Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Kuliah S2 Tidak Ada Pertanyaan Receh dan Bodoh, Semuanya Berbobot!

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
23 September 2025
A A
Kuliah S2 Tidak Ada Pertanyaan Receh dan Bodoh, Semuanya Berbobot! Mojok.co

Kuliah S2 Tidak Ada Pertanyaan Receh dan Bodoh, Semuanya Berbobot! (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di artikel sebelumnya, saya menyebutkan kalau kuliah S2 itu wajib caper. Nah, salah satu sarana untuk caper adalah melalui keaktifan memberi pertanyaan dan pernyataan dalam kelas atau forum. Khusus untuk pernyataan, mungkin tidak jadi persoalan karena itu tanda seseorang berpengetahuan. Tapi, untuk pertanyaan, hal ini sering jadi masalah tersendiri.

Tidak sedikit mahasiswa S2 terjebak pada rasa takut perihal pertanyaannya diajukan. Apakah pertanyaannya receh? Cukup berbobot? Apakah dia akan terlihat bodoh? Rasa khawatir itu semakin besar ketika berada dalam kelas atau forum dengan tipe orang bermental predator. Orang yang sukanya meremehkan, merendahkan, dan menjustifikasi karena merasa lebih pintar. “Halah, pertanyaan macam apa sih itu,” begitu mungkin respon mereka.

ADVERTISEMENT

Padahal, dalam ekosistem S2, nggak ada pertanyaan bodoh atau receh. Semua yang dilontarkan adalah bentuk diskursus dan dialektika karena output dari magister adalah seseorang dapat menguji sebuah “thesis” (pernyataan umum).

Seorang S2, harus memosisikan ruang kelas bukan lagi tempat menampung jawaban tunggal yang benar, melainkan ruang untuk menguji asumsi. Ruang kelas bisa membuka perspektif baru dan melatih cara berpikir kritis. Dari situ, setiap pertanyaan, bahkan yang tampak “receh” atau “absurd” sekalipun, punya beberapa fungsinya tersendiri. Kita bedah satu per satu.

Saat kuliah S2, pertanyaan bisa membuka diskusi baru

Pertanyaan sederhana saat kuliah S2 nggak jarang bisa membuka cakupan diskusi yang lebih kaya. Misal, ketika ada pertanyaan, mengapa ilmu ini penting? Apa istimewanya ilmu ini? Toh belum teruji dalam menjawab persoalan makro negeri ini.

Kalau orang yang nggak punya kedalaman berpikir, mungkin pertanyaan ini bakal direspon, “Lah kalau gak penting, ngapain kamu kuliah jurusan ini?” Sebaliknya, ketika direspon dengan mental berdialekika, maka yang muncul adalah diskusi mendalam dari berbagai perspektif dari seisi kelas. 

Asal tahu saja, pertanyaan receh atau tidak itu sangat subjektif karena berangkat dari pengalaman dan kerangka berpikir yang diproses masing-masing. Padahal, itu sisi menariknya karena menambah keragaman sudut pandang di kelas. Apalagi S2 isinya orang dengan latar belakang berbeda (profesi, pengalaman riset, bahkan budaya).

Terkadang, seseorang bertanya justru karena sudah punya jawaban yang dia pegang selama ini. Mereka butuh validasi atau butuh pengujian secara akademik. Mereka ingin memastikan apakah ada jawaban versi lain yang bisa dikomparasikan atau tidak.

Baca Juga:

5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia aja, nggak usah jauh-jauh ke luar negeri

Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian

Mengulik kembali hingga ke fundamental

Pertanyaan yang naif saat kuliah S2 sering kali membuat seisi kelas kembali membuka materi atau teori fundamental yang mungkin telah dilupakan. Terlebih di dunia riset, kadang kita terlalu cepat bergerak ke teknis kompleks. Padahal ada asumsi dasar yang tak pernah dipertanyakan lagi. Dari hal naif pun, kita bisa merapikan logika dasar yang mungkin saja selama ini ditinggalkan.

Tentu saja pertanyaan-pertanyaan ini membuat seisi kelas, termasuk dosen benar-benar berpikir. Dosen bukan hanya sebagai pemberi jawaban, tapi bisa jadi pemantik untuk menstimulasi jawaban lain dari sesama mahasiswa.

Khusus untuk dosen, saya sangat suka mereka yang selalu menghargai dan antusias menjadi wadah pertanyaan di dalam kelas. Sebab, dosen seperti ini sedang menegakkan sejumlah nilai penting dalam ekosistem pendidikan, yaitu menghargai proses berpikir mahasiswa. Mereka membangun iklim akademik yang inklusif karena mahasiswa bisa nyaman bertanya tanpa khawatir dihakimi. Mereka jadi berani menguji pikiran mereka di ruang kelas tanpa takut dipermalukan.

Para dosen semacam ini menjadi fasilitator yang mengarahkan tanpa mematikan rasa ingin tahu dari mahasiswa S2. Sebab, tugas dosen bukan menjawab semua hal secara tuntas, tapi bisa mengarahkan. Mana yang perlu didalami lebih jauh, mana yang bisa diparkir dulu, dan bagaimana mengubah pertanyaan absurd menjadi riset yang masuk akal.

Semua hal di atas adalah impact positif dari membiarkan pertanyaan itu keluar begitu saja di dalam kelas. Kalau pertanyaan dianggap “bodoh” lalu diabaikan, kelas bisa berubah jadi ajang pamer kepintaran. Padahal, justru kerendahan hati dalam mengakui ketidaktahuan adalah pintu menuju diskusi yang otentik.

Tips untuk mahasiswa yang masih ragu

Supaya kalian tetap pede dengan pertanyaan sereceh apapun, saya punya setidaknya 5 rules sebelum bertanya.

Pertama, analisis urgensi pertanyaan kalian. Tanyakan ke diri sendiri, kalau saya gak nanya ini, apa yang hilang dalam kelas? Kalau jawabannya,  “Saya akan tetap bingung, atau kelas akan kehilangan sudut pandang tertentu,” maka pertanyaan itu punya urgensi. Tanyakan!

Kedua, lihat potensi multi jawaban. Sederhananya, kalau pertanyaan receh itu punya banyak versi dari berbagai sumber, maka pertanyaan itu bernilai diskusi. Lanjutkan pertanyaan itu!

Ketiga, coba hubungkan dengan materi, pengalaman, atau fenomena empiris. Ini penting supaya menjadi dasar argumen kalau pertanyaan yang disampaikan gak receh.

Keempat, mainkan diksi pertanyaan. Kalau khawatir terdengar absurd, bisa diawali dengan framing, “Saya masih awam di bagian ini, tapi saya ingin tahu bla bla bla,” atau, “Mungkin pertanyaan saya agak sederhana, tapi bagaimana kalau bla bla bla.” Framing seperti ini membuat pertanyaan terlihat sebagai inisiatif belajar, bukan klaim kebenaran.

Kelima, pertanyaan sama dengan kontribusi. Coba deh, sudah capek-capek kuliah S2, kita ubah perspektifnya. Daripada khawatir dianggap bodoh, lihatlah pertanyaan sebagai kontribusi ide dan masalah di kelas. Barang kali, ada mahasiswa lain juga punya kebingungan serupa tapi malah atau nggak berani menyampaikan.

Pada akhirnya, pertanyaan adalah sumber dari lahirnya berbagai macam pembaharuan di berbagai bidang. Perlu diingat, para ilmuwan hebat di dunia ini selalu berangkat dari pertanyaan paling receh, dan menemukan jawabannya dengan melalui banyak proses perenungan dan diskusi dengan banyak orang. 

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 September 2025 oleh

Tags: Kuliahkuliah s2magisterMahasiswamahasiswa S2pertanyaanS2
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

UT universitas terbuka mahasiswa cerita dinamika ipk jelek drop out syarat masuk gimana cara mendaftar mojok

Universitas Terbuka: Masuk Gampang, Keluar Susah, dan Udah School from Home dari Dulu

11 April 2020
6 Kebohongan tentang Universitas Terbuka (UT) yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

3 Kebebasan yang Bisa Didapatkan Mahasiswa Universitas Terbuka

29 Desember 2022
4 Hal yang Membuat Saya Malu Mengaku Kuliah di Jurusan Jurnalistik Mojok.co

4 Hal yang Membuat Saya Malu Mengaku Kuliah di Jurusan Jurnalistik

21 November 2023
UNJ Kampus yang Nggak Ramah Pejalan Kaki, tapi Ramah ke Pengendara Mobil Mojok.co

UNJ Kampus Negeri yang Nggak Ramah Pejalan Kaki, tapi Ramah ke Pengendara Mobil

13 Februari 2024
Bikin Plang, Proker KKN Primitif yang Paling Nggak Guna

Bikin Plang, Proker KKN Primitif yang Paling Nggak Guna

23 September 2022
3 Tipe Mahasiswa yang Nggak Cocok Kuliah di UIN Palembang uin jogja, uin malang

3 Tipe Mahasiswa yang Nggak Cocok Kuliah di UIN Palembang

14 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan saya suka curhat ke AI, nyaman karena tidak dihakimi dan tidak menambah beban hidup orang lain Mojok.co

Alasan saya suka curhat ke AI, nyaman karena tidak dihakimi dan tidak menambah beban hidup orang lain

11 Agustus 2026
5 Kuliner Madura selain Sate yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

Jangan cuma mengingat stereotip negatifnya, nyatanya orang Madura itu jago banget masak

10 Agustus 2026
Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian Mojok.co

Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian

8 Agustus 2026
Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh boso jonegoroan

Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh

11 Agustus 2026
Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang kalah sama Indomaret (Wikimedia Commons)

Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang jualan barang entar pasti kalah sama Indomaret

7 Agustus 2026
Kisah bapak saya cari kerja bikin iri karena loker banyak dan nggak ribet, tidak seperti zaman sekarang Mojok.co

Kisah cari kerja di generasi bapak saya bikin iri karena loker banyak dan nggak ribet, tidak seperti zaman sekarang

13 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.