Lorong Waktu Episode 1, Musim 1: Berkenalan dengan Mesin Waktu Buatan Ustad Addin – Terminal Mojok

Lorong Waktu Episode 1, Musim 1: Berkenalan dengan Mesin Waktu Buatan Ustad Addin

Artikel

Utamy Ningsih

Sinopsis sinetron Lorong Waktu episode 1 musim 1

Sinetron Lorong Waktu tayang pertama kali pada 1999 sebagai teman melewati bulan Ramadan. Dengan durasi tayangan yang tidak begitu lama, sinetron ini mengangkat tema Islam dengan kemasan fiksi sains. Bingkai cerita tak umum ini masih ditambah adegan dan dialog menghibur. Tidak heran sinetron ini menjadi salah satu judul sinetron lawas yang masih dikenang. VICE bahkan mendaulatnya sebagai sinetron Ramadan terbaik di Indonesia.

Dalam rangka nostalgia, sampai beberapa pekan ke depan saya akan rutin menuliskan sinopsis Lorong Waktu musim 1. Sebagai bekal, saya akan memperkenalkan kembali tiga tokoh utama yang menjadi ikon sinetron ini. Mereka adalah Haji Husin (Deddy Mizwar), Ustad Addin (Ajie Pangestu), dan Zidan (Jourast Jordy).

Sinopsis Lorong Waktu episode 1 musim 1

Meski terbilang canggih, mesin waktu ala Ustad Addin itu tentu saja tidak langsung bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Sempat terjadi kegagalan, bantal yang dikirim Ustad Addin, alih-alih sampai ke masa lalu, jatuhnya malah masih di masa sekarang, di gerobak penjual nasi goreng yang nangkring dekat masjid.

“Belakangan ini banyak kejadian aneh sekitar sini. Kemaren sendal jepit, sekarang bantal. Jangan-jangan berikutnya tempat tidur lagi. Heee,” kata abang penjual nasi goreng sambil bergidik dan disambut dengan tatapan tajam dari dua orang pembelinya.

Error. Demikian tulisan yang tertera di layar komputer Ustad Addin

“Salah di mana lagi, yah? Hah!” keluh Ustad Addin.

Tidak tinggal diam, Ustad Addin pun mencari tahu, ternyata… “Subhanallah, pantasan nyasar ke mana-mana, kecepatan yang dibutuhkan tidak mencukupi. Berarti harus dikalikan 100 kali kecepatan cahaya. Oke!”

Keyboard komputer diketik, lalu muncullah tulisan “siap mengirim obyek, tentukan koordinat”. Setelah sempat bingung mau mengirim benda apa, Ustad Addin akhirnya memilih sepiring donat. Bismillahirrahmanirrahim, donat dikirim, melewati lorong waktu, dan… yang tampil kemudian adalah tiga orang berpakaian pejuang zaman dulu saat melawan tentara Jepang.

“Kita mesti berdoa agar tidak tertangkap oleh tentara Jepang dan cepat mendapat makanan yang paling enak,” kata seseorang yang dipanggil komandan.

Baca Juga:  Menanti Crossover DMCU (Deddy Mizwar Cinematic Universe)

“Lah, kalau makanannya tidak segera dapat, itu bagaimana, Komandan?”

“Terpaksalah salah satu di antara kalian, digulingkan di atas api, untuk menghidupi yang lain,” seloroh Komandan.

“Astagfirullah.”

“Amit-amit jabang bayi, Komandan.”

“Mari kita berdoa. Berdoa, mulai,” ajak sang Komandan.

Tidak berapa lama sebelum mengucap amin, donat kiriman Ustad Addin sampai dan nyantol di pohon. Selesai berdoa, mata Komandan langsung tertuju pada donat kiriman Ustad Addin. Mereka mendekat, tetapi sempat ragu untuk memakannya. Takut kalau-kalau donat itu adalah sesajen. Namun, keraguan mereka dikalahkan oleh rasa lapar. Komandan melahap sebuah donat, kemudian diikuti oleh dua orang anak buahnya.

Cerita kembali pada Ustad Addin yang (sempat) girang karena di layar komputer muncul tulisan pengiriman oke.

Ketika Haji Husin menyerahkan bantal nyasar milik Ustad Addin, Ustad Addin menyampaikan ketidakpuasannya atas percobaannya meski sudah ada kemajuan.

“Tetapi Pak Haji, saya masih belum puas dengan hasil itu karena saya tetap tidak bisa tahu apa yang kemudian akan terjadi setelah obyek-obyek itu saya kirimkan. Apakah obyek itu akan kembali seperti semula. Apakah obyek itu akan menghilang selamanya.”

“Mana gue tahu,” kata Pak Haji

“Kita akan segera bisa tahu, Pak Haji,” timpal Ustad Addin dengan penuh semangat.

“Ya terus, kenapa lu tanya gue tadi kalau lu tahu,” Pak Haji tampak emosi

“Sebentar, Pak Haji. Sebentar, sebentar,” Ustad Addin meyakinkan.

Ustad Addin pun mengeluarkan benda kecil dari lemari kemudian memperlihatkan kepada Haji Husin.

“Ini adalah alat pemancar canggih yang saya sebut komunikator 2000. Alat ini akan menghubungkan masa depan atau masa lampau dengan komputer kita, Pak Haji.”

“Nah, terus… terus, siapa yang mau bawa… ni ape namanye? Ni ape… roket-roketan. Siapa yang mau bawa? Anak monyet?” cecar Pak Haji

“Tuh dia masalahnya, Pak Haji. Saya kagak percaya sama anak monyet, saya lebih percaya sama Pak Haji.”

Maka begitulah, Ustad Addin mengajak Haji Husin untuk menjadi obyek selanjutnya, tetapi Haji Husin menolak.

Baca Juga:  Menanggapi Tulisan Hai Para Pemakan Bubur Diaduk, Bertobatlah: Maaf, Tapi Makan Bubur Diaduk Adalah Jalan Yang Sebenar-benarnya

“Tugas gue di sini cuma nyariin dana, ngebiayain proyek percobaan lu. Supaya berhasil. Kalau udah berhasil, lu ajarin tuh anak-anak yang ngaji di sini. Supaya jadi pinter. Supaya jadi generasi yang hatinya zikir, otaknya mikir. Insya Allah ni masjid jadi makmur,” Haji Husin mengingatkan.

Setelah menerima penolakan sekaligus mendapatkan sedikit siraman rohani dari Haji Husin, Ustad Addin pun menjalani perannya sebagai guru mengaji.

“Agama tanpa ilmu pengetahuan bagaikan orang buta. Sebaliknya, ilmu tanpa agama akan jadi pincang. Makanya kedua-duanya harus seimbang. Rasulullah bersabda, carilah ilmu sampai ke negeri China.”

“Nggak mau,” sahut Zidan.

“Kenapa, Zidan?” tanya Ustad Addin

“Zidan maunya sekolah di Amerika, nggak mau ke China,” kata Zidan yang kemudian mendapat sorakan dari teman-temannya. “Huuu… muke lu jauh.”

Selepas mengajar, Ustad Addin kembali ke kamarnya. Kamar tempat mesin lorong waktu berada. Zidan yang penasaran, mencoba mengintip, tetapi gagal karena celah untuk mengintip terlalu kecil.

“Kecil banget. Jangan-jangan, Ustad lagi belajar salat,” tebak Zidan.

Sementara itu, di dalam kamar, Ustad Addin sudah siap mengirimkan bantal dan komunikator 2000 yang bentuknya mirip roket. Pantas saja Haji Husin menyebutnya roket-roketan. Baru saja akan mengirimkan kedua objek tersebut, sesaat sebelum menekan tombol enter, Ustad Addin tiba-tiba kebelet. Menyadari bahwa Ustad Addin akan keluar, Zidan yang duduk di depan pintu pun segera bersembunyi.

Zidan lalu menyelinap masuk ke kamar Ustad Addin. Zidan sangat takjub melihat bantal dan roket-roketan di tempat pengiriman. Ia jadi penasaran. Namun sebentar kemudian Ustad Addin masuk, Zidan bersembunyi lagi di balik bantal. Ustad Addin yang tidak menyadari keberadaan Zidan langsung saja mengucap basmallah, kemudian menekan tombol enter.

Pengiriman berhasil….

Zidan bersama kedua benda tersebut sampai di sebuah hutan….

Pada tahun 1945….

Ustad Addin yang sempat senang dan lega karena percobaannya berhasil seketika menjadi terkejut ketika menyadari bahwa Zidan ikut terkirim bersama bantal dan roket-roketan. Zidan juga bingung dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Namun, Ustad Addin menenangkan.

Baca Juga:  Lorong Waktu Episode 13, Musim 1: Sesuatu yang Tidak Kita Sukai Bisa Jadi Hal Baik

“Kamu jangan pergi jauh-jauh. Cari tempat aman untuk berlindung, Ustad akan segera memulangkan kamu.”

“Baik, Pak Ustad,” Kata Zidan.

Di ruangan lain, telepon berdering dan diangkat oleh Haji Husin. Telepon itu dari orang tua Zidan yang khawatir karena Zidan belum pulang mengaji.

Balik lagi ke hutan, Zidan ternyata tidak percaya Ustad Addin bisa melihat tingkah lakunya di hutan. Untuk mengetes, Zidan pun meletakkan bantal dan roket-roketan di tanah, lalu nungging dan bertanya kepada Ustad Addin, “Zidan lagi ngapain, ayo?”

“Zidan, jaga sopan santunmu!” tegur Ustad Addin.

“Hehe, maaf, Pak Ustad.”

Sebagai penutup Lorong Waktu episode 1, setelah menutup telepon tadi, Haji Husin mendatangi Ustad Addin. Samar, Haji Husin mendengar suara Zidan yang memanggil-manggil, tetapi Haji Husin tidak tahu Zidan ada di mana. Beberapa kali Haji Husin mencoba menengok ke layar komputer, tetapi dihalangi oleh Ustad Addin. Setelah diyakinkan oleh Ustad Addin, Haji Husin pun keluar dari kamar Ustad Addin.

Sementara itu, Zidan yang berada pada masa lalu bertemu dengan tiga orang pejuang yang diceritakan pada bagian awal tadi. Oleh mereka, Zidan disangka sebagai mata-mata tentara Jepang.

“Apa hubungannya sama tentara Jepang? Kayak zaman penjajahan aja,” kata Zidan.

“Persis. Persis sekali. Seorang pengkhianat bangsa, tidak pernah merasa dirinya dijajah. Tangkap dia! Buat ganjal perut kita,” perintah sang Komandan.

Di kamarnya, Ustad Addin dilanda cemas dan khawatir. “Ya Allah, apa yang harus kulakukan?”

Ikuti sinopsis Lorong Waktu musim 1 di sini serta tulisan Utamy Ningsih lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
4


Komentar

Comments are closed.