Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Sesungguhnya Kegentingan Untuk Menerbitkan Perppu Sudah Terpenuhi

Muhammad Ikhdat Sakti Arief oleh Muhammad Ikhdat Sakti Arief
11 Oktober 2019
A A
menerbitkan perppu

menerbitkan perppu

Share on FacebookShare on Twitter

“Ragu-Ragu Perppu” itu tema pembahasan di acara Mata Najwa yang lalu. Sebenarnya arah pembicaraan dari tema ini sudah jelas—tentang penerbitan Perppu untuk membatalkan RUU KPK yang sudah terlanjur disahkan itu. Tapi entah kenapa pembahasannya malah sedikit nyerempet tentang penghinaan institusi DPR yang terhormat. Mulia betul sepertinya DPR ini sehingga tidak bisa disinggung. Padahal kalau mau hitung-hitungan, DPR ini lebih butuh dewan pengawas daripada KPK.

Saya yang menonton acara Mata Najwa di televisi tidak senang dengan Arteria Dahlan. Bukan masalah keberpihakannya terhadap RUU KPK yang sudah disahkan itu. Tapi lebih kepada attitude-nya saat berdebat dengan para panel yang mendukung diterbitkannya Perppu.

Arteria Dahlan ini menggebu-gebu betul dalam menyampaikan argumennya. Yang mengecewakan adalah dia terkesan berbicara dengan penuh emosi. Sampai menunjuk-nunjuk Prof. Emil Salim. Bahkan mengatakan kalau Prof. Emil itu sesat. Belum lagi dia terus memotong pembicaraan dari Prof. Emil dan dua panelis  yang lain. Enggan untuk mendengarkan, tapi meminta didengarkan ketika berbicara. Dia begitu defensif ketika institusi DPR disudutkan. Seperti tidak terima betul ketika dijelek-jelekkan.

Yang salah dari Arteria Dahlan adalah etikanya dalam berdebat. Dia terus meninggikan dirinya dan menganggap orang lain tidak ada apa-apanya. Caranya berbicara dengan Prof. Emil sambil menunjuk-nunjuk sama sekali nihil etika. Sepandai apapun anda wahai anggota dewan yang terhormat, anda pasti pahan yang namanya sopan santun. Masa berdialog dengan orang yang jauh lebih tua dengan cara yang seperti itu. Terlepas dari apa yang anda bicarakan itu benar ataupun salah.

Kalau mbak Nia Perdhani menginginkan Arteria Dahlan beradu argumen dengan Haris Azhar atau Mahfud MD, saya malah lebih senang kalau Arteria ini berhadapan dengan Rocky Gerung. Terlepas dari fakta kalau sebenarnya Rocky Gerung ini juga tidak kalah menyebalkannya, harus saya akui Rocky pandai memainkan emosi lawan debatnya. Saya bisa membayangkan betapa dongkolnya Arteria Dahlan ketika dikatakan “dungu” oleh Rocky Gerung.

Lanjut bahas soal substansi pembicaraan di acara Mata Najwa malam itu. Pak Jokowi nyatanya memang sudah mempertimbangkan untuk menerbitkan Perppu. Imbas dari aksi massa yang dilakukan oleh mahasiswa. Beliau juga sudah mendengarkan saran-saran dari para tokoh yang memang paham betul dengan upaya pelemahan KPK dengan UU KPK yang baru. Walaupun fakta tersebut tersebut terus dibantah oleh para anggota dewan yang terhormat.

Ada berbagai cara yang dilakukan untuk menggagalkan presiden menerbitkan Perppu. Walaupun mereka terus bilang kalau mereka sama sekali tidak menolak penerbitan Perppu. Argumen yang terus diikuti dengan “tapi”.

Pertama, terkesan ada ancaman—walaupun mereka bilang itu sekadar mengingatkan/himbauan—kalau presiden bisa dimakzulkan jika menerbitkan Perppu. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh salah seorang petinggi partai. Faktanya, menerbitkan Perppu tidak menjadi syarat untuk bisa memakzukan presiden. Juga tidak ada presiden yang dimakzulkan hanya karena menerbitkan Perppu. Uniknya, pemakzulan hanya bisa dilakukan oleh DPR. Hmm, lah kok kayak paradoks. Lari-larinya malah ke DPR lagi.

Baca Juga:

Gaji Guru 25 Juta per Bulan Itu (Baru) Masuk Akal, Kualitas Baru Bisa Ditingkatkan kalau Sudah Sejahtera!

RUU TNI Disahkan, dan Kita Harus Lebih Kuat, Makin Kuat, karena Kita Tak Punya Siapa-siapa untuk Dipercaya

Kedua, DPR terus berkilah kalau masih ada jalan konstitusional yang lain. Pertama, legislatif review. Prosesnya tidak sebentar. Butuh waktu lama. Dan yang akan membahasnya yha DPR lagi. Sama saja bohong toh.? Wong sleuruh fraksi setuju dengan Revisi UU KPK. Kedua, judicial review. Ini yang terus didengungkan oleh DPR. Yang kemungkinannya, MK tetap akan meloloskan UU tersebut selama tidak bertentangan dengan konstitusi walaupun isinya bermasalah dan tidak disukai rakyat—seperti yang dikatakan Mahfud MD. Dan hasilnya kita sudah tahu bersama.

Dengan diloloskannya Revisi UU KPK ini oleh MK, DPR akan punya argumen baru tentang tidak perlunya Perppu. MK saja sudah menerima, berarti memang tidak ada masalah dengan UU KPK ini.

Hal tersebutlah yang kemudian menjadi alasan kenapa satu-satunya harapan untuk tidak meresmikan Revisi UU KPK adalah dengan menrbitkan Perppu. Tapi lagi-lagi mereka berkilah. Untuk apa diterbitkan Perppu kalau nantinya DPR juga bisa menolaknya? Tapi walaupun nantinya Perppu ini ditolak oleh DPR, setidaknya kita tau mana yang memihak kepada publik, mana yang tidak.

Yang pro terhadap RUU KPK juga menjadikan “ihwal kegentingan yang memaksa” sebagai senjata. Mereka menganggap kegentingan tersebut belum ada. Mereka tidak sadar, kalau mereka juga mensahkan Revisi UU KPK dengan berbagai permasalahannya. Pertama, pembahasan Revisi UU KPK tidak masuk dalam Prolegnas 2019. Ketika ditanya apa urgensi dari RUU KPK ini, jawaban dari DPR tidak pernah pasti. Selalu berputar-putar dalam retorika, khas para politisi. Kedua, ada masalah pengetikan naskah undang-undang. Sekelas institusi DPR yang mulia ini kok bisa typo sih? Ketiga, pembahasan hanya dilakukan dalam kurun waktu dua minggu dengan minim mendengarkan masukan publik dan praktisi anti korupsi. Semua itu menunjukan kalau pengesahan RUU KPK oleh DPR terkesan buru-buru dan dipaksakan.

Lagian, kenapa para (so-called) wakil rakyat ini tidak bisa melihat keinginan publik sebagai kegentingan untuk menerbitkan Perppu. Ketika para aktivis anti korupsi betul-betul menolak Undang-Undang ini. Apa memang suara rakyat ini sudah tidak penting lagi. Menurut survey, lebih dari 70 publik menganggap Revisi UU KPK melemahkan KPK itu sendiri. Mereka juga setuju dengan diterbitkannya Perppu. Apakah mereka-mereka yang rela babak belur dalam melakukan protes tidak cukup menjadi kegentingan untuk mengeluarkan Perppu. Apakah nyawa yang hilang demi meperjuangkan hal ini tidak cukup menjadi urgensi untuk membatalkan RUU KPK? (*)

BACA JUGA Memang Cuma Yang Terhormat Arteria Dahlan CS yang Tahu, Lainnya Tempe atau tulisan Muhammad Ikhdat Sakti Arief lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2019 oleh

Tags: arteria dahlandemo mahasiswadpremil salimmata najwaragu ragu perppuruu kpkuu kpk
Muhammad Ikhdat Sakti Arief

Muhammad Ikhdat Sakti Arief

Nama saya Ikhdat, seorang pengangguran (semoga cepat dapat kerja) pecinta senja, penikmat kopi (biar dibilang anak indie) yang suka nulis.

ArtikelTerkait

revisi uu kpk komisi pemberantasan korupsi mojok

Perihal Revisi UU KPK

18 September 2019
rakyat marah

Pak Jokowi, Jangan Buat Rakyat Marah Lagi

24 September 2019
Mantan Saya dan DPR Nggak Ada Bedanya, Sama-sama Bikin Kecewa MOJOK.CO

Mantan Saya dan DPR Nggak Ada Bedanya, Sama-sama Bikin Kecewa

23 Juli 2020
Anggota DPR, Profesi yang Paling Cocok dan Sesuai dengan Gaya Hidup Gen Z

Anggota DPR, Profesi yang Paling Cocok dan Sesuai dengan Gaya Hidup Gen Z

6 Desember 2023
pelajar STM #STMMelawan

#STMMelawan: Dua Sisi Para Pelajar Dalam Aksi Demo Menolak RUU KUHP

26 September 2019
jadi musisi

Jadi Musisi Itu Lebih Menjanjikan Daripada Jadi Presiden

19 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Embek-Embek Makanan Khas Tegal Paling Mencurigakan, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba Mojok.co

Embek-Embek Makanan Khas Tegal yang Nama dan Rasanya Sama-sama Aneh, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba

12 Maret 2026
Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026
7 Rekomendasi Drama China yang Bisa Ditonton Tanpa Perlu Mikir (Pexels) tiktok

5 Alur Cerita Drama China Pendek di TikTok yang Monoton, tapi Sering Bikin Jam Tidur Saya Berantakan

12 Maret 2026
Kontrakan di Jogja itu Ribet, Mending Sewa Kos biar Nggak Ruwet, Beneran   pemilik kos

4 Kelakuan Pemilik Kos yang Bikin Jengkel Penyewanya dan Berakhir Angkat Kaki, Tak Lagi Sudi Tinggal di Situ

13 Maret 2026
Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Pahit (Unsplash)

Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Lebih Pahit dari Obat Puyer

12 Maret 2026
motor Honda Stylo 160: Motor Matik Baru dari Honda tapi Sudah Disinisin karena Pakai Rangka eSAF, Bagusan Honda Giorno ISS Honda motor honda spacy

Honda Stylo Adalah Motor Paling Tidak Jelas: Mahal, tapi Value Nanggung. Motor Sok Retro, tapi Juga Modern, Maksudnya Gimana?

15 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 
  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.