Kisi-kisi Memilih Tembakau Linting bagi Pelinting Pemula – Terminal Mojok

Kisi-kisi Memilih Tembakau Linting bagi Pelinting Pemula

Artikel

Prabu Yudianto

Seperti dihujam truk sales rokok, saya terenyak dengan kenaikan cukai rokok pada 2021. Kurang komplit apa, tahun depan UMR tidak naik pula. Para perokok tentu ketar-ketir membayangkan masa depan. Apakah rokok mereka masih terjangkau? Salah satu alternatif untuk tetap berasap adalah dengan merokok lintingan. Rokok yang “do it yourself” banget ini memang menarik. Masih banyak harga tembakau linting yang terjangkau. Selain itu, tembakau linting hari ini banyak variasi.

Namun, memulai menjadi pelinting tidak semudah membeli rokok di warung. Cukup sulit untuk menemukan tembakau yang cocok dinikmati. Belum lagi pilihan yang sangat beragam. Seringkali pelinting pemula patah hati pada tembakau yang dibeli. Akhirnya? Dicampakkan dan balikan dengan rokok yang makin mahal.

Nah, sebagai pelinting sejak 2016, saya terketuk untuk membantu Anda semua menikmati lintingan. Dan, kunci untuk menikmati lintingan adalah memilih tembakau yang tepat. Berikut kisi-kisi dalam memilih tembakau linting.

#1 Pahami rokok yang biasa anda konsumsi

Sangat jarang ada pelinting yang tidak berangkat dari rokok pabrikan. Tentunya, yang diharapkan dari rokok linting adalah mirip dengan rokok yang biasa dikonsumsi. Maka dari itu, pahami rokok Anda dahulu.

Apakah rokok Anda punya karakter gurih? Atau wangi? Mungkin spicy? Atau malah pahit dan cenderung tawar. Lalu, apakah rokok Anda itu mild, bold, atau standar? Pokoknya pahami dulu kriteria Anda sebelum berpindah ke lain hati.

#2 Kenali karakter tembakau linting per daerah

Nah, ini agak rumit. Setiap daerah punya karakter tembakau yang berbeda. Bahkan satu daerah saja bisa punya banyak ragam tembakau. Tidak ada cara yang lebih efektif dari mencoba semua tembakau. Masalahnya, apa anda tidak malu mencoba semua tembakau sampel dan cuma beli sebungkus yang seharga pertalite itu?

Tapi, saya coba beri logika sederhana yang sifatnya pukul rata. Tentu berdasarkan pengalaman pribadi. Tembakau dari Jawa Barat punya cita rasa yang ringan, gurih, dan sedikit spicy. Tembakau Jawa Tengah cenderung pahit, berat, dan punya aroma yang kuat. Tembakau Jawa Timur cenderung nyegrak, tidak terlalu berat, dan harum.

Tembakau luar Jawa sering mendekati karakter tembakau Jawa Timur. Tembakau asap seperti soppeng dan garangan punya karakter smooky dan sedikit asam. Ngomong-ngomong, ini kita bicara tembakau tanpa saus ya. Jika sudah ditambahkan saus dan branded, karakter rasanya akan makin luas lagi.

#3 Jangan terjebak desain kemasan

Banyak tembakau linting bermerk menggunakan desain kemasan yang mirip rokok pabrikan. Sayang sekali, desain ini tidak benar-benar mewakili rasa tembakau di dalamnya. Entah berapa kali saya menertawai kawan yang kecewa karena berpaku pada desain kemasan tembakau yang dia beli.

Cara paling aman adalah mengamati dari mana tembakau tersebut berasal. Contohnya tembakau mole. Meskipun menggunakan desain ala rokok pabrikan, tetap saja tembakau mole punya karakter selayaknya tembakau di tanah kelahirannya: Jawa Barat.

Seandainya tembakau tersebut memang dipromosikan mirip rokok pabrikan, ingat ini: tidak ada tembakau yang punya rasa persis seperti rokok pabrikan. Citarasa dari rokok pabrikan berasal dari kombinasi tembakau, saus, cengkeh, rempah, kertas, bahkan filter. Jika hanya bermodal tembakau dan saus saja, tidak akan bisa mirip.

Tapi, salah beli karena desain ini penuh dengan pesan moral. Ingat kata pepatah: jangan menilai tembakau dari wadahnya.

#4 Tidak ada salahnya mencoba tembakau linting pabrikan

“Tembakau pabrikan itu sampah!” Teman saya pernah mengutarakan pernyataan sok keras itu. Kebetulan blio adalah penikmat tembakau natural garis keras. Tembakau natural didefinisikan sebagai tembakau hasil petani yang belum ditambah saus ataupun cengkeh.

Namun, saya punya pendapat lain. Tembakau linting pabrikan tidak seburuk pendapat para tobacco snob ini. Tembakau linting pabrikan telah diolah sedemikian rupa untuk memberi cita rasa yang pas bagi banyak kalangan.

Jadi, tak perlu sok-sokan “naturalis” dalam tembakau. Ingat, merokok adalah menikmati nikotin dalam balutan rasa tembakau berikut tambahannya. Tak perlu mengotak-kotakkan tembakau seperti kopi di masa lalu.

#5 Mahal bukan berarti sempurna

Nah, logika ini memang menyebalkan dari semua lini. Dari urusan kopi, pakaian, gawai, sampai air putih botolan dipaksakan masuk logika ini. Pokoknya, kalau mahal pasti paling enak. Sayang sekali, tembakau tidak pernah demikian.

Kenikmatan tembakau linting itu sangat personal. Tidak semua orang bisa menikmati tembakau yang harganya ratusan ribu. Seperti salah satu teman saya, dia memilih tembakau yang seharga 2 liter bensin per 250 gram nya daripada tembakau 30 ribuan seberat 25 gram.

Demikianlah, kisi-kisi ini memang hanya mampu mengulik permukaan dari dunia tembakau. Namun, keputusan tetap ada di tangan anda. Yang penting, jangan gegabah dalam memilih tembakau linting. Banyak hati yang terluka ketika melihat tembakau dibuang karena “tidak enak” dari para petani, pedagang, sampai penikmat tembakau bergaji UMR Jogja seperti saya.

Photo by Cottonbro via Pexels.com

BACA JUGA Malioboro Tanpa Kendaraan Bermotor: Memangnya Sudah Siap? dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Baca Juga:  Tawuran di Manggarai: Perjalanan KRL Terganggu, Saya Pasrah Menunggu

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
4


Komentar

Comments are closed.