Lorong Waktu Episode 11, Musim 1: Pelajaran tentang Sedekah – Terminal Mojok

Lorong Waktu Episode 11, Musim 1: Pelajaran tentang Sedekah

Artikel

Jika pada Lorong Waktu episode 10 Haji Husin dan/atau Zidan yang berpetualang, kali ini bukan mereka berdua, melainkan seseorang bernama Pak Darmawan. Di Lorong Waktu episode 11 ini sebenarnya Zidan juga “ikut” berpetualang sih, tetapi bukan atas kemauan dia dan bukan diberangkatkan Ustad Addin. Entah bagaimana ceritanya, Zidan bisa ada pada dimensi waktu yang sedang dikunjungi oleh Pak Dermawan.

Pak Darmawan adalah seseorang yang rajin beribadah dan suka bersedekah. Harta yang dia punya sering disedekahkan bagi kaum fakir miskin. Sayangnya, perbuatan baik Pak Darmawan itu tidak tulus. Itu karena setiap dia membagikan sedekah disertai dengan perasaan sombong dan pamer. Setiap kali membagikan sedekah, ada tukang foto yang siap mengabadikan momen.

Hingga suatu hari, saat sedang salat, dia didatangi seseorang dengan penampilan lusuh dan kotor yang selama ini hanya berdiri di luar pagar (di bawah pohon) setiap kali Pak Darmawan membagikan sedekah. Seseorang yang berpenampilan lusuh dan kotor itu mengaku diri bernama Fakir. Seusai salat, Pak Darmawan menyapa Pak Fakir.

“Ba-Bapak ini siapa? Kenapa ada di sini?” tanya Pak Dermawan kepada Pak Fakir.

“Saya datang untuk memberi peringatan kepada kamu tentang kesalahan-kesalahan kamu,” jawab Pak Fakir.

“Ah, kesalahan? Apa kesalahan saya?”

“Kesalahan kamu adalah kamu tidak tahu bahwa kamu telah berbuat salah.”

“Oh… saya baru ingat sekarang. Saya sering melihat Bapak berdiri di bawah pohon ketika saya membagi-bagikan sedekah. Bapak belum mendapatkan sedekah dari saya? Tunggu, akan saya ambil!”

“Saya tidak memerlukan sedekah dari kamu, meskipun saya berhak.”

“Jadi apa yang bisa saya lakukan untuk menolong Bapak?”

“Aku tidak memerlukan pelayanan kamu. Aku justru datang kemari untuk membantu kamu memperbaiki kesalahan-kesalahan kamu. Menyelamatkan amal ibadah kamu. Ini berikan kertas ini kepada seorang ustad yang bernama Addin. Cari di Masjid Siti Rawani. Dia akan membawa kamu ke tempatku. Ingat, kertas ini tidak boleh kamu buka, kecuali kamu akan menjadi orang yang celaka, yang tidak bisa dipercaya. Hanya Ustad Addin yang berhak.”

Pak Fakir kemudian memberi selembar kertas (berisi tulisan) yang terlipat kepada Pak Darmawan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Pak Darmawan pun menerima kertas tersebut. Setelah itu, Pak Darmawan akhirnya siap dikirimkan sesuai perintah Pak Fakir di kertas yang diberikan untuk Ustad Addin. Pak Darmawan bukan cuma tidak didampingi oleh Haji Husin ataupun Zidan, tetapi juga tidak dibekali Komunikator 2000. Haji Husin sempat mengingatkan Ustad Addin perihal Komunikator, tetapi kata Ustad Addin memang sengaja nggak dibawa. itu sesuai perintah Pak Fakir yang disebut Ustad Addin sebagai hamba Allah.

Setelah sampai di tujuan, Pak Darmawan sangat kebingungan.

“Ya Allah, saya ada di mana? Ya Allah, saya ada di mana?” Pak Darmawan bertanya-tanya.

“Kamu sedang berada di dunia sanubarimu. Aku Fakir yang akan membantumu untuk melihat kesia-siaanmu.”

“Ya, tapi kenapa harus seorang fakir?”

“Karena manusia tidak memiliki apa-apa, heh, selain yang dititipkan Allah.”

Lalu, tiba-tiba gelap gulita. Haji Husin panik. Setelah dijelaskan Ustad Addin, Haji Husin semakin penasaran. Saking antusiasnya, Haji Husin meminta tukaran tempat dengan Ustad Addin. Kali ini Haji Husin yang duduk di depan layar komputer. Oleh Ustad Adddin, Haji Husin diperingatkan untuk menjaga jarak agar jari-jarinya tidak menyentuh keyboard. Menuruti peringatan Ustad Addin, Haji Husin pun memosisikan tangannya seperti seekor kucing yang siap menerkam mangsanya.

“Kenapa tiba-tiba menjadi gelap dan sunyi?” Pak Darmawan kebingungan.

“Karena hanya dalam kegelapan kita memerlukan cahaya dan hanya dalam kesunyian kita bisa melihat diri kita sendiri.”

Seketika muncullah sebuah tayangan yang menampilkan seseorang yang sedang membawa ember bocor berisi air. Air yang keluar dari ember tersebut membasahi tanah yang ditumbuhi tanaman. Setelah disimak lebih lanjut, orang yang membawa ember bocor berisi air tersebut adalah Pak Darmawan. Melihat dirinya ada di dalam tayangan itu, Pak Darmawan bertanya kepada Pak Fakir.

“Fakir, bukankah itu saya, Fakir?”

“Tidak salah.”

“Bodoh betul dia. Harusnya kan dia mengganti dengan ember baru.”

“He, orang itu, atau yang sebenarnya kamu, hanya memiliki ember-ember yang bocor.”

“Tolong jelaskan, Fakir.”

“Air yang kamu bawa itu adalah amal ibadahmu yang terbuang sia-sia sepanjang hidup kamu. Air itu menyirami dan menyuburkan tanah yang kau lewati, tapi tidak berguna bagi kamu sama sekali.”

“Saya tidak mengerti kenapa amal ibadah saya jadi sia-sia, Fakir?”

“Karena ember-ember itu telah kamu lubangi dengan rasa kebanggaan dan sifat pamermu. Setiap kali kamu bersedekah, kamu ingin mendapatkan pujian, kamu memamerkan harta kekayaan. Padahal semua itu adalah milik Allah. Kamu tidak akan mendapatkan pahala yang layak karena kamu telah merasa berbuat baik. Itu akan menjauhkan kamu dari rida Allah.”

Mendengar ucapan Pak Fakir, Pak Darmawan hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. Haji Husin yang ikut menonton pun tampak sangat serius menyimak. Ternyata, tayangan tentang perbuatan Pak Darmawan tidak cukup sampai di situ.

“Akan kuperlihatkan lagi yang lain bahwa sesungguhnya kau telah berbuat syirik.”

“Naudzubillahimindzalik. Fakir, saya seorang muslim, saya hanya menyembah Allah yang mahatunggal,” kata Pak Darmawan sambil berteriak.

“Kenyataannya tidak begitu.”

Pada tayangan selanjutnya, Pak Darmawan tampak menyembah pada diri sendiri yang sedang menggunakan pakaian layaknya seorang raja.

“Tidak, tidak. Tidak mungkin, Fakir.”

“Kamu terlalu bangga terhadap diri kamu. Menepuk dada di balik sukses dan kemapananmu. Setiap kali kamu merasa lebih tinggi ketika kamu memberikan sedekah sehingga kamu tidak merasakan bahwa orang-orang itu sebagian merasa malu menerima sedekah dari kamu. Eeeh, pujian sudah melupakan Tuhan bagimu. Kamu selalu menceritakan tentang kebaikan-kebaikan kamu pada semua orang. Seolah-olah orang yang menerima sedekahmu telah berutang seisi dunia kepada kamu. Eeehhh, padahal mereka sedang menolong kamu, agar kamu bisa berbuat amal.”

“Cukup, Fakir, cukup. Tolong jangan diteruskan, Fakir. Saya sudah tidak kuat lagi. Saya sudah tidak kuat lagi, Fakir,” pinta Pak Darmawan sambil menangis.

“Haaa, kamu pikir diri kamu siapa? Kamu nyaris menganggap diri kamu adalah Tuhan.”

Melihat keadaan Pak Darmawan yang sudah menyadari kesalahannya dan menangis terisak, Haji Husin jatuh iba. Dia meminta Ustad Addin untuk memulangkan Pak Darmawan, tetapi Ustad Addin menolak karena memang begitulah perintah Pak Fakir alias hamba Allah. Petualangan baru bisa selesai kalau Pak Fakir yang memerintahkan.

Balik lagi ke perjalanan Pak Darmawan, dalam keadaan berjongkok, pundaknya disentuh oleh Pak Fakir dan membuat Pak Darmawan berdiri.

“Masih juga kau akan menyiksaku, Fakir?”

“Kamu lebih baik tersiksa di sini sekarang daripada di akhirat kelak. Aku akan menunjukkan satu hal lagi, agar kamu benar-benar sadar.”

Selanjutnya muncullah tayangan yang menampilkan Zidan sedang mengajarkan huruf hijaiah kepada Pak Darmawan. Melihat Zidan ada di sana, Ustad Addin merasa heran.

“Nggak ada yang nggak mungkin, Din. Ilmu Allah nggak keukur. Di atas langit masih ada langit. Lu ingat nggak kisahnya Nabi Musa? Die kan musti belajar lagi dari Nabi Khidir. Yeee, nggak?” kata Haji Husin kepada Ustad Addin.

Sementara itu, melihat tayangan tersebut, Pak Darmawan lagi-lagi belum paham.

“Apa artinya, Fakir?”

“Artinya, kebesaran yang kamu miliki masih jauh di bawah anak kecil yang masih suci itu.”

“Saya semakin tidak mengerti, Fakir. Tolong jelaskan!”

“Ilmu yang kamu miliki, kebesaran yang kamu punya, tidak membawa apa-apa bagi dirimu. Ilmu bukan cuma sekadar perhitungan-perhitungan dari gejala-gejala alam, tapi juga menuntut kerendahan hati. Menuntut kepasrahan hati yang suci terhadap Sang Maha Pencipta karena Dia-lah pemilik segala ilmu. Kita hanya diberikan sediiikit saja. Nah, masih beranikah kamu menyombongkan diri dengan segala sesuatu yang milik Allah? Kamu bahkan tidak lebih besar dari seekor semut yang sedang merayap di atas sebuah jeruk.”

“Allahuakbar,” ucap Haji Husin setelah melihat tayangan Pak Darmawan dan Pak Fakir.

“Kalau begitu, apa orang bodoh bisa dibilang lebih beruntung, Pak Haji?” tanya Ustad Addin.

“Kalau soal nyari rida Allah, orang pinter lebih punya banyak kesempetan. Selama dia beriman.”

Cerita tentang petualangan Pak Darmawan dan Pak Fakir selesai sudah. Pak Fakir memerintahkan Ustad Addin untuk melakukan perintah-perintah selanjutnya yang sudah dia tulis di kertas. Pak Darmawan dan Zidan pun dipulangkan ke rumah masing-masing.

Zidan yang merasa bermimpi lalu terbangun langsung bertanya sendiri. “Kalau jadi guru, gajinya gede nggak, yah?”

Mengetahui Pak Darmawan tidak kembali ke ruangan Ustad Addin, Haji Husin yang masih dalam posisi seperti kucing yang hendak menerkam, mempertanyakan hal tersebut kepada Ustad Addin. Lagi-lagi hal tersebut (Pak Darmawan tidak kembali ke ruangan Ustad Addin) karena sesuai tugas atau perintah yang diberikan oleh Pak Fakir. Sebagai tugas terakhir, kertas/surat dari Pak Fakir itu kemudian dibakar oleh Ustad Addin.

Lorong Waktu episode 11 ditutup dengan Pak Darmawan yang kembali membagikan sedekah seperti biasanya. Bedanya, kali ini tidak ada dokumentasi, Pak Darmawan bahkan menolak ketika diberi pujian oleh penerima sedekah.

Pak Fakir yang biasanya hanya melihat dari bawah pohon saat Pak Darmawan membagikan sedekah, kali ini sudah mendekat dan meminta langsung sedekah kepada Pak Darmawan. Pak Fakir menerima sedekah itu sambil tersenyum kepada Pak Darmawan.

Di seberang jalan, ada Haji Husin, Zidan, dan Ustad Addin yang ikut melihat pembagian sedekah.

“Pak Haji, Pak Haji, kayaknya Zidan pernah ketemu sama orang itu,” kata Zidan sambil menunjuk Pak Darmawan.

“Eh, lu mustinya merasa bersyukur karena lu pernah ketemu ame orang yang diberi hidayah oleh Allah.”

Dari depan rumahnya, Pak Darmawan yang sedang membagikan sedekah menatap Haji Husin, Zidan, dan Ustad Addin dengan tatapan heran.

Ikuti sinopsis Lorong Waktu musim 1 di sini serta tulisan Utamy Ningsih lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.