Mari Waspada Kepada Negara Untuk 5 Tahun Ke Depan

Ketua DPR, DPD dan MPR sudah terpilih. Presiden sedikit lagi dilantik. Dengan kualitas mereka sekarang, gimana ya nasib negara kita lima tahun ke depan?

Artikel

Andi Kamal Reza

Ketua DPR sudah terpilih. Ketua DPD Juga sudah. Presiden sedikit lagi dilantik. Ketua MPR hari ini baru aja terpilih. Dan gue ngerasa kalau kita harus harus waspada kepada negara untuk lima tahun ke depan…

Seperti yang kita tahu, di dalam suatu negara, perlu adanya mekanisme check and balance (bahasa sederhanya; saling mengawasi dan mengoreksi). Maka dari itu, dibentuklah Trias Politica sebagai wujud “Tubuh Pemerintahan”, yakni; Badan Eksekutif, Badan Legislatif, dan Badan Yudikatif

Wokeh. Jadi Eksekutif kita sudah hampir pasti: Presiden serta jajarannya (staf dan menteri terkait—yang belum diumumkan).

Legislatif sudah terpilih komplit, yakni DPD, DPR, dan MPR. Ketua dan anggotanya sudah hampir pasti dilantik (DPR malah sudah pelantikan kemarin).

Untuk yudikatif sendiri masih tetep dengan orang yang sama dari tahun 2017.

Pertanyaannya adalaaaah: “Apakah ketiga elemen tersebut sejauh ini sudah memenuhi harapan rakyat?” Minimal secara kompetensi dan akuntabilitas individunya. Sederhananya sih, apakah orang-orang yang terpilih di tiga lembaga tadi adalah orang yang benar-benar tepat untuk menjalankan negara? Biar tahu jawabannya, mari kita cek satu per satu.

Catatan: Silakan siapkan tissue jika Anda nantinya ingin menangis.

Mari kita mulai dengan DPD kita yg baru: La Nyalla Mattalitti. Keren namanya kayak Rapper; Litty. LANJUT!

Udah tahu dia siapa? Gue kasih tahu ya… LNM ini bisa dibilang banyak kasusnya di republik ini. Pas jadi Ketua Kadin Jatim, dia jadi tersangka dana hibah pembelian IPO Bank Jatim sebesar 5,3M. Wow. Di tahun yang sama (September 2016) dia juga terlibat kasus pencucian uang oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Jaksa penuntut umum nuntut LNM 6 tahun penjara dengan denda 500 juta subsider 6 bulan penjara. Hebatnya, Desember 2016 doi divonis bebas oleh pengadilan. Hmmm.

Oh iya sebagai tambahan, di tahun 2015, doi juga pernah dimintai keterangan sama KPK soal proyek RS Unair di Surabaya, pernah bilang Jokowi PKI di Surat Kabar Obor Rakyat, dan hal kontroversial lain. Dan kini beliau akan duduk dengan nyaman  menjabatan Ketua DPD RI sampai lima tahun ke depan.

Baca Juga:  Jangan Gunakan Kepintaran Kita Untuk Berdebat Dengan Orangtua

Mari kita lanjut dengan DPR. Puan Maharani jadi Ketua DPR. Shock? Nggak. Ya cuma, nanya aja. Kenapa mesti Ibu Puan yang dipilih?

Pertanyaan ini nampaknya wajar-wajar aja muncul di publik karena selain prestasinya nemenin pak Jokowi resmiin jalan tol, prestasi Mbak Puan selama ini belum terdengar beritanya.

Gara-gara ini juga keterpilihan Mbak Puan sebagai perempuan pertama yang jadi ketua DPR RI cukup dipertanyakan. Jangan-jangan terpilihnya Mbak Puan semata-mata hanya karena beliau anak dari ketua partai. Meskipun ya sebenarnya wajar-wajar aja sih, toh ini kan hak PDIP sebagai partai dengan perolehan suara tertinggi di DPR.

Lanjut ke Ketua MPR terpilih. Bapak Bambang Soesatyo. Namanya gue pikir nggak tenar-tenar banget di telinga awam. Tapi saat kasus E-KTP mencuat, Novel Baswedan pernah sebut nama beliau karena terindikasi pernah mengancam saksi kasus atas nama Miryam S Haryani untuk cabut BAP di persidangan. Beliau juga pernah disebut Nazarudin (Mantan Bendum Demokrat) kalo beliau tahu kasus pengadaan alat simulator SIM yang beberapa tahun lalu heboh. Tahun 2017 juga beliau pernah dipanggil jadi saksi sama KPK untuk tersangka E-KTP atas nama Anang SS, tapi nggak datang karena alasan acara partai.

Itu baru legislatifnya. Gimana dengan eksekutifnya?

Kecurigaan ini gue pikir wajar muncul terhadap pemerintah. Khususnya, dalam penanganan beberapa kasus besar seperti kasus HAM (98, Novem Baswedan, Munir) yang tidak terselesaikan, Papua, intoleransi beragama, kekerasan seksual, pelemahan KPK, UU Agraria, hak buruh, dan lain sebagainya.

Belum lagi orang-orang di belakang pemerintah seperti Wiranto dan Luhut—dengan semua pernyataan dan tindakan kontroversial mereka—yang selama ini terlihat lebih banyak tampil dari presiden. Eh apa ini perasaan gue doang?

Baca Juga:  RUU KPK Adalah Bukti Betapa Progresifnya DPR dan Presiden Kita

Untuk MPR sendiri gua kurang paham ya, soalnya masih orang lama. Tapi, let’s see ke depan negara ini mau dibawa ke mana dan kayak gimana—dengan kualitas DPR yang anggotanya kayak Mulan Jameela dan Yahya Zaini. Oh iya Yahya Zaini ini pernah punya skandal video XXX sama pedangdut Maria Eva. Skandal ini sempat diabadikan sama 8ball dengan judul “DPR Bergoyang”

Dengan seperti itu kayaknya kita nggak perlu heran-heran amat kalau anak kecil bawa bendera ISIS dibiarin, anak kecil main bulu tangkis dilarang. Tetek Shizuka disensor, tapi sinetron berantem dan mayat keaduk semen dibiarin. Iuran BPJS naik drastis, daya beli Buruh jadi turun, orang bangun gereja dilarang. Duh.

Gua yakin sih selama kita masih sehat dan saling jaga, kita bisa bantu ngejaga masa depan Republik ini ke depan. Gue masih yakin kita semua masih on track, dengan dukungan warga ke pergerakan Mahasiswa aja misal. Itu heartwarming banget. Semoga kita masih tetap waras ke depan.

Lucu ketika ada yang bilang, “Perasaan lo aja kali”, “Ini mah giring opini”, “Berita positif juga angkat dong”, Here’s the thing. Gue udah bilang dari awal—kudu waspada—, itu himbauan persuasif biasa. Gua paparin fakta dan opini gua, mau ikut silahkan. Kalau mau cari yang positif-positif, minta sama BuzzeRp aja sana.

BACA JUGA Indonesia Lagi Lucu-lucunya… atau tulisan Andi Kamal Reza lainnya. Follow Twitter Andi Kamal Reza.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
11

Komentar

Comments are closed.