'Keep Your Hand Off Eizouken', Anime Pemenang Cruncyhroll Award yang Wajib Ditonton – Terminal Mojok

‘Keep Your Hand Off Eizouken’, Anime Pemenang Cruncyhroll Award yang Wajib Ditonton

Artikel

Raynal Arrung Bua

Crunchyroll Anime Award atau lebih umum disingkat sebagai CR Award baru saja mengumumkan pemenang dari kategori anime-anime terbaik pada 2020. Dari banyaknya kategori yang dibuka buat penggemar anime memilih secara virtual, Jujutsu Kaisen berhasil membawa pulang tiga penghargaan termasuk Anime Terbaik 2020. Cerita menarik dan adegan laga ciamik membuat Jujutsu Kaisen menjadi salah satu anime paling populer di tahun 2020. Tidak mengejutkan jika banyak orang telah memprediksi kemenangannya di kategori Anime Terbaik.

Namun, menurut saya ada dua kategori yang dimenangkan oleh kuda hitam, yaitu animasi terbaik dan sutradara terbaik. Pada pengumuman hari Jumat lalu, Keep Your Hand Off Eizouken berhasil memboyong penghargaan animasi terbaik. Sedangkan sutradara anime favorit saya, Masaaki Yuasa berhasil memboyong penghargaan sutradara terbaik. Ini penghargaan kedua Yuasa setelah sukses menembus ranah arus utama anime dengan serial Devilman Crybaby pada 2018.

Kemenangan ini terjadi hampir bersamaan dengan penghargaan Tokyo Anime Award 2021 yang memberikan gelar Keep Your Hand Off Eizouken sebagai anime terbaik tahun 2020. Jika CR Award ditentukan berdasarkan voting penggemar anime di internet, Tokyo Anime Award ditentukan oleh dewan juri dari kalangan industri anime. Kemenangan dobel ini menunjukkan bahwa anime ini mendapat pengakuan dari kalangan profesional dan juga penggemar anime biasa.

Jadi sebenarnya Keep Your Hand Off Eizouken itu anime apa sih? Anime ini bercerita tentang klub animasi amatir bernama Eizouken yang dibentuk oleh tiga orang siswi SMA: Asakusa Midori, Tsubame Mizusaki, dan Sayaka Kanamori. Bersama mereka berusaha membuat anime pendek mereka sendiri.

Asakusa adalah seorang pecinta anime dengan passion dalam menggambar lanskap dan menulis cerita fantasi. Mimpinya adalah bisa menyutradarai anime karyanya sendiri. Tsubame adalah seorang model dengan cita-cita menjadi animator. Sedangkan Sayaka sebenarnya bukan penggemar anime tapi sebagai teman Asakusa dan orang yang memiliki intuisi bisnis, dia menawarkan jasanya sebagai produser.

Bisa dibilang Eizouken adalah surat cinta terhadap semua bentuk animasi yang pernah ada. Penonton diajak untuk mendalami seluk beluk produksi anime. Termasuk trik dan permasalahan apa yang dihadapi animator di belakang layar. Semua adegan produksi anime di Eizouken divisualisasikan secara menarik agar mudah dicerna penonton.

Misalnya saat proses storyboarding, penonton diajak oleh para karakternya untuk langsung masuk ke dalam dunia anime yang mereka sedang ciptakan. Lewat cara itu, serial ini berusaha menjelaskan istilah seperti frame per second & inbetweening dengan cara yang mudah dicerna penonton awam. Namun, yang membuat Eizouken berada diatas rata-rata dari anime lainnya tentang produksi animasi, serial ini nggak segan menunjukkan problematika dalam pembuatan anime. Contohnya situasi animator kepepet jadwal produksi, silang pendapat sutradara dan produser, hingga beda visi penonton dengan animator.

Dari sinilah salah satu topik paling menarik yang dibahas Eizouken muncul, yaitu perbedaan visi soal apa itu animasi bagus antara produser dan sutradara. Sebagai produser dan asisten produksi, Sayaka melihat proyek anime dari klub Eizouken melalui perspektif bisnis. Baginya kesuksesan suatu anime dilihat dari banyaknya orang yang rela mengeluarkan uang untuk membeli produk fisik dari anime tersebut.

Berbanding terbalik dengan Tsubame dan Asakusa yang membuat anime demi kepuasan pribadi diri sendiri. Bagi Asakusa, membuat anime berarti merealisasikan ide cerita miliknya dengan segala detail remeh temeh yang bagi banyak orang dianggap tidak penting. Seperti saat Asakusa ngotot detail posisi matahari dalam background art harus sesuai dengan pukul berapa adegan tersebut berlangsung.

Sedangkan Tsubame memiliki passion terhadap gerakan realistik dari tubuh manusia walaupun mayoritas pecinta anime mungkin tidak peduli terhadap detail teknis. Hal teknis seperti gerakan rambut karakter saat diterpa angin atau ekspresi otot wajah seseorang saat berbicara bagi Tsubame sama pentingnya dengan adegan laga yang lebih ditunggu-tunggu penonton.

Tentunya perihal visi sutradara dan animator nggak selalu diterima baik oleh penonton karena terlalu teknis bisa dibilang adalah kisah karier dari sutradara Masaaki Yuasa sendiri. Terkenal akan animasinya yang eksperimental, nama Yuasa sebelum tiga tahun terakhir, cenderung hanya dikenal kalangan terbatas. Tentunya itu karena banyaknya anime Yuasa memiliki desain visual yang jauh dari konsepsi orang awam terkait art style anime.

Dalam wawancara di Japan Media Arts Festival Dortmund 2011, Yuasa mengaku selalu mendapat tekanan untuk membuat desain karakternya terlihat kawaii (cantik) dan jalan ceritanya mudah dicerna. Tekanan ini yang membuat Yuasa tetap harus bekerja serampangan sebagai animator di proyek anime lain bahkan saat dia sudah berhasil menyutradarai tiga serial anime.

Itulah mengapa Yuasa akhirnya memilih membentuk studionya sendiri, Science Saru bersama animator Eunyoung Choi. Walaupun awalnya hanyalah studio outsourcing untuk studio anime lebih besar, keberadaan studio ini berhasil membuat nama Yuasa masuk pasar arus utama. Serial seperti Devilman Crybaby atau film The Night is Short Walk on Girl bahkan berhasil mencatatkan kesuksesan secara komersial.

Bisa dibilang cerita Eizouken pararel dengan kisah dibentuknya Science Saru dan karier Yuasa sebagai animator. Lewat banyaknya penghargaan diterima Keep Your Hand Off Eizouken, kita diingatkan bahwa anime tidak perlu harus mengikuti tren untuk bisa menjadi sukses. Seperti Asakusa, Tsubame, dan Sayaka yang membentuk Eizouken hanya berdasarkan semangat muda untuk membuat anime, kadang yang diperlukan hanyalah kecintaan terhadap animasi.

Sumber gambar: YouTube Crunchyroll Collection

BACA JUGA Dibanding Kartun Jepang, Kartun Barat Jauh Lebih Mengasyikkan! dan tulisan Raynal Arrung Bua lainnya.

Baca Juga:  'Shaman King': Manga Underrated yang Saya Nantikan Animenya di Tahun Ini
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
11


Komentar

Comments are closed.