Seandainya Saya Menjadi Seorang Perokok

Artikel

Seto Wicaksono

Saya terlahir di lingkungan keluarga perokok berat. Dari mulai kakek, nenek, om, tante, semuanya merokok. Bahkan, saudara yang usianya di bawah saya saja sudah mulai merokok—walau masih sekolah. Saya tidak ada masalah dengan seorang perokok, namun saya cukup yakin—bagi seorang perokok pasif—tidak ada yang menyukai bau asap rokok yang terbilang sangat menyengat hidung—tak terkecuali dengan saya.

Saya masih berteman baik dengan teman-teman yang memang perokok berat. Mungkin ini penilaian bias saya, tapi saya merasa kebanyakan dari mereka bagi saya asik dan seharusnya tidak mungkin pelit karena dari mulai korek dan rokok saja mereka selalu sharing satu sama lain. Ditambah kopi yang selalu mendampingi para perokok sebagai pelengkap. Semua seakan menyatu dengan syahdu.

Saya yang belum pernah merokok terkadang merasa canggung melihat bagaimana hampir semua teman fasih saat menghisap tiap batangan rokok. Saya seperti anak lugu yang tidak tahu apa-apa. Saat ini rasanya sudah menjadi pemandangan biasa ketika melihat para wanita merokok. Oleh karena itu, kadangkala saya merasa cupu. “cewek aja merokok, masa gue ngga”, pikir saya.

Namun setelah saya pikir lagi, masa tingkat keren atau cupunya seseorang dinilai dari merokok atau tidak, sih. Banyak teman yang meminta agar saya mencoba barang satu puntung rokok saja, mereka pun mulai bertaruh satu sama lain jika saya mau menghisap dan menghabiskan satu batang rokok—ada banyak hal yang akan mereka lakukan.

Hal-hal yang akan beberapa teman lakukan jika pada akhirnya saya merokok:

1. Saat nongkrong bersama hanya mengenakan celana dalam saja
2. Teman saya yang beragama Nasrani akan berpuasa tujuh hari berturut-turut
3. Mengecat tubuh dengan warna hijau sampai mirip dengan Hulk
4. Membersihkan lingkungan di sekitar rumah satu RT
5. Menjadi asisten di rumah saya selama satu bulan penuh

Baca Juga:  "Konser Untuk Republik" Itu Solusi Omong Kosong

Mereka semua sudah bersumpah akan melakukan hal tersebut tanpa paksaan. Tentu, taruhan ini akan menjadi hiburan tersendiri bagi kami semua. Mereka melakukan hal yang terbilang ekstrim seperti yang disampaikan karena cukup yakin, saya tidak akan merokok sama sekali—yang memang sudah menjadi komitmen bagi diri sendiri.

Meskipun begitu, sampai dengan saat ini—tanpa maksud untuk keren-kerenan—ada masa di mana saya merasa penasaran dan ingin mencoba bagaimana rasanya menghisap rokok sekali saja dalam hidup. Rasanya ada sensasi tersendiri saat melihat bagaimana perokok saat membeli satu bungkus rokok—dengan posisi bungkus yang dibalik—lalu dibenturkan dengan paha. Katanya sih agar tembakaunya turun dan merata dalam satu batang rokok.

Selain itu, saya juga ingin tahu bagaimana rasanya kehilangan korek api—terlebih saat betul-betul dibutuhkan—jika melihat teman-teman saya selalu misuh saat kehilangan korek, saya menjadi cukup yakin korek menjadi hal yang penting dalam merokok—bahkan bisa jadi lebih penting dari rokok itu sendiri.

Bicara soal rokok, saya juga punya teman perokok yang hanya mengandalkan korek jika ingin merokok. Dengan penuh percaya diri dia berkata, tidak punya rokok bukan masalah—sebab bisa minta kepada teman yang lain—yang penting ada korek yang selalu dibawa ke mana saja. Tipe perokok seperti ini yang biasanya jadi bahan pergunjingan teman-teman saya di tempat nongkrong.

Dalam hal toleransi soal asap rokok, mungkin beberapa teman saya dapat dikatakan yang terbaik. Bukan tanpa alasan, saat mereka merokok dan sedang ada saya di tempat yang sama, mereka selalu mengalah untuk berpindah tempat atau asapnya selalu dijauhkan dari saya—dengan cara dikipas-kipas. Memang tidak akan sepenuhnya steril dari asap rokok tapi setidaknya hal tersebut membuat saya yakin bahwa rasa saling menghargai antara perokok aktif dan pasif bukan hal yang mustahil.

Baca Juga:  Orang yang Nggak Mau Pakai Masker dan Bilang Kalau itu Haknya, Masuk Akal Nggak sih?

Mungkin terkesan diplomatis, tapi saya sudah berjanji terhadap diri sendiri untuk tidak merokok karena saya mencintai diri sendiri juga keluarga. Agar istri dan anak saya kelak juga tidak risih terhadap bau asap rokok yang selalu menempel di pakaian yang saya kenakan.

Ya, sesederhana itu. Namun ketahuilah, kalaupun saya melanggar janji saya sendiri bukan berarti ingin merusak apalagi tidak mencintai diri sendiri—lebih kepada hanya mengumbar janji laiknya politisi serta ingin melihat secara langsung bagaimana teman-teman saya menepati janji.

---
10


Komentar

Comments are closed.