama ini lu mampu bertahan.”

“Pak Haji lihat sendiri keadaan keluarga saya, Pak Haji. Serbakekurangan, sedangkan perahu yang saya bikin belum jadi juga. Padahal perahu inilah satu-satunya yang bisa menghidupi keluarga saya, Pak Haji.”

“Kun, istikamah, istikamah. Lu mesti yakin, Allah akan kasih jalan keluar dari setiap kesulitan.”

Dengan niat meringankan beban Mardikun, Haji Husin membantu Mardikun merakit perahu meski… yah… Haji Husin dan Zidan tidak tahu cara membuat perahu.

Meninggalkan sejenak mereka bertiga merakit perahu, adegan berpindah ke masjid. Di masjid, murid-murid mulai gelisah karena Ustad Addin tidak kunjung datang mengajar. Mereka kompak mencari Ustad Addin.

Balik lagi ke desa nelayan, saat Mardikun, Haji Husin, dan Zidan lagi fokus merakit perahu, Kang Kohar dan anak buahnya datang. Melihat hal tersebut, Ustad Addin yang melihat kejadian tersebut merasa heran.

“Pak Haji.”

“Ape? Ape?”

“Biar saya yang ngadepin, Pak Haji,”

“Udeh, lu nggak usah takut, apalagi ame sama-sama manusie. Kite makan nasi, die juga makan nasi. Yang elo perlu takutin cuman satu, Allah.”

“Dengar omongan Pak Haji sepertinya Pak Haji ini nantangin saya ini.”

“Yeee, nggak begitu sih, hehe. Tapi kalau ente merasa begitu yeee… nggak ape-ape, heh. Ente mau jual, ane beli.”

Sementara situasi mulai menegangkan, di masjid, anak murid Ustad Addin makin tidak sabaran. Mereka mendatangi kamar Ustad Addin. Untuk menenangkan, Ustad Addin pun meninggalkan ruangannya kemudian mengikuti kemauan anak muridnya.

Di desa nelayan, Haji Husin sudah siap bertarung dengan Kang Kohar dan anak buahnya yang berjumlah tujuh orang. Sebelum bertarung, Haji Husin ngomong, “Cume gue kasih tahu ame lu ye, kalo gue mati nggak ada yang nangisin. Gue duda. Tapi kalo lu kenape-kenape pade, keluarga lu gimane? Itu yang mesti lu pikirin, lu. Mulai sekarang ayo! Siape duluan, hah?”

Lagi tegang-tegangnya melihat Haji Husin yang siap bertarung, Zidan malah manggil Haji Husin. Haji Husin pun meninggalkan sejenak arena pertarungan lalu nyamperin Zidan.

“Pak Haji mending kita lari, itu musuhnya banyak,” Kata Zidan sambil bisik-bisik.

“Ah, kagak ada dalam kamus gue lari. Kagak ada! Mendingan nyerah aja yuk!” Haji Husin memberi penawaran.

“Yah, dikirain Pak Haji mau ngelawan, nggak tahunya nyerah,” protes Zidan.

Haji Husin balik lagi ke arena. Sementara itu Zidan mulai sibuk menghubungi Ustad Addin yang sedang tidak di tempat. Melihat Zidan ngomong ke roket-roketan, Mardikun tampak heran sekaligus penasaran.

Tepat ketika pukulan pertama Haji Husin mengenai wajah salah satu anak buah Kang Kohar, tiga anak buah Kang Kohar lainnya menyandera Zidan. Komunikator atau roket-roketan yang dipegang oleh Zidan terjatuh di tanah. Mengetahui Zidan sudah ditahan oleh anak buahnya Kang Kohar, Haji Husin tidak bisa lagi melanjutkan pertarungan. Haji Husin menyerah. Haji Husin, Mardikun, dan Zidan pun dibawa ke gudang oleh anak buahnya Kang Kohar.

Cerita Lorong Waktu episode 9 ditutup dengan adegan seorang nelayan yang menemukan roket-roketan yang terjatuh di tanah. Duh, gimana nih nasib Mardikun, Haji Husin, dan Zidan? Bisakah Haji Husin dan Zidan kembali ke kehidupan sebenarnya tanpa bantuan roket-roketan?

Ikuti sinopsis Lorong Waktu musim 1 di sini serta tulisan Utamy Ningsih lainnya.

Baca Juga:  Lorong Waktu Episode 10, Musim 1: Cara Terbaik Melawan Lintah Darat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
0


Komentar

Comments are closed.